MISA 40 MALAM MAMA THERESIA SONDEGAU: “IKATKAN PINGGANG DAN NYALAKAN PELITAMU”
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Rangkaian doa 40 malam untuk Mama Theresia Sondegau ditutup dengan perayaan Ekaristi khusyuk kemarin, 20 Agustus 2026. Misa untuk keluarga yang di Timika dipimpin oleh Pastor Yeskiel Belau Pr, di rumah Bapa Moses Belau, anak sulungnya dan untuk keluarga di Bilogai dipimpin Timpas setempat di rumah duka.
Mama Theresia Sondegau, pewarta perempuan pertama dari Suku Migani, telah dipanggil Tuhan pada 10 Juli 2026 di Rumah Sakit, dalam usia 93 tahun.
Dalam homilinya, Pastor Yeskiel menekankan belas kasih Allah yang besar bagi semua orang. “Allah akan menghapus segala aib umat-Nya, menghapus air mata, melenyapkan maut dan menyediakan jamuan. Itulah sukacita bagi anak-anak-Nya yang beriman,” tegas Pastor.
Pastor Yeskiel juga mengangkat amanat perpisahan Yesus: “Ikatkanlah pinggangmu dan hendaklah pelitamu tetap menyala” (Luk 12:35).
“Ikatkan pinggang berarti menguduskan diri dari dosa-dosa. Nyalakan pelita berarti memperlihatkan kebaikan dan iman dalam hidup dengan berpasrah kepada Tuhan dan peduli kepada sesama. Itulah sikap siap-siaga menyongsong Sang Pengantin,” jelas Pastor Yeskiel.
“Berbahagialah Mama Theresia yang didapati Tuannya ketika berjaga, pinggangnya terikat dan pelitanya tetap menyala. Pelayanan hidupnya menunjukkan hal itu. Maka pasti dia berbahagia ketika Tuannya menjemput, dan saat ini pasti berbahagia di surga bersama Sang Penciptanya,” lanjut beliau.

“Berpasrah kepada Tuhan dan Peduli kepada Sesama”. Dua kalimat itu adalah moto hidup Mama Theresia. Lahir sekitar tahun 1933 dari keluarga miskin dan yatim, hidupnya ditempa dalam kepasrahan. Saat dipaksa menikah, beliau lari ke Pastoran meminta perlindungan Pastor Misionaris Belanda. Dari sanalah, bersama Bapa Simon Belau, beliau belajar di Enaro dan Epauto, lalu kembali ke Bilogai untuk melayani Gereja.
Sebagai katekis, beliau menjadi pelindung perempuan Migani dari perkawinan paksa, penolong anak-anak untuk sekolah, dan pewarta yang berani. Tindakan-tindakannya yang “melawan arus” adat, seperti memberi makan anak dengan kodok dari Kali Bogendoga, hingga mematahkan busur untuk melarang perang adalah bukti kasihnya yang nyata.
Warisan terbesarnya adalah inkulturasi iman. Bersama para Pastor, Mama Theresia menerjemahkan doa ke Bahasa Migani “Miga Dole”, memimpin Ibadat Sabda, melatih pewarta muda di stasi-stasi, dan menciptakan lagu serta tarian khas Migani yang kini dipakai dalam liturgi.
Dari keluarga sederhana, beliau dan Bapa Simon mendidik 7 anak hingga semuanya menjadi sarjana dan mengabdi di berbagai instansi.
Setelah 40 malam didoakan, umat percaya Mama Theresia kini telah beristirahat dalam damai di Kerajaan Allah. Seperti kata Pastor Yeskiel, beliau adalah hamba yang didapati tuannya berjaga dengan pinggang terikat dan pelita menyala.
Semangat “Berpasrah kepada Tuhan dan Peduli kepada Sesama” kini menjadi warisan iman bagi seluruh umat Migani dan Gereja Katolik di Papua.
“Berbahagialah hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang (Luk 12:37). Selamat jalan Mama Theresia. Doakan kami dari surga. *** P. YESKIEL BELAU, PR






