BusinessGaya HidupJelajah PapuaMajalah GaiyaSantaiWarta Paroki

UNIVERSALIA : TANTANGAN PENGUNGSIAN KE YANG ILAHI

Pendahuluan

Orang kita tak berani berkata bahwa dia tak beragama. Orang kita tak berani berkata bahwa dia tak beriman. Beriman kepada Tuhan dan beragama adalah segi paling transparan dalam dinamika kehidupan orang Indonesia. Bahkan kita di Papua kerap berkata bahwa ini tanah diberkati. Bahwa tanah ini tidak menyisahkan ruang bagi ateisme (ketidakpercayaan pada keberadaan Tuhan) dan agonitisisme (pemutusan hubungan dengan urusan yang ilahi).

Kita senang label beriman dan beragama. Karena label, kerap ia hanyalah sebuah cap luar. Kita diperhadapkan dengan label kosong. Banyak orang beriman, tetapi penyakit sosial yakni tiadanya penghargaan terhadap kepentingan public dan penyakit pribadi tentang egoisme yang tuli dan buta pada penderitaan orang lain begitu terpampang jelas dalam statistic dan data. Namun data tentang korupsi, data tentang ketidakperdulian terhadap orang lain, ia hanya laporan rutin tahunan. Ia jarang menjadi sebuah refleksi sehari.

Apa sebabnya? Selain karena faktor keluarga, lingkungan dan tradisi, beragama dan beriman tak menjadi soal serius.

Tulisan ini hendak memperlihatkan bahwa beriman dan beragama itu soal serius. Keseriusan ini mau ditelusuri dari sebuah gagasan penting pada abad ke 11 dan 12. Gagasan itu adalah universalia atau konsep umum.  Mengapa gagasan ini? Konsep umum di dalam era skolastik awal ini, tak dipikirkan di luar atau tanpa Tuhan. Karena itu, hal ini dilihat sebagaijejak yang ilahi. Tulisan ini hendak menyajikannya sebagai jalan untuk berjumpa dengan Tuhan. Di jalan ini, kita diperlihatkan lika-likunya yang menantang.

Tulisan ini  akan dimulai dnegan  anjangsana dalam gagasan para pemikir abad pertengahan. Sebagai demikian, tulisan ini hanya merupakan sebuah ulasan umum saja. Dari ulasan umum tentang konsep umum, kita akan masuk ke dalam analisa tentang konsep umum. Dari analisa tentang konsep umum itu, kita masuk ke dalam tantangan berpikir. Dari tantang berpikir yang menjadi kesulitan dewasa ini, kita diperhadapkan dengan tantangan beriman dan bergama atau tepatnya berelasi dengan Tuhan. Dari tantangan ini, kita disediakan jalan menuju padaNya yang juga bukan jalan biasa dan gampang.

Maksud dari tulisan ini adalah menyediakan tantangan bagi kita di dalam dunia yang kerap menitipkan pemikirannya pada berbagai peralatan teknologi secara khusus teknologi digital. Juga, di sini mau ditegaskan bahwa Tuhan itu adalah sebuah perjumpaan lewat iman dan akal. Tuhan itu hanya ditemui dalam sebuah proses panjang, berliku, tak jelas tetapi sekaligus bermakna. Berikut ini akan diuraikan maksud ini secara khusus dari perspektif aktivitas kognitif sebagai jalan pada Yang ilahi.

 

Anjangsana dalam Konsep Umum

Pada abad ke 11, permulaan abad pertengahan,  perdebatan filsafati menyasar pada sebuah gagasan tentang apakah konsep umum (universalia) memiliki keberadaan.

Untuk mengertinya, kita perlu melihat sistematikanya di dalam pemikiran dari seorang filsuf. Menurut John Scotus Eriugena, yang ada ialah yang bersifat umum. Yang umum adalah yang paling nyata. Yang umum disebut alam.

