Kita semua dipanggil untuk menghayati hidup kita dengan kasih, dan memberikan kesaksian melalui setiap pengalaman hidup sehari-hari kita. Misi berarti berdoa dan berusaha untuk menemukan apa yang menjadi kehendak Allah bagi setiap diri kita dalam hidup ini. Dan kita semua dipanggil untuk menyelaraskan diri kita dengan kehendak-Nya. Panggilan dan perutusan kita adalah menjadi baik dan bijaksana dalam bertutur kata, sikap dan perbuatan kita kepada sesama dengan memberikan senyuman yang tulus, menyapa, memberikan perhatian, berpikir yang positif, terbuka, bersabar, berbelas kasih, menolong dan bersukacita dan bergembira bersama (Gaudette et Exsultate) dalam hidup pada zaman ini.
Panggilan menjadi baik dalam kehidupan kita, karena selalu ada sukacita, sukacita dalam segala hal terutama dalam menjalani setiap kehidupan kita dengan bersyukur. Panggilan dalam Gereja sebagai sakramen keselamatan menegaskan bahwa dirinya sebagai tanda dan sarana persatuan manusia dengan Allah dan dengan sesamanya (Bdk. LG 1). Gereja dipanggil untuk lebih sungguh-sungguh menghadirkan dan mewujudkan diri dalam segala upaya untuk mempersatukan dan merangkul semua umat manusia, serta diutus untuk membangun persaudaraan dan kerukunan sebagai anak-anak Allah (Bdk. LG 2). Artinya bahwa semua dipanggil melalui Gereja untuk membuka diri dan bekerja sama dengan semua yang berkendak baik. Bekerja sama dalam membangun nilai-nilai Injil dalam kesatuaan hidup bersama, dengan berjuang demi kesejahteran bersama dan melepaskan kepentingan pribadi (Bdk. GEE, 14), untuk melayani sesama. Itulah tujuan utama Misi-Nya di dunia ini.
Panggilan dan perutusan kita adalah untuk mewartakan Allah diperlukan manusia yang memiliki Allah, untuk memerintahkan orang lain membenci kejahatan perlu diri sendiri membenci kejahatan (Bdk. MI, 26). Dalam dokumen Misi pertama Maximum Illud yang ditulis oleh Paus Benediktus XV, memberikan tugas perutusan kepada setiap orang untuk pergi mewartakan misi di dunia dengan bijaksana. Perutusan kita merupakan perutusan untuk menjumpai sesama kita dan memberitakan sukacita Injil dan kabar baik yaitu kabar tentang kerajaan Allah yang hadir dalam diri Yesus Kristus sejati. Dalam konteks ini, Injil Matius lebih rinci menekankan bahwa pergilah: “Aku Menyertai Kamu Senantiasa Sampai Kepada Akhir Zaman” (lih. Mat 28:30). Pesan Injil ini merupakan suatu ajakan bagi setiap manusia sebagai pewarta kabar sukacita di dunia ini, dalam segala karya pelayanan dan pengalaman hidup yang penuh bermakna serta berdaya guna bagi sesamanya.
Bagaimana kita menjadi murid yang diutus di dunia ini?. Untuk menjawab pertanyaan ini merujuk pada Injil Lukas; dimana Yesus mengutus tujuh puluh murid: “Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungip-Nya” (lih. Luk 10:1). Pesan Injil ini, merupakan perutusan para murid-Nya untuk pergi menggembalakan domba-domba-Nya di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kejahatan dan ketidakadilan. Tujuan utama Yesus mengutus mereka adalah menghadirkan sukacita cita Injil, membawa kabar gembira dan sukacita kasih, membagikan kabar gembira, menyembuhkan orang sakit dan menderita, dan memberitakan kerajaan Allah sudah dekat serta mengajak mereka untuk membangun persaudaran dalam cinta kasih Ilahi.
Perutusan kita bersama adalah memperjuangkan perdamaian di dunia ini sebagaimana yang diajakan Gereja, demikianlah Allah mengutus Kristus sebagai juru selamat dunia (lih. Yoh 4:14). Dalam konteks ini, Paus Yohanes Paulus II melalui Redemptoris Missio menekankan bahwa: Roh mengatar kawanan orang-orang beriman membentuk suatu persekutuan menjadi Gereja (Bdk. RMi 26), sehingga kita diutus untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah (lih. Mrk 16:15), dan Kerajaan Allah diperuntukkan bagi semua orang dan semua bangsa (Bdk. RMi 14). Oleh karena itu, misi Allah Bapa (Missio Dei) disebut juga misi keselamatan, karena panggilan dan perutusan memiliki tugas kita bersama untuk mewartakan nilai Injil. Lebih lanjut di tegaskan pula dalam misi Gereja melalui dekrit Ad Gentes bahwa Gereja diutus oleh Kristus untuk menyingkapkan dan mengkomunikasikan kasih Allah kepada semua orang dan bangsa itulah tugas misioner dari Gereja (Bdk. AG 10). Artinya bahwa Gereja hadir untuk mewartakan dan menyatakan belas kasih Allah kepada semua orang (Bdk. Tebay 2015:81-83) ditengah-tengah dunia yang dipenuhi oleh ketidakadilan dan penindasan terus meningkat ini, itulah misi utama-Nya bagi kita semua.
Akhir dari tulisan ini, Allah mencintai dan memanggil kita semua untuk hidup rendah hati dalam hidup rohani, dan melepaskan diri dari sikap egoisme kita untuk membangun kesadaran hidup yang benar, sebagaimana Allah memanggil dan mengutus kita sebagai pelaku Firman yang hidup bagi diri dan sesama kita di dunia ini. Panggilan dan perutusan kita adalah menjadi saksi-Nya dan mewartakan nilai kebenaran, serta berpegang teguh pada ketetapan dan perintah Allah yaitu hidup benar, jujur, rendah hati, taat, penuh belas kasih, rela berkorban dan meningkatkan teladan hidup yang baik serta beriman kepada Allah dengan sungguh-sungguh untuk bersaksi demi menyatakan kemulian Allah di dunia ini, karena “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita” (lih. 1Kor 10:6) semua di zaman ini.




