Warta Paroki

RAYAKAN 25 TAHUN STASI SANTA THERESIA KARADIRI II, PASTOR SUDRIJANTA AJAK UMAT MEMBANGUN GEREJA YANG TERBUKA DAN BERDAYA

KARADIRI, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Stasi Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus Karadiri II, Paroki Santo Yosep Nabire Barat, merayakan 25 tahun perjalanan iman dan kehidupan menggereja melalui Perayaan Ekaristi pada Kamis, 1 Oktober 2026. Perayaan yang berlangsung di gereja stasi tersebut dipimpin oleh Pastor Dekan Teluk Cenderawasih, Pastor Johanes Sudrijanta, SJ, bersama Pastor Paroki Santo Yosep Nabire Barat, P. V. Budi Nahiba, Pr, Rektor Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua, P. Stefanus Yogi, Pr, dan Pembina TOR, P. Hendrikus Hendy, Pr.

Perayaan perak ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan komunitas umat yang bermula dari kelompok kecil, mensyukuri pertumbuhan iman selama 25 tahun, sekaligus menatap masa depan Gereja di tengah perkembangan kawasan Karadiri.

Dalam homilinya, Pastor Sudrijanta mengajak umat menjadikan perayaan 25 tahun sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh, mensyukuri pertumbuhan yang telah terjadi, dan menatap masa depan dengan penuh harapan.

Menurutnya, kehidupan Gereja tidak terutama diukur dari jumlah umat atau besarnya bangunan. Meskipun saat ini Stasi Santa Theresia memiliki sekitar 30 kepala keluarga, perjalanan selama 25 tahun membuktikan bahwa Gereja bertumbuh melalui iman yang dipelihara, keluarga yang setia, anak-anak yang dibimbing, serta orang-orang yang bersedia menjadi tanda kasih Allah di tengah masyarakat.

Pastor Sudrijanta menyoroti perkembangan Karadiri yang dipersiapkan menjadi salah satu pusat pemerintahan Provinsi Papua Tengah. Perkembangan ini diperkirakan akan mendorong semakin banyak orang datang dan menetap, baik dari berbagai suku asli Papua maupun dari luar Papua.

Menurutnya, perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Pertumbuhan kawasan membuka kesempatan di bidang usaha, pekerjaan, pendidikan, pelayanan publik, dan kegiatan ekonomi. Namun, kehidupan masyarakat yang semakin majemuk juga berpotensi menghadirkan persoalan sosial, seperti persaingan ekonomi, kesenjangan, perbedaan budaya, persoalan tanah, identitas, pendidikan anak, keluarga, keamanan, serta prasangka dan konflik antarkelompok.

Dalam situasi tersebut, Gereja tidak cukup hanya bertanya tentang jumlah umat yang dimiliki, tetapi juga perlu merefleksikan masyarakat seperti apa yang hendak dibangun bersama di Karadiri.

Pastor Sudrijanta mengajak umat mempersiapkan Stasi Santa Theresia bukan hanya sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik, melainkan juga sebagai rumah yang menghadirkan kasih Allah bagi semua orang, tanpa membedakan asal-usul, suku, status sosial, maupun latar belakang ekonomi.

Semangat persaudaraan, katanya, bukan berarti menghapus identitas setiap orang, melainkan mempertemukan berbagai identitas dalam kehidupan bersama.

Di tengah masyarakat yang semakin majemuk, Gereja diharapkan menjadi ruang yang menegaskan bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama sebagai manusia dan anak-anak Allah.

Karena itu, Stasi Santa Theresia diharapkan mengambil peran sebagai garda terdepan dalam membangun perdamaian dan rekonsiliasi. Perdamaian tidak hanya dibicarakan ketika konflik terjadi, tetapi perlu diwujudkan setiap hari melalui kehidupan keluarga, pendidikan anak, cara berbicara, penyelesaian perbedaan, sikap terhadap pendatang dan masyarakat asli, serta kesediaan berbagi kesempatan.

Gereja, tegasnya, harus menjadi tempat orang belajar berdamai sebelum belajar berkonflik.

