BERJALAN BERSAMA MARIA MENUJU YESUS: 500 UMAT IKUTI ZIARAH ROHANI DI GUA MARIA YARO 1
Berjalan Bersama Bunda Maria menuju Tuhan Yesus, Ziarah Rohani ke Gua Maria Nidoutau Nimunai – Yaro1- Nabire
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Pada Jumat, 1 Mei 2026 umat Katolik separoki Santo Yosep- Nabire Barat – Provinsi Papua Tengah mengawali Bulan Maria dengan Misa dan prosesi dengan berjalan kaki dari kantor Polsek Yaro, Kabupaten Nabire menuju Gua Maria Nidoutau Nimunai (dalam Bahasa setempat – Bahasa Mee – Bunda Maria Sang Pemelihara dan Penjaga Kita) Yaro 1 sejauh 1.2 Km dengan mengarak patung Bunda Maria.
Misa Pembukaan Bulan Maria ini dipimpin oleh Pastor Paroki Santo Yosep Nabire Barat, Pastor Vincentius Budi Nahiba, Pr dan didampingi Pastor Didimus Kosi, OFM (pastor tamu dari Timika) di depan Gua Maria. Ada sekitar 500 umat yang ikut serta dalam perayaan Ekaristi ini baik yang berasal dari Paroki Santo Yosep- Nabire Barat maupun umat sekitar Kota Nabire.

Dalam pengantar khotbah, Pastor Vincent Budi menerangkan tentang asal usul Bulan Mei menjadi Bulan Maria. Pastor Budi mengatakan bahwa Bulan Mei disebut sebagai Bulan Maria karena merupakan waktu khusus bagi umat Katolik untuk menghormati Bunda Maria. Bulan Mei dipilih karena bertepatan dengan perubahan musim semi di Eropa. Musim semi melambangkan adanya kehidupan baru karena tumbuhan kembali hijau, dan bunga-bunga mulai mekar. Selain itu, Tradisi devosi kepada Bunda Maria untuk menjadikan Bulan Mei sudah berlangsung sejak abad ke -13. Dalam hal ini, Bunda Maria sering disebut sebagai “Bunga dari Segala Bunga,” melambangkan kemurnian dan perannya dalam rencana keselamatan Allah.
Dalam khotbahnya Pastor Didimus Kosi OFM mensharingkan bagaimana pengalaman rohani peranan Bunda Maria di dalam kehidupan sehari-hari pastor sebagai biarawan Fransiskan. Pastor Didimus yang berasal dari Lembah Baliem- Wamena bersaksi bahwa Bunda Maria yang mempunyai hati yang belas kasih dan murah hati membuka jalan menuju Tuhan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup.

Ibu Yunike Degei, ketua kombas Maria Bintang Timur- SP1 mengatakan bahwa perjalanan ziarah Rohani ke Goa Maria Yaro1, terasa sangat istimewa karena diikuti oleh seluruh umat kombas dari Paroki St. Yosep Nabire Barat. Bagi Yunike, yang paling terkesan di hati adalah
Pertama, kekuatan Doa Bersama, Suasana hening dan khidmat saat kita semua berlutut, memohon perlindungan dan memanjatkan doa bersama di hadapan Bunda Maria. Rasanya damai sekali dan hati menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Kedua, Kebersamaan dalam Makan Bersama, Setelah Perayaan Ekaristi, momen makan bersama menjadi sangat hangat. Berbagi makanan, tertawa, dan bercanda membuat persaudaraan kita semakin erat dan akrab satu sama lain. Ketiga, Satu Hati dan Satu Jiwa, melihat begitu banyak wajah dari berbagai umat kombas berkumpul menjadi satu, hal ini menunjukkan bahwa kita adalah satu keluarga besar yang kuat. Kebersamaan ini menjadi kenangan indah yang tidak akan terlupakan, menguatkan iman dan persaudaraan kita selamanya.
Kesan yang sangat mendalam secara iman terasa dalam diri Bapak Paulus Lesomar, salah satu peserta senior yang ikut berjalan kaki selama prosesi. “Walaupun kaki saya sakit dan sulit untuk berjalan jauh lebih dari 100 meter, namun karena perasaan, niat dan keinginan saya untuk mengikuti perziarahan ini. Saya merenungkan bahwa penderitaan saya dalam berjalan kaki perziarahan sejauh 1.2 Km bersama umat tidak seberapa dibandingkan dengan Salib yang harus dipikul Bunda Maria Ketika Bunda Maria mengandung Tuhan Yesus dan berbagai penderitaan yang lain (Sengsara, wafat dan Kebangkitan Tuhan Yesus). Saya merasa dikuatkan secara iman dan spiritual dalam mengikut perziarahan Rohan ini,”.
Begitu juga Ibu Magdalena Goo, Ketua WKRI DPC Nabire Barat dan guru Sekami Paroki, mempunyai kesan yang mendalam saat mengikuti perarakan Bunda Maria.. “Saya merasakan pengalaman Rohani yang Mendalam suasana khidmat dan kekeluargaan. Perarakan Patung Bunda Maria terasa sangat khidmat, tenang, namun penuh sukacita. Umat berjalan bersama dalam doa, menciptakan rasa persatuan dan kekeluargaan yang kuat sebagai satu keluarga Allah.Kehadiran Maria yang Nyata: Meskipun patung hanyalah simbol, perarakan membuat kehadiran Maria terasa nyata dalam kehidupan umat beriman. Ini menjadi momen perenungan, di mana Maria hadir sebagai penuntun untuk lebih dekat kepada Yesus. Perarakan bukan sekadar berjalan, melainkan ungkapan lahiriah dari penghayatan batin untuk menghormati Bunda Maria, sering kali disertai dengan doa Rosario yang tiada henti.Keindahan Tradisi: Nyanyian pujian dan doa yang didaraskan bersama sepanjang jalan menciptakan suasana meditatif yang menyentuh hati dan memperdalam devosi.

Menurut tuan rumah tempat perziarahan Gua Maria ini, pewarta Kombas Santa Maria, Yaro 1, Yosep Butu, kegiatan prosesi perarakan Patung Bunda Maria merupakan kegiatan pertama kali dilakukan, biasanya prosesi hanya dilakukan dari kompleks Gereja menuju Gua Maria (hanya berjarak sekitar 100 meter) namun, atas inisiatif umat, prosesi dilaksanakan sejauh 1.2 KM dengan membawa patung Bunda Maria oleh 12 akolit paroki. Seluruh umat kring Yaro1 terlibat menjadi panitia pelaksana Ziarah Rohani.
“Suasana hati kami, umat Kombas Yaro1 sangat bersuka cita untuk menyambut umat Allah yang datang dari berbagai stasi dan kombas Paroki Santo Yosep dan umat Allah dari paroki lain. Kami berharap, prosesi perarakan Bunda Maria disini menjadi suatu tradisi tahunan untuk mengembangkan iman umat dalam mengenal Tuhan Yesus melalui Bunda Maria, Par Mariam Ad Yesum, Ave Maria” harap Bapak Yosep Butu.(P. BUDI NAHIBA PR.)