Alam ini memiliki empat kategori. Alam yang menciptakan dan tak diciptakan. Alam yang menciptakan dan diciptakan. Alam yang tak menciptakan dan diciptakan. Alam yang tak menciptakan dan tak diciptakan. Yang pertama dan yang terakhir adalah Tuhan, dan yang kedua adalah idea, serta yang ketiga adalah hal-hal indrawi.

Persoalan kemudian adalah apakah yang umum itu memiliki keberadaan tesendiri? Dari sini muncul tiga pemecahan. Pertama, yang umum itu sesunggunya ada. Ini disebut dengan pandangan ultra realisme.  Di dalamnya ditegaskan bahwa pengertian umum itu ada. Yang konkrit hanyalah penjelmaan dari konsep umum ini. Konsep umum itulah yang paling nyata, meskipun penjelmaannya itu tidak ada. Pandangan ini sebenarnya sudah menjadi pemikiran Platon, filsuf, puncak era Yunani. Pada abad pertengahan awal, pandangan ini dipertahankan oleh William dari Champeauex.

Pandangan ini juga disetujui oleh Anselmus dari Canterbury, bahwa konsep umum terdapat di dalam ide Allah. Darinya, ia memberikan dua alasan untuk menegaskan keberadaan Tuhan. Bahwa segala yang terbatas mengandaikan yang tak terbatas untuk berada. Lalu, yang lebih besar hanya bisa lebih besar jika yang terbesar tidak hanya berada di dalam pemikiran tetapi juga berada di dalam kenyataan agar ia menjadi yang terbesar.

Kedua, yang umum itu hanyalah nama saja atau nominalisme. Mengapa? Ketika berkaca pada kategori Aristoteles, yang dia sampaikan adalah kata-kata (voices) bukan benda (res). Kata-kata tidak secara otomatis berhubungan dengan benda. Pandangan ini ditegaskan oleh Roccelinus. Pandangan ini akan dianut kuat oleh William Ockham pada akhir abad pertengahan.

Yang ketiga, konsep umum itu adalah hakikat benda-benda konkrit. Ia tidak punya keberadaan sendiri, tetapi berada di dalam benda-benda itu sendiri. Konsep umum itu bukan benda (res) dan bukan pula kata-kata saja (voces). Ia adalah sifat yang ada pada benda itu sendiri. Ia semacam isi umum dari benda konkrit atau sermo. Dari pandangannya dibuat sebuah sistematika bahwa konsep umum itu ada sebelum benda (ante res), di dalam benda (in re) dan di dalam pemikiran (post rem). Pandangan ini ditekankan Abelardus dan diteruskan oleh Aquinas. Jadi konsep umum itu dipandang berada secara independen dari benda konkrit, nama dan terdapat di dalam benda konkrit.

Pandangan tentang konsep umum, kerap menjadi kritik yang lebih umum dan mendalam. Kritik ini muncul dalam kritik terhadap metafisika. Metafisika ditolak dalam perkembangan modern karena konsentrasi utama pada ilmu pengetahuan empiris dan logika. Di dalamnya dipersoalkan pengetahuan metafisis. Persoalan metafisis ini ditolak lebih dahsyat lagi di dalam positivisme dan filsafat analitis. Di dalamnya makna hanya diterima sepanjang dapat dibuktikan secara empiris dan dikalkulasi secara logis. Bahasa pun hanya berurusan dengan hal yang demikian. Pada hal yang melampaui, sebaiknya kita diam. Diam artinya bahasa kita yang rasional hanya berbicara tentang hal yang empiris. Hal yang melampaui tak bisa mengandalkan bahasa yang rasional saja. Ini tampak sebagai sebuah penolakan. Jika dipikirkan secara lebih mendalam, hal ini merupakan sebuah kritik yang membantu kita untuk berpikir lebih. Berpikir lebih artinya hal yang umum dan menyangkut yang transenden membutuhkan baik iman dan akal budi.