Sejarah Stasi Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus Karadiri II bermula sekitar 8 November 1998. Saat itu, sekitar sepuluh umat Katolik dari berbagai tempat, termasuk dari pedalaman Papua, berkumpul untuk berdoa bersama di Gereja Ekumene. Dalam kesederhanaan, mereka hanya mendaraskan doa Bapa Kami dan Salam Maria. Pertemuan doa tersebut dipimpin oleh Ruben Pigai.

Pada 11 Desember 1998, Frater Ignatius Aria Dewanto, SJ, diutus oleh Pastor Paroki Kristus Sahabat Kita Nabire, Pastor Wolfgang Bock, SJ, untuk mengunjungi dan melayani umat di kawasan transmigrasi Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire. Pada masa itu, wilayah Karadiri masih termasuk dalam wilayah penggembalaan Paroki Kristus Sahabat Kita Nabire. Kunjungan tersebut menjadi pelayanan pertama yang dilakukan di tengah komunitas kecil umat Karadiri, dengan memimpin ibadat di Gereja Oikumene.

Selanjutnya, Pastor Wolfgang Bock, SJ, mengunjungi Karadiri dan mempersembahkan Misa perdana di Gereja Oukumene Kaladiri II pada 14 Maret 1999.

Perjalanan komunitas ini kemudian memasuki babak baru pada 1 Oktober 2001. Pastor Wolfgang Bock, SJ, menetapkan kelompok umat tersebut sebagai Komunitas Basis Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus.

Setelah berkembang selama lebih dari dua dekade, komunitas basis tersebut secara resmi ditingkatkan menjadi Stasi Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus pada 14 Mei 2025 oleh Pastor Paroki Santo Yosep Nabire Barat.

Dari kelompok kecil yang memulai perjalanan dengan doa sederhana, komunitas ini terus bertumbuh hingga menjadi sebuah stasi yang merayakan 25 tahun perjalanan imannya.

Pastor Johanes Sudrijanta, SJ. Foto: Dok. Vincent.

Dalam homilinya, Pastor Sudrijanta juga mengajak umat melihat 25 tahun berikutnya sebagai kesempatan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Jika 25 tahun pertama telah menghasilkan tanah dan bangunan, maka 25 tahun berikutnya diharapkan menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas, beriman, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi bagi Gereja serta masyarakat.

Ia berharap dari Stasi Santa Theresia kelak lahir generasi muda yang terpanggil menjadi suster dan biarawati, imam dan pemimpin Gereja, dokter dan tenaga kesehatan, guru dan pendidik, pejabat publik yang jujur, pengusaha yang menciptakan lapangan kerja, serta para profesional, ilmuwan, seniman, dan tokoh masyarakat yang membawa kebaikan bagi banyak orang.

Namun, menurutnya, yang terpenting bukanlah jabatan atau kedudukan yang berhasil diraih, melainkan kualitas pribadi yang dibentuk dalam perjalanan hidup.

Anak-anak Karadiri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang kompeten, berintegritas, berbelarasa, memiliki hati nurani, mencintai perdamaian, dan bersedia mengabdikan hidup bagi sesama.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, salah satu investasi terbesar Gereja bukan pertama-tama pembangunan gedung baru, melainkan penguatan pastoral keluarga.

Pastor Sudrijanta menegaskan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Dalam keluargalah anak belajar tentang kasih, kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, doa, pengampunan, dan penghargaan terhadap sesama.

Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki iman yang kuat, karakter yang baik, serta kepedulian terhadap kehidupan bersama.

Perayaan 25 tahun Stasi Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus Karadiri II menjadi pengingat bahwa pertumbuhan Gereja tidak berhenti pada pembangunan fisik dan penambahan jumlah umat. Gereja juga dipanggil untuk membentuk manusia yang mampu menghadirkan kasih, membangun persaudaraan, dan menjadi pembawa damai di tengah masyarakat.

Dengan semangat tersebut, Stasi Santa Theresia diharapkan terus bertumbuh menjadi komunitas iman yang terbuka, kuat dalam persaudaraan, serta siap mengambil bagian dalam perkembangan Karadiri dan Papua Tengah pada tahun-tahun mendatang. ***(Penulis: VINCENT/Editor:ALLO/KOMSOS).

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button