TIDAK SEMUA ANAK PANAH ITU UNTUK MEMBUNUH
Sebuah Ulasan Refleksi Pribadi Dari Buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, Dan Bapa Bangsa Papua Jilid I Yang Ditulis Oleh Markus Haluk

Tulisan ini merupakan sebuah ulasan Refleksi pribadi Dari Buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, Dan Bapa Bangsa Papua Jilid I Yang Ditulis Oleh Markus Haluk. Saya tidak bermaksud untuk merefleksikan seluruh isi buku ini tetapi sekadar mengambil sebuah kalimat sesuai judul di atas.
Di hutan ada banyak pohon tetapi ada pohon-pohon tertentu yang dianggap paling berharga. Di tanah Papua, ada banyak tokoh-tokoh pejuang hak masyarakat adat, tetapi TOM BEANAL tampil dengan kisahnya sendiri. Dalam ulasan refleksi ini, saya terpukau dengan satu kalimat “anak panah orang Amugmee tidak untuk membunuh”. Ketika membaca kalimat tersebut, Bapak Tom seperti mengajak saya untuk jalan-jalan di seputaran lembah dan gunung dimana dia dulu berkeliling, sambil merekam jejak kaki yang tidak akan terhapus oleh cerita cinta bagi tanah yang suci ini.
Hal ini sebenarnya mengungkapkan banyak makna jika direfleksikan oleh masing-masing orang. Kalimat tersebut terdengar mungkin subjektif semata, tetapi mari kita gunakan teropong refleksi pengalaman seorang TOM BEANAL. Dia menginginkan kesejahteraan hidup bagi masyarakatnya dengan mengusahakan agar masyarakatnya juga tumbuh dan berkembang seperti suku-suku kekerabatan lainnya yang mampu bersaing dengan sehat. Bagi Bapak TOM sebuah dinamika hidup yang baik ialah berjuang hanya dan untuk banyak orang.
Anak panah memiliki beberapa kegunaan seperti untuk berburu, melindungi diri, bahkan untuk berperang. Anak Panah sebenarnya bukan hanya itu, anak panah sebenarnya memiliki sebuah nilai moral lain ialah bahwa pada orang yang menggunakan anak panah itu. Anak panah berguna baik jika orang yang menggunakannya demi untuk menghidupi dirinya dan juga menghidupi keluarganya bahkan suku dimana dia berasal.
Anak panah tidak digunakan untuk mengucilkan orang lain. Apalagi mengucilkan suku lain. Anak panah harus diberi tata laku pada proses hidup manusia menuju pada kebaikan. Di jaman sekarang, banyak orang keliru dalam penggunaan anak panah. Ada yang menggunakan anak panah untuk mengucilkan orang, ada yang menggunakan anak panah untuk menghukum orang lain, ada juga yang menggunakan anak panah untuk pamer ego semata di media sosial, ada yang bahkan menggunakan anak panah untuk memburu bahkan melenyapkan keluarga sendiri.
Refleksi saya
Melalui kalimat anak Panah di atas, apakah anak panah yang baik untuk kita saat ini? Apakah kita perlu mengangkat anak panah fisik itu untuk berperang? Jawabannya tidaklah selalu. Dalam refleksi saya, anak panah yang kita perlukan sekarang ialah anak panah pendidikan. Anak panah pikiran kita harus tajam bukan untuk membunuh karakter kita atau juga orang lain, tetapi tajam untuk mampu menganalisis kejadian-kejadian di atas tanah ini. Anak panah pendidikan di atas tanah Papua harus diperbaiki, diasah demi sebuah kesejahteraan hidup yang fundamental, bukan untuk menghasut dan memprovokasi sesama sehingga perselisihan antar marga, antar kampung, antar suku terus terjadi di atas tanah ini. Anak panah itu itu harus diletakan di depan tapal-tapal batas hak ulayat untuk menjaga kemungkina-kemungkinan musuh yang berevolusi dalam tameng-tameng kejahatan.
Anak panah itu juga harus diberikan kepada anak-anak kecil-hingga dewasa di atas negeri ini. Anak panah kita tidak boleh tumpul atau karat, sehingga kita mampu untuk memanah binatang-binatang liar yang menggerogoti kebun, mengobrak-abrik halaman rumah kita. Setiap orang harus dipersenjatai dengan anak panah itu. Tidak baik jika kita membiarkan anak panah kita tumpul. Anak panah itu harus diisi sebanyak-banyaknya dalam tempatnya yakni dalam pikiran dan dalam hati kita.
Maka kembali lagi ke judul di atas “tidak semua anak panah itu membunuh”. Terkadang ketika kita melakukan demo, menyampaikan aspirasi masyarakat, menyampaikan keluh kesah kita, pemegang kekuasaan biasanya takut lalu membungkam suara kita dengan tameng-tameng ego yang sengaja untuk menghadang anak panah kita ini. Maka itu, mari kita pertajam anak panah pikiran dan perasaan kita lewat pendidikan. Sebab melalui pendidikan yang baik kita mampu untuk menjadikan anak panah kita tajam dan mampu berdiri di menjunjung tinggi Salib Putih tanda perdamaian itu.
Oleh sebab itu, tidak semua anak panah itu untuk membunuh, tetapi ada yang menjadikan kita mampu membawa kebahagiaan dan kehidupan bagi banyak orang. Tidak semua pikiran kirtis itu jahat, tetapi ada pikiran kritis yang membawa peradaban bangsa ini. Jika anak panah tumpul kita akan dibinasakan dalam rumah kita. Tetapi jika kita asah terus anak panah pendidikan kita, percayalah suatu saat anak panah itu akan menembus hati banyak orang untuk menciptakan damai dan keadilan di atas tanah Papua yang kita cintai bersama ini.
PENULIS: FR. AGUSTINUS SARKOL




