NOBAR DAN DISKUSI FILM PESTA BABI DI UNIKA FAJAR TIMUR PAPUA: MAHASISWA DIAJAK KRITIS MELIHAT REALITAS PAPUA
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Universitas Katolik Fajar Timur Papua (UNIKA Fajar Timur Papua) menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi pada Rabu (20/5/2026). Kegiatan yang disponsori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tersebut berlangsung di Aula St. Yoseph, Seminari Tinggi Interdiosesan Regio Papua, mulai pukul 08.30 WIB hingga 11.00 WIB.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dosen, karyawan/i, mahasiswa, Orang Muda Katolik (OMK) Dekenat Jayapura, serta mahasiswa dari STFT GKI I.S. Kijne Jayapura. Suasana nobar berlangsung hangat dan penuh refleksi, diiringi hujan rintik-rintik yang semakin menambah nuansa haru selama pemutaran film.
Puluhan peserta menyaksikan film dengan serius dan penuh perhatian. Bahkan beberapa peserta tampak meneteskan air mata saat menyimak berbagai realitas sosial dan kemanusiaan yang ditampilkan dalam film tersebut.
Sebelum pemutaran film dimulai, Ketua Program Studi Filsafat dan Teologi UNIKA Fajar Timur Papua memberikan pengantar mengenai kompleksitas persoalan Papua.
“Masalah Papua tidak hanya soal ekonomi. Ada persoalan penembakan, pengungsian, perampasan tanah adat, kekerasan, hingga saling curiga antara Papua dan Jakarta. Mari menonton dengan baik supaya kita semakin sadar dan kritis melihat realitas yang terjadi,” ungkapnya.
Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing dan diskusi. Para peserta menyampaikan refleksi kritis terkait isi film yang menggambarkan perjuangan masyarakat adat Papua dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, budaya, lingkungan, dan kemanusiaan.
Mahasiswa tingkat pertama menyoroti simbol salib merah dalam film sebagai lambang pengorbanan dan perlawanan masyarakat adat untuk menjaga tanah dan alam yang mereka yakini sebagai wajah Allah. Mereka menilai nilai-nilai adat dan kehidupan masyarakat perlahan tergerus oleh berbagai kepentingan ekonomi dan kekuasaan.
Peserta dari tingkat lainnya menilai film tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat adat merasa terasing di tanahnya sendiri akibat eksploitasi sumber daya alam dan berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada orang asli Papua.
Mahasiswa dari STFT GKI I.S. Kijne dalam tanggapannya menyampaikan bahwa film tersebut membuka kesadaran tentang relasi antara kekuasaan, kapitalisme, dan penderitaan masyarakat adat Papua.
“Negara dan kapitalisme bekerja bersama. Saat ini bukan hanya tanah adat yang terancam, tetapi juga kehidupan masyarakat Papua melalui berbagai operasi militer dan eksploitasi sumber daya alam,” ungkap salah satu peserta.
Sementara itu, perwakilan SKP Paroki Abe menilai film Pesta Babi menggambarkan bentuk kolonialisme modern di Papua, khususnya di wilayah Merauke. Menurutnya, film tersebut menunjukkan adanya ancaman terhadap budaya, tanah adat, dan kehidupan masyarakat lokal akibat proyek-proyek pembangunan berskala besar.
Dalam sesi refleksi penutup, Bapak Abdon mengajak peserta untuk tetap kritis dalam membaca fakta sosial dan ideologi di balik berbagai persoalan yang terjadi di Papua.
“Film ini mengganggu cara berpikir kita dan mengajak kita bertanya: semua ini sebenarnya untuk kepentingan siapa? Kerusakan lingkungan adalah fakta yang nyata. Kita dipanggil untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian di tanah Papua,” ujarnya.
Ia juga membandingkan nuansa film tersebut dengan film The Passion of the Christ, karena sama-sama menggambarkan penderitaan, pengorbanan, dan perjuangan demi kehidupan.
Seluruh rangkaian kegiatan diawali dan diakhiri dengan doa bersama. Sebelum penutupan, mahasiswa dan dosen menyatakan sikap bersama bahwa Papua bukan tanah kosong dan menyerukan agar ciptaan Allah tidak dirusak secara brutal demi kepentingan tertentu.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi kritis bagi mahasiswa dan kaum muda Gereja untuk semakin peka terhadap persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, dan perdamaian di Tanah Papua. *** FR. ZEBEDEUS MOTE