 

Konsep Umum dan Keharusan Berpikir

Mengapa orang berbicara tentang konsep umum? Gagasan dasar adalah bahwa kita berhadapan dengan perubahan. Jika segala berubah, tentu secara epistemologis ia akan bermasalah. Kita tak punya pegangan. Pegangan itu harus merupakan sebuah konsep yang menyeluruh dan mendalam agar ia dapat menjadi paradigma dalam membicarakan berbagai macam realitas konkrit. Secara eksistensial, jika segala sesuatu berubah, maka pada titik tertentu  ia akan tidak berada. Hal ini dapat kita kembalikan ke cara berpikir Herakleitos. Jika segala sesuatu berubah maka tak ada yang ada. Yang ada ialah perubahan itu sendiri. Dari segi antropologis, jika segala sesuatu berubah dan tak ada yang tetap, perubahan tak akan dikenali. Identitas akan mengalami perubahan. Persoalannya di dalam sudut pandang-sudut pandang demikian mengharuskan kita memiliki jaminan atau pegangan.

Pada tataran ini, tak bisa tidak kita perlu kembali ke cara berpikir dari Scotus Eriugena, bahwa ada yang umum yang tetap dan tak berubah, yang menjadi asal dan tujuan dari segala sesuatu adalah Tuhan.

Dari pembahasan tentang Tuhan yang tetap dan tak berubah ini, kita dapat merasakan bahwa substansi pembahasan adalah persoalan yang abstrak. Keabstrakan membutuhkan sebuah pemikiran. Setelah kita berpikir secara mendalam dan mendapat gagasan tentang Tuhan sebagai yang umum, yang menjelma dan yang menjadi arah kehidupan alam semesta ini, kita memiliki sebuah pegangan positif tentang siapa Tuhan itu. Namun, Tuhan itu dalam kategori berpikir dari Eriugena, pada tataran konsep umum yang mencipta dan tak diciptakan, kita mendapatkan pandangan bahwa yang umum ini bersifat transenden. Ia melampaui pengenalan akal. Karena itu, harus ditegaskan secara negatif bahwa ia bukan ini dan bukan itu. Darinya kita digiring ke dalam wahyu dan iman. Kita menyerahkan diri ke dalam ketidaktahuan epistemis tetapi mengandung pengharapan ontologis.

Dari situ ada hal yang secara implisit diperlihatkan kepada kita. Kita perlu masuk ke dalam pemahaman tentang konsep umum dengan pemikiran atau berbagai pertimbangan rasional. Dari situ, kita perlahan naik ke kesadaran tentang keterbatasan akal. Akal yang terbatas hanya dimengerti jika akal dimanfaatkan. Setelah itu, keterbatasannya disadari dan keyakinan diteguhkan.

Konsep ini dapat melahirkan perdebatan tentang genealoginya. Artinya, asal usul penemuan tentang Tuhan berangkat dari iman terlebih dahulu atau berangkat dari akal terlebih dahulu. Banyak hal di dalam hidup menjelaskan kepada kita bahwa iman atau kepercayaan terhadap sesuatu tidak selalu terekpsresi secara eksplisit. Misalnya, jika saya masuk kelas, saya secara implisit percaya bahwa gedungnya masih  kuat. Pengandaian iman ini menjelaskan bahwa iman bisa berada terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan cara berpikir dari Anselmus dari Canterbury, credo ut intelligam, saya percaya untuk mengerti. Namun, apa yang implisit kerap tak disadari. Orang bisa mencermati alam semesta hingga tersentak pada keteraturannya yang luar biasa, lalu berkesimpulan bahwa keteraturan mengandaikan adanya desainer yang mengaturnya. Jadi, dua jalan itu merupakan sebuah kemungkinan.

