Warta Paroki

STASI HAWADI TOUBAIKEBO RAYAKAN EMPAT TAHUN PERJALANAN IMAN DALAM SEMANGAT SANTO FRANSISKUS ASISI

HAWADI TOUBAIKEBO, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Umat Stasi Santo Fransiskus Asisi Hawadi Toubaikebo, Paroki Timepa, Distrik Mapia Barat, Kabupaten Dogiyai, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 sekaligus Pesta Pelindung Santo Fransiskus Asisi pada Minggu, 4 Oktober 2026. Perayaan berlangsung dalam suