RELI ROSARIO PAROKI ST. MARIA DIANGKAT KE SURGA BIAK: HUJAN REDA, IMAN TEGUH
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Ratusan umat Katolik Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga Biak larut dalam suasana penuh khidmat saat mengikuti Reli Rosario dan perarakan Patung Bunda Maria pada penutupan Bulan Maria, Minggu (31/5/2026). Sejak pukul 17.00 WIT, halaman gereja dipenuhi umat dari enam wilayah paroki, bersama THS-THM, Orang Muda Katolik (OMK), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), serta anak-anak SEKAMI yang turut ambil bagian dalam devosi kepada Bunda Maria.
Cuaca mendung sempat menimbulkan kekhawatiran, bahkan hujan turun sesaat sebelum ibadat dimulai. Namun tanda yang meneguhkan iman terjadi: ketika Pastor Paroki membuka ibadat dengan tanda salib, hujan mendadak berhenti dan langit kembali bersahabat. Prosesi pun berjalan lancar hingga selesai pukul 19.00 WIT, ditutup di bawah cahaya rembulan yang memberi rasa lega bagi umat setelah berarak bersama.
Rangkaian acara diawali dengan Ibadat Sabda dan doa bersama, lalu dilanjutkan dengan perarakan Patung Bunda Maria sambil mendaraskan doa Rosario mengelilingi ruas Jalan Yos Sudarso dan kembali ke gereja. Umat membawa panji-panji wilayah, kombas, serta atribut kategorial sebagai tanda hormat kepada Bunda Maria.
Dalam homili, Pastor Paroki Sebastianus Ture Liwu, Pr. menegaskan nubuat Nabi Yesaya: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel” (Yesaya 7:14). Nubuatan itu menjadi nyata dalam diri Maria, ibu Yesus. Pastor menjelaskan bahwa Reli Rosario adalah tradisi Gereja Katolik Roma untuk mengungkapkan syukur dan hormat kepada Maria.

Bacaan Injil tentang perkawinan di Kana (Yohanes 2:1-11) mengingatkan umat bahwa Maria peduli pada anak-anaknya dan tidak membiarkan mereka menanggung kesulitan hidup sendiri. “Apa pun yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah!” (Yohanes 2:5). Pastor menekankan, doa umat melalui Maria selalu sampai kepada Yesus, seperti asap kemenyan yang naik bersama doa para kudus ke hadapan Allah (Wahyu 8:4).
Ia menambahkan, penutupan Bulan Maria dengan Reli Rosario ini baru pertama kali dilakukan di Biak. “Melalui Reli Rosario, umat berjalan bersama sambil mendaraskan doa Rosario dan mengarak Patung Bunda Maria sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Gereja,” ujarnya. Pastor juga mengingatkan teladan Maria yang setelah menerima kabar sukacita dari Malaikat Gabriel segera mengunjungi Elisabet (Lukas 1:39-45). “Maria tidak menyimpan rahmat itu untuk dirinya sendiri, tetapi membawanya kepada orang lain. Itu menjadi teladan bagi kita untuk membawa damai dan sukacita kepada sesama,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Paroki Santa Maria Biak, Engelbertus Matanubun, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghormati Bunda Maria dan memperkuat devosi umat. “Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Mei dan Oktober, bulan Rosario, di mana umat Katolik secara khusus mendaraskan doa Rosario sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria,” jelasnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin, melibatkan seluruh umat paroki.
Dengan penuh sukacita, umat Paroki Santa Maria Biak menutup Bulan Maria tahun ini dengan keyakinan bahwa doa melalui Bunda Maria semakin meneguhkan iman, mempererat persaudaraan, serta mengajarkan umat untuk membawa damai, kasih, dan sukacita kepada sesama. ***SANG MUSAFIR