Namun kemungkinan ini hanya bisa dimengerti lewat pemikiran atau permenungan. Persoalannya apa itu pemikiran dan apa itu permenungan. Berpikir adalah aktivitas mental untuk mengerti sesuatu atau aktivitas mental untuk menyingkap sesuatu di dalam pengertian tertentu (aletheia). Bermenung adalah aktivitas mental untuk mencerna dan mendalami sesuatu yang diperhadapkan kepada seseorang. Dalam urusan tentang Tuhan,  ia tak bisa saja hanya diakui dengan iman saja. Ia memerlukan pemikiran agar ia sampai kepada kesadaran. Ia juga membutuhkan pemikiran yang dengan bahasanya membuat kita dapat mendirikan ‘rumah kediaman Allah’. Ini yang membuat iman menjadi lebih integral, di dalamnya terdapat dimensi insani dan Ilahi. Di dalamnya terdapat pemikiran dan kepercayaan. Namun pada akhirnya pemikiran memiliki keterbatasan. Keterbatasan hanya terjadi kalau ia dimaksimalkan sehingga kenyataan minimalnya diketahui.

 

Tantangan Berpikir

Apa problem berpikir dewasa ini? Paling kurang ada empat fenomena yang perlu dicermati.  Pertama,  makin ke sini, makin terasa tantangan di dalam berpikir. Tantangan yang paling kuat adalah cara berpikir instan atau perlunya sebuah kecepatan. Contoh, di berbagai media sosial yang kami ikuti ada berbagai penawaran untuk menulis buku atau menulis jurnal dengan alat bantu digital. Alat bantu digital ini membuat orang dapat mengerjakan tulisan hanya dalam waktu satu atau dua jam. Ketika dibandingkan dalam proses penulisan secara analog, bukan digital, orang memerlukan waktu satu atau dua tahun untuk menyelesaikan penulisan buku. Satu atau dua bulan menyelesaikan penulisan jurnal. Dengan alat bantu digital yang dimanfaatkan secara bijaksana,  waktu ini dapat diperpendek. Hal ini disebabkan karena alat digital membantu orang  mendapatkan literatur secara cepat dan tepat. Ini tentu menghemat waktu. Kutipan dan referensi dapat diserahkan pada perangkat digital untuk menyelesaikannya. Di sini,  hal-hal lain seperti membaca, menganalisa dan menarasikan dapat dilakukan secara manual. Sayangnya, menggunakan secara bijak teknik digital kerap diabaikan karena kita disibukan oleh berbagai macam hal yang membuat kita tak punya waktu lagi.

Yang paling mendasar darinya adalah sebuah cara berpikir bahwa kecepatan adalah prestasi. Siapa yang lebih cepat dia yang lebih hebat. Padahal dalam berpikir, kematangannya tak bisa dikarbitkan. Ia membutuhkan waktu yang panjang. Waktu yang tak bisa ‘dipotong-kompas’ merupakan sebuah dasar kematangan. Kematangan menyediakan bagi kita bahwa hasil itu otoritatif. Orangnya sendiri merasa diri dan tahu bahwa hasil yang terpublikasi adalah hasil dari pemikirannya sendiri.

Kedua, tantangan lain di dalam berpikir adalah banyak orang tak lagi memiliki vita contemplativa. Hal ini tidak produktif dan dipandang sebagai sebuah kelemahan. Berpikir tak langsung memberikan hasil.  Karena itu, yang paling penting adalah  vita activa. Di dalam pemikiran Hannah Arent, vita activa merujuk pada tiga hal: kerja sebagai pekerja (labor), kerja sebagai karya produktif (work), kerja sebagai aksi (action). Namun harus diakui dengan 3,5 lima jam orang menghabiskan di dalam dunia digital untuk bermedia sosial,  salah satu kerja adalah ‘berleha-leha’ di dalamnya. Orang berselancar sesuai dengan kodrat produksi media sosial digital. Ia memproduksi sesuatu yang hanya dikonsumsi dua tiga menit. Lalu orang menghabiskan waktu untuk berselancar tanpa tujuan yang jelas. Ia berselancar dengan scrolling apa yang sesuai dengan keinginannya dengan pembacaan algoritma pada keinginan kita sehingga kita dikurung  dan disajikan pada keinginan kita.

