Majalah Gaiya

SETIAP KITA DIPANGGIL MENJADI PELAKU FIRMAN YANG HIDUP DI ZAMAN MODREN INI

Oleh: Fr. Yuven Migani Belau

Refleksi ini berangkat dari “Setiap Kita Dipanggil Menjadi Pelaku Firman Yang Hidup Di Zaman Modren Ini”, berdasarkan Injil Matius (lih Mat 7:24-27); Yesus menggambarkan orang yang melaksanakan Firman-Nya sebagai orang bijaksana yang membangun rumah di atas batu yang kokoh, sebuah gambaran dari kehidupan yang teguh dan terarah karena hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, Di tengah situasi dunia yang sering kali terjebak dalam individualisme, konsumerisme, dan ketidakadilan, kita dipanggil menjadi pelaku Firman yang semakin relevan. Kita semua diajak untuk melawan budaya yang tidak sejalan dengan ajaran Kristus dan untuk menampilkan kasih Allah dalam tindakan nyata, yang sering kali mengedepankan kepentingan diri sendiri, Tuhan Allah melalui Injil-Nya memanggil kita semua untuk menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah, seperti kasih, kesederhanaan, dan solidaritas.

Setiap orang yang percaya kepada Kristus dipanggil untuk hidup sesuai dengan ajaran-Nya, membawa Injil Suci dalam setiap aspek kehidupan, dan menjadi saksi kasih-Nya di dunia ini. Ini adalah panggilan yang memanggil setiap orang untuk hidup dalam kesetiaan dan komitmen terhadap kehendak Allah, dengan mewujudkan Injil-Nya dalam setiap perbuatan. Oleh karena itu, setiap kita dipanggil untuk mewartakan sukacita Injil-Nya dengan setia dalam hidup. Panggilan menjadi Pelaku Firman memiliki tiga aspek penting yang dilihat dalam tulisan reflekasi ini yaitu: Persekutuan, Partisipasi dan Misi-Nya, ketiga aspek ini, merupakan bagian terpenting dalam mewartakan misi-Nya sebagai pelaku sukacita Injil, dalam hidup bersama sebagai anggota Gereja Kristus yang satu.

Membina Persekutuan Hidup Bersama

Indahnya hidup bersama sebagai satu keluarga Allah dalam hidup ini, dan pentingnya persaudaraan universal dan solidaritas dalam membangun persekutuan hidup bersama! Oleh karena itu, setiap kita dipanggil untuk membangun relasi bersama-Nya; dengan menjaga tali persekutuan dalam kasih-Nya yang dipersatukan dalam Gereja melalui pembaptisan. Pembaptisan dalam Gereja mempersatukan setiap manusia dengan diri-Nya dan dipanggil menjadi keluarga kudus-Nya. Melalui pembaptisaan setiap manusia dipanggil serta dipersatukan dan diutus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia.

Perutusan adalah untuk menjadikan semua bangsa menjadi Murid-Nya, sebagaimana ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti bahwa: “Di dunia ini kita dipanggil untuk membangun satu persekutuan yang lebih besar, di mana setiap orang merasa terlibat dan dihargai sebagai bagian dari satu keluarga” (FT. 97), maka perlunya mengatasi perbedaan dan membangun solidaritas, di mana setiap individu, dari berbagai latar belakang dapat hidup bersama dengan penuh pengertian dan kasih yang tulus.

Persekutuan hidup panggilan akan nampak ketika manusia hidup saling menghargai dan menjaga kehidupan bersama dengan harmonis. Kesatuaan Kristus menghantar kita pada kehidupan sejati, karena Yesus Kristus selalu dapat membantu kita. Entah dengan cara apapun itu kita dipanggil untuk hidup sebagai satu keluarga kudus-Nya. Persatuaan itu harus dijaga berdasarkan pada nilai kasih karunia Kristus yang mempersatukan kita dengan tulus hati saling membantu. Maka itu, melalui Surat Paulus kepada jemaat di Efesus menegaskan bahwa kita semua adalah “Satu Tuhan, satu iman dan satu pembaptisan” (Ef.4:5). Perikop ini mengajak kita semua untuk saling menghargai dan menghormati sebagai satu anggota keluarga Gereja yang dipersatukan kita melalui kasih karunia Roh Kudus sejati. Setiap kita dipanggil untuk hidup sebagai saudara dan saudari dalam membangun keluarga Kudus Kristus sejati. Melalui Kristus setiap manusia dipanggil untuk mewartakan nilai sukacita kasih persaudaran dengan penuh bijaksana dan rendah hati.