Padahal, berpikir itu selalu mesti diperhadapkan dengan hal negatif, bukan hanya hal yang kita inginkan. Jika hanya hal yang kita inginkan kita akan membangun argumen yang hanya berdasarkan apa yang diinginkan. Ini merupakan konfirmasi bias. Kita membangun argumen pendukung atas apa yang kita inginkan. Ini membuat kita tak perduli pada pandangan yang lain.

Dari kenyataan ini kita bisa melihat bahwa kita kini makin tak punya waktu untuk berpikir. Lalu pemikiran kita hanyalah representasi dari keinginan. Ini akan membuat kita tak terbuka terhadap kebenaran. Karena itu, di dalam vita contemplative (2024) Byung Chul Han mengajukan gagasan bahwa ketidakaktifan adalah  sebuah kemampuan yang memungkinkan logika, bahasa dan keindahan. Ia bukan merupakan ciri dari sebuah kelemahan. Ketidakaktifan membuka ruang bagi kontemplasi, seni dan narasi. Jadi ketidakaktivan sebagai basis pemikiran bukanlah tanda kelemahan, meski dalam dunia dewasa ini kerap dipandang bahwa doing nothing adalah hal yang paling tak berguna. Akan tetapi, ketika berkaca pada pemikir besar, vita contemplative menjadi hal yang paling kentara. Di bawah ini saya sajikan dua contoh. Descartes, di dalam kesendirian di desa-desa kecil Belanda selama 20 tahun, ia berhasil menulis karya besar Meditations on the First Philosophy, (1641) yang menghasilkan adagium yang dari tahun 1600 masih terkenal hingga sekarang ini yakni cogito ergo sum. Kedua, dari hutan dengan pondok kecil Todtnauerberg, Jerman,  Heidegger menghasilkan tulisan terkenal Being and Time (1927), yang mana di pondok kecil itu, istrinya menjaga agar ia tak boleh diganggu oleh siapa saja. Kesendirian ini menempatkannya sebagai pemikir besar yang tetap dirujuk hingga abad 21 ini.

Ini adalah contoh-contoh dari dunia intelektual yang memperlihatkan korelasi antara kontemplasi dan pemikiran. Untuk sampai pada pemikiran yang lebih mendalam orang membutuhkan kesunyian. Namun, kesunyian untuk berjumpa dengan Tuhan harus menghantar orang melampaui pemikiran. Pemikiran yang dilampaui, hanya dimulai dengan memikirkan itu di dalam kesunyian. Ini mengandaikan kalau orang mau menjadi kstaria iman seperti ditegaskan oleh Kierkegaard. Ia di dalam karyanya Fear and Trembling (1843) menemukan tiga tahap eksistensial, mulai dari tahap estetis, etis hingga ke tahap teologis. Di tahap terakhir orang menyadari keterbatasan akal. Hal ini membuat orang harus berdiri sebagai kstaria iman. Artinya ketika terdapat ketidakberdayaan kesenangan, ketidakberdayaan norma dan aturan, orang harus tahu tempat dan letak dari fungsi dua tahap sebelumnya dan tak cocok untuk tahap lainnya. Di sini orang perlu menerima medan kemungkinan, yang di dalamnya orang perlu memasukinya dengan sebuah pengorbanan yang luar biasa seperti Abraham. Ia tahu membunuh anaknya itu tak etis. Namun ia tahu itu akan melawan kehendak Tuhan. Lalu mengapa kehendak Tuhan itu sedemikian take tis?  Di dua pertarungan maha dahsyat ini, ia masuk sebagai ksatria iman untuk membiarkan agar kehendak Tuhan yang diwujudkan. Darinya diperoleh sebuah kesadaran, pemahaman, pengalaman dan insight baru.