Konteks situasi panggilan ini adalah Allah mau supaya setiap manusia dapat saling menjaga, melindungi dan membangun hubungan ikatan cinta kasih-Nya dalam membangun persekutuan anggota tubuh Gereja. Dengan menjaga dan mengikuti nasehat-nasehat dan nilai-nilai Injil sebagai suatu pedoman yang mengarahkan pribadi manusia. Panggilan setiap manusia mengajak untuk membangun sebuah komunitas yang penuh kasih dan perhatian, di mana setiap orang bisa saling mendukung dan membangun. Hal ini Paus Fransiskus melalui ensiklik Evangelii Gaudium menegaskan bahwa pentingnya: “Kehidupan bersama di dalam Gereja mengundang kita untuk membangun sebuah persekutuan yang penuh kasih, yang membebaskan orang dari keterasingan dan kesendirian” (EG 87).

Pesan Paus Fransiskus diatas menekankan bahwa misi Gereja tidak hanya dalam pengajaran dan pelayanan, tetapi juga dalam memperdalam hubungan antar sesama, membangun sebuah komunitas yang hidup dalam kasih dan saling melayani. Artinya bahwa kita semua dipanggil menjadi Pelaku Firman yang hidup untuk dapat mewartakan kabar sukacita itu dengan penuh rendah hati dan turut serta mengambil bagian dalam mewartakan Injil dalam hidup bersama dan terus bertanggungjawab atas cinta kasih yang menyantukan hati dan pikiran setiap manusia ditengah-tengah situasi dunia zaman modern ini.

Berpartisipasi Dalam Mewartakan Injil

Setiap manusia adalah Pelaku Firman yang hidup, dan setiap orang dipanggil serta diajak untuk memiliki berjiwa yang bermisioner terhadap perkembangan iman umat dalam menjalankan Misi Allah dalam hidup zaman ini. Pelaku Firman adalah mereka yang mewartakan kabar sukacita ditengah-tengah situasi kehidupan manusia berdasakran panggilannya sebagai pelaku Firman. Dalam konteks ini Yohanes Paulus II melalui ensiklik Redemptoris Missio menegaskan bahwa: “Pewartaan Injil adalah inti dari misi Gereja dan tanggung jawab setiap anggota Gereja. Setiap orang Kristen memiliki peran dalam membawa kabar baik itu kepada dunia” (RM 2), dengan penuh setia dan bijaksana.

Kesetiaan akan nampak ketika setiap orang dengan tekun dan bertanggung jawab dapat mewartakan kabar gembira itu sebagai suatu landasan iman yang memiliki inspirasi khusus. Dalam mewartakan kabar gembira, perlunya memerlukan sikap yang penuh rendah hati dan tulus. Ketulusan hati mengarah pada kehidupan iman dalam hidup sehari-hari, dan selalu memberikan diri secara sepenuhnya melalui karya pelayanan. Pelayanan dan kehadiran ditengah-tengah bersama menjadi pelaku Firman yang dapat berpartisipasi diri sepenuh dan dapat membawa kehidupan baru dalam segala situasi hidup manusia. Hal ini ditekan dalam Konsili Vatikan II melalui Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di dunia dewasa ini: “Menyatakan bahwa Gereja dipanggil untuk hidup dan bekerja di dunia ini, serta berpartisipasi dalam karya penyelamatan dengan mewartakan Injil kepada seluruh umat manusia” (GS 1), serta peran Gereja dalam dunia modern, termasuk partisipasi umat Allah dalam mewartakan Injil.

Tujuan atas panggilan dan perutusan mansia di zaman ini adalah panggilan untuk ikut berpartisipasi dalam mewartakan Injil-Nya. Injil merupakan sumber kedamaian dan keadilan yang memiliki sumber kasih dan sukacita sebagaimana ditekankan dalam Injil Yohanes bahwa: “Yesus berkata lagi kepada mereka: ‘Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (lih. Yoh 20:21), melalui dasar biblis ini Yesus memanggil dan mengutus setiap manusia untuk dapat meneruskan misi-Nya di dunia ini, yaitu mewartakan Injil sebagai sumber kehidupan dan keselamatan setiap manusia. Artinya bahwa keterlibatan kita menjadi faktor utama dalam membangun kehidupan baru serta membawah perubahan bagi sesama sebagai pelaku Firman-Nya dalam segala situasi hidup dengan penuh sukacita.

Sukacita menjadi dasar yang memberikan kehidupan dan semangat baru bagi sesama yang merindukan kedamaian dan keadilan dalam segala penderitaan itu; Injil menjadi sumber utama dan dasar penghiburan bagi setiap pribadi manusia untuk merasakan kasih-Nya dalam diri melalui campur tangan pelaku Firman atau orang lain. Panggilan untuk berpartisipasi dalam mewartakan Injil, lebih jauh ditekanankan dalam Injil Markus bahwa: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (lih.16:15). Pesan Injil ini merupakan suatu kewajiban setiap orang untuk menyebarkan pesan Injil kepada seluruh umat manusia, untuk membangun suatu persekutuan yang berlandasakan pada nilai sukacita kasih Injil sebagai sumber keselamatan. Keselamatan dan kehidupan akan hidup ketika disertai dan dijiwai oleh Sabda Allah sebagai sumber utama dalam membangun hidup iman sebagai satu keluarga Allah, dan merasakan serta membagikan sukacita kasih kepada semua orang; agar sukacita Injil dapat membumi dalam hidup bersama sebagai satu persekutuan-Nya.

Pengharapan iman akan dibentuk, diolah secara mendalam dan mengikuti nasehat Injil melalui bantuan sesama yang lain. Supaya Pengharapan iman akan membuahkan serta menghasilkan buah-buah kebaikan dalam kehidupan secara penuh. Buah-buah kehidupan akan hidup ketika dipenuhi oleh kasih karunia Allah dan membawa harapan baru melalui partisipasi bekerjasama akan dibentuk oleh Roh Kudus. Injil akan hidup dan berkembang bersama-sesama, ketika manusia dianugerahi oleh Roh sumber pemberi kehidupan. Menjadi Pelaku Firman adalah siap dipanggil dan diutus serta dibentuk oleh Roh Kudus untuk mewartakan Injil sukacita kasih-Nya ditengah-tengah situasi hidup umat-Nya.

Mewartakan Misi-Nya Dengan Sukacita

Panggilan setiap orang dipanggil untuk mewartakan sukacita Injil itu kepada siapa saja dengan penuh sungguh-sungguh sebagai suatu anugerah. Pergilah dan wartakan Misi Allah itu dengan penuh tulus. Ketulusan dan kebaikan hati membawa perubahan diri dan memberikan sukacita kasih melalui pelayanan adalah suatu harapan untuk mewartakan dan memberikan kasih karunia secara utuh. Mewartakan Misi-Nya merupakan suatu panggilan yang mulia, karena kita semua dipanggilan untuk membangun kerjasama dan bersukacita bersama dalam mewartakan Misi-Nya dengan penuh randah hati.

Dalam konteks ini, Paus Fransiskus melalui Evangelii Gaudium menekankan bahwa, perlunya “Evangelisasi yang sejati, yang keluar dari hati yang penuh sukacita, dapat menyentuh hati orang lain dan mengubah hidup mereka” (EG 10), dalam kehidupan sehari-harinya. Artinya bahwa pentingnya kerapian dalam mewartakan Injil dengan sukacita yang tulus, bukan hanya sebagai tugas, tetapi sebagai bagian dari kehidupan iman yang penuh cinta kasih. Sukacita kasih dapat mewartakan Injil karena didorong oleh kasih karunia Roh Kudus. Roh Kudus menjadi terang dan cahaya yang mengarahkannya untuk dapat mewartakan kabar sukacita itu dalam hidup bersama. Sebagaiaman di tekankan juga dalam Konsili Vatikan II melalui Gaudium et spes bahwa setiap manusia “Tidak hanya dipanggil untuk menerima rahmat, tetapi juga untuk bekerja sama dalam pembangunan dunia ini sesuai dengan rencana Allah yang kekal. Ia dipanggil untuk menjadi pelaku firman-Nya dalam berbagai bentuk tindakan kasih dan keadilan” (GS 43). Pesan ini merupakan suatu ajakan bagi kita untuk dapat mewartakan kabar gembira serta ikut terlibat secara langsung aktif dalam hidup bersama, tambah mengabaikan kepentingan pribadi yang berlandaskan pada kasih Allah.