Ketiga, selain karena berpikir itu membutuhkan proses dan tak bisa diwujudkan secara instan dan berpikir kerap dipadang sebagai tidak produktif, berpikir itu rumit dan menantang. Ia menantang karena di kepala orang, kerap bermunculan berbagai hal dan berbagai gagasan. Orang harus focus pada sesuatu hal. Berfokus pada suatu hal membutuhkan konsistensi dan keterarahan pada satu hal. Lewat konsistensi dan focus, orang bisa secara kreatif mengembangkan dan meningkatkan kedalaman pemikirannya. Tantangan dalam berpikir sekarang adalah orang tak focus. Orang tak memiliki konsentrasi yang panjang. Orang terlalu mudah terganggu dengan hal-hal lain, yang membuatnya merasa harus menyibukan diri dengan sesuatu agar orang  merasa diri berada dan berarti. Di hadapan kesibukan orang kerap ditantang oleh pertanyaan dasar, apa arti semuanya ini? Di hadapan pertanyaan ini, orang ditantang untuk memikirkan kembali kesibukan. Ia harus mengambil jarak terhadap kesibukan. Di antara jarak itu, ia perlu merumuskan pemikiran. Di dalam pemikiran, orang perlu terus mendalaminya dan masuk lebih dalam lagi. Ini merupakan pekerjaan terberat di zaman ini. Orang perlu mengambil jarak terhadap kesibukan. Ini mengandaikan kemampuan orang untuk menata tujuan. Tujuan inilah yang membuat orang harus menetapkan dan menjaga focus. Menjaga focus berarti perlu kepekaan terhadap gangguannya yang disebabkan oleh aktivitas hari-hari yang menjeratnya di dalam kesibukan.

Keempat, berpikir itu bukanlah sebuah aktivitas instan yang langsung produktif. Ia adalah sebuah proses panjang, yang harus dipelajari,  dididik dan dilatih. Hal ini biasa terjadi di sekolah. Sekolah dewasa ini harus melatih orang untuk berpikir. Dahulu berpikir itu artinya berguru pada guru-guru terkenal. Dari guru terkenal lahirlah murid-murid terkenal. Lalu guru terkenal ini mendirikan sekolah-sekolah. Paling kurang dalam perkembangan sekolah pada permulaan abad pertengahan, terdapat tiga sekolah: biara, Gerja dan istana. Sekolah biara dimaksudkan agar para biarawan membaca dan menyalin naskah kuno agar tradisi intelektual tidak hilang. Sekolah Gereja dimaksudkan agar iman tidak terjebak di dalam fideisme tetapi dicerna dan disampaikan lewat pemikiran yang jelas. Sekolah istana dimaksudkan agar birokrat cakap membaca, menulis dan berhitung, agara mereka dapat menjalankan tugas public secara jelas dan terorganisasi dengan baik. Dalam kaitan dengan ini kita sudah melihat bagaimana Platon berkaca pada perjumpaan dengan kondisi dengan relativisme kebenaran yang membunuh orang bijak, ia menghentikan kondisi ini dengan mendirikan sekolah demi menghasilkan pemimpin yang mengerti kebaikan tertinggi bagi kepentingan public. Kepentingan public tak bisa lahir dari dialektika random yang terjadi di agora atau pasar.  Dari sekolah-sekolah ini orang dibimbing untuk berpikir logis, sistematis, koheren, metodis dan mendalam. Ini mengandaikan adanya kurikulum pendidikan dan metode pembelajaran dalam sebuah termin waktu tertentu. Ini berarti berpikir secara sistematis mengandaikan sebuah proses pembelajaran yang terstruktur dengan baik.

Sekolah dewasa ini,  dalam konteks Indonesia,  diperhadapkan dengan pentingnya ijazah. Kepentingan ini dibypass dengan berbagai praktek komersialisasi ijazah. Akibatnya nilai ijazah terdegradasi sedemikian dalam. Ijazah dalam arti tertentu menjadi tanda bahwa orang pernah bersekolah, bukan tanda bahwa orang sungguh belajar dan memikirkan sesuatu secara logis dan sistematis. Padahal dalam kenyataan hidup, pekerjaan tak hanya mengandalkan adanya selembar ijazah. Orang dewasa ini harus mengikuti berbagai test online agar skillnya dapat dibuktikan pada tataran awal. Gampangnya mendapatkan ijazah dan tuntutan skill dunia kerja, belum membuat orang bertobat dari praktek komersialisasi sekolah dan ijazah. Ini hanya menjelaskan sebuah kecenderungan bahwa berpikir itu random. Ia bukan merupakan sebuah usaha sistematis dalam sebuah dialektika yang panjang atau sebuah penelitian yang jelas, terukur, terbukti dan menghasilkan sebuah pemikiran yang orisinil.

Dari empat tantangan yang ditampilkan di atas, menjadi jelas berpikir secara konsisten, sistematis dan berkelanjutan merupakan hal yang tak mudah. Ketidakmudahan ini juga turut mempengaruhi bahwa memikirkan sebuah hal yang umum dan mendalam dan mendapatkan sebuah konsep universal yang bisa dipakai sebagai alat untuk memahami kenyataan secara cukup representatif menjadi hal yang langka.

Ini baru berurusan dengan sebuah konsep umum sebagai abstraksi dari realitas konkrit yang beragam dan berubah. Lalu bagaimana memikirkan Tuhan sebagai sebuah konsep umum yang memiliki keberadaan sendiri yang menjadi dasar keberadaan segala sesuatu, penyelenggara dan tujuan segala yang ada di dunia ini? Tentu ini merupakan sebuah tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Tak heran agama kerap berubah menjadi ritualisme, institusionalisme, dan identitas kelompok. Agama semakin jarang membuat orang dapat tertantang untuk masuk lebih dalam ke sebuah perjumpaan pribadi dengan yang transenden itu.

Ia menjadi sebuah kesulitan tersendiri jika, orang mau berkaca pada beberapa pengalaman dari orang-orang yang serius berjumpa dengan Tuhan. Pada beberapa orang yang serius dulu,  ini merupakan sebuah ‘malam gelap’. Misalnya, St Yohanes dari Salib, ia adalah seorang mistikus Spanyol yang menghadapi kenyataan bahwa Tuhan tiada, Tuhan meninggalkannya, dan darinya orang mengalami penderitaan batin yang luar biasa. Bahwa proses perjumpaan dengan Tuhan tidak selalu mulus. Ia kerap menyakitkan. Tak jarang orang berkata bahwa ia sudah berdoa secara terus menerus tetapi doanya tak dikabulkan. Namun untuk bertahan dalam kenyataan yang tampak tak bermakna tersebut membutuhkan sebuah sikap dan kedalaman lain.

Dari tantangan berpikir di atas, harus diakui juga satu hal ini. Tuhan tak bisa dijumpai secara cepat, langsung, produktif. Ia membutuhkan sebuah keyakinan, pemikiran, permenungan. Ia kerap tak menjanjikan hasil. Ia kerap harus dimaknai di dalam seluruh perjalanan sehingga orang dapat menemukan makna yang berguna bagi seluruh perjalanan hidupnya.

 

Jalan Menuju Yang Ilahi

Konsep umum—yang menyasar pada konsep transcendental yakni Tuhan sebagai ada umum yang memiliki keberadaan tersendiri, yang menjadi dasar dari segala konsep umum dan kenyataan dan tujuan hidup manusia–membutuhkan beberapa kesadaran penting.

Pertama, berjumpa dengan Tuhan bukanlah sebuah pekerjaan ringan. Ia kerap bertentangan dengan logika dewasa ini. Ia perlu dimulai dengan sebuah prinsip dasar yakni percaya untuk mengerti. Ia perlu menyerahkan diri padaNya.