Oleh karena itu, setiap orang, tanpa terkecuali, dipanggil untuk menghidupi firman tersebut dalam tindakan nyata, terutama dalam membangun hubungan sosial dan moral dalam menjalankan Misi-Nya. Mewartkan Misi-Nya berarti perlunya keterlibatan diri secara penuh dan total, berdasarkan komitmen dan niat yang tulus sebagai dasar dan harapannya untuk dapat mewartakan Injil sebagai sumber keadilan dan keadamain yang bersumber pada nilai belaskasih-Nya. Nilai sumber belaskasih dan kedamaian itu akan tumbuh dan berkembang subur serta dapat membumi dalam kehidupan manusia ketika pelaku Firman dapat mewartakannya dengan penuh rendah hati dan bijaksana. Maka itu, hendaknya kita terus berjuang bersama dalam susa maupun senang perlunya memberikan diri secara utuh dan total kepada Allah agar kita dibentuk oleh Roh Kudus dalam karya dan pewartaan Misi-Nya dengan penuh rendah hati. Komitmen diri merupakan sesuatu yang berharga dalam hidup sebagai pelaku Firman-Nya.

Pelaku Friman akan hidup dan terus berjalan, berdasarkan pada komitmen dirinya untuk dapat menjalankan karyanya Misi-Nya serta dapat menemukan nilai-nilai cinta kasih dalam hidup bersama sebagai satu anggota keluarga Kristus yang disatukan dalam diri-Nya. Injil akan hidup ketika bersama-sama berjuang untuk menghadirkan sukacita Injil ditengah-tengah situasi kehidupan bersama secara tulus-ikhlas dan bijaksana dapat mewartakan Injil; sebagaiaman Yesus sendiri memberikan amanat dan mengutus kita semua untuk: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (lih. Mat 28:19-20). Pesan Yesus ini merupakan suatu perintah kepada kita semua untuk mewartakan Injil dengan sukacita, karena Misi ini adalah panggilan untuk menyebarkan pesan keselamatan dan kasih Allah kepada seluruh dunia.

Kesimpulan

Akhir dari Refleksi ini, Paus Fransiskus melalui Evangelii Gaudium menekankan bahwa setiap orang yang mendengar firman Tuhan dipanggil untuk menjadi pelaku kasih-Nya yang nyata, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam tindakan sosial, dengan tujuan membawa kebaikan dan keadilan ke dalam dunia ini, (EG 179). Artinya bahwa, setiap kita dipanggil untuk ikut terlibat secara langsung sebagai Pelaku Firman yang hidup bagi sesama, terutama bagi keluarga yang menderita dan merindukan kasih-Nya, dilingkungan masyarakat, serta di komunitas-komunitas yang membutuhkan kehadiran dan keterlibatan setiap kita untuk menguatkan dan membangun persaudaraan cinta kasih Kristus.

Untuk konteks yang lebih mendalam pesan-pesan diatas, memberikan banyak refleksi mengenai bagaimana hidup sebagai pelaku firman dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan mendorong semua untuk ikut terlibat aktif dalam membangun dunia yang lebih manusiawi dan berkeadilan dalam tubuh Gereja. Gereja sebagai Tubuh Kristus dan bagaimana setiap anggota dipanggil untuk membangun hidup bersama yang didasari oleh kesatuan dalam iman. Pesan diatas lebih lanjut ditegaskan melalui Konsili Vatikan II, dalam Lumen Gentium tentang Gereja bahwa pentingnya: “Gereja, yang adalah tubuh Kristus, di dalamnya setiap orang menemukan tempatnya dan berpartisipasi dalam persekutuan yang menghubungkan semua orang dengan Tuhan” (LG 1), dan berpartisipasi dalam kehidupan ilahi dan saling menguatkan dalam kasih Kristus.

Keuskupan Timika
Author: Keuskupan Timika

Official WEB Keuskupan Timika di kelola oleh Komisi Komunikasi Sosial

Keuskupan Timika

Official WEB Keuskupan Timika di kelola oleh Komisi Komunikasi Sosial

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button