Kedua, berjumpa dengan Tuhan tak bisa mengabaikan pemikiran secara khusus permenungan dan kontemplasi. Ini bukan untuk menegaskan bahwa jika kita telah mengerti secara otomatis itu adalah Tuhan yang utuh. Kita harus menyadari transendensi Tuhan yang melampaui semua itu. Ia bisa dibahasakan tetapi kekerdilan bahasa harus diakui. Tuhan tak seluas bahasa, konsep dan ketegori. Ia melampaui hal itu. Namun pemikiran membuat kita memiliki perjalanan iman yang bermakna. Kita dapat mencerna dan memahami keberadaan serta penyelenggaraanNya itu secara lebih tepat dan mendalam.

Ketiga, kita diperhadapkan dengan berbagai macam bentuk praktek hidup dan kebiasaan yang menegasi pemikiran dan menegasi keberadaan yang abstrak, ideal dan melampaui. Kesadaran akan kenyataan instan, kesadaran akan kecepatan, kesadaran akan ketidakmampuan untuk berdiam diri dan kesadaran akan proses panjang pemikiran harus mulai menjadi pengakuan akan ketidakberdayaan kita di dalam berpikir. Ketidakberdayaan ini perlu disadari. Kesadaran itu perlu membuka jalan bagi kita untuk bermenung dan berkontemplasi.

Keempat, dari konsep umum di atas, terbaca bahwa Tuhan itu adalah sebuah pelampauan dari rutinitas dan ritualistic agama. Karena itu, orang perlu berani mengambil jarak terhadap dua kenyataan itu. Hanya melaluinya orang dapat berdiam diri. Dengan berdiam diri, orang sedang membangun fondasi perjumpaan dengan Tuhan. Tentu saja, perjumpaan public yang kerap tersedia oleh agama tidak diabaikan. Ia adalah jalan yang memungkinkan bahwa kita bertemu sebagai warga sepencipta. Ia adalah tempat pengakuan itu, namun pengakuan bukan hanya sebuah kata saja. Kata-kata itu harus dicari bersama dan dicari sendiri pula. Ia bukan hanya dijadikan sebagai sebuah kumpulan pemahaman. Ia harus dibawa menjadi sebuah keberadaan dan tindakan hidup. Hidup perlu bersandar pada yang Ilahi, terselenggara di dalamnya dan berarak menuju kepadaNya.

 

Penutup

Tuhan sebagai konsep umum dan dicapai melalui sebuah pemikiran tentu merendahkan Tuhan. Sebab Tuhan itu lebih dari sebuah konsep mati, ini dan itu. Tuhan itu lebih dari hasil konstruksi aktivitas kognitif. Ia adalah sebuah pelampuan. Ia transenden.

Meski ia transenden, ia imanen. Realitas imanen itulah yang coba ditangkap lewat pemikiran dan permenungah. Inilah realitas yang menyadarkan kita akan tanggungjawab yang lahir dari inkarnasi. Karena Ia berinkarnasi, maka aku mulai mencarinya di dalam hatiku tempat inkarnasi berseru padaku untuk selalu kembali. Karena itu, kita tak bisa mengabaikan pemikiran yang bertolak dari dalam mikrokosmos menuju ke dalam realitas makrokosmos alam semesta.

Meski demikian paradoks tentang transendensi dan imanensi harus tetap dipelihara agar kerendahan hati akan keterbatasan pemikiran membuatnya tahu diri kapan dan di mana ia harus diaktifkan.

Kesadaran ini hanya lahir kalau kita berpikir, melatihnya dan membiasakannya. Beri diri untuk merenung. Merenung adalah ibadah. Ibadah bukan hanya ikut rumusan ritus liturgis.

(Oleh Ignasius Ngari)

 

Komsos timika
Author: Komsos timika

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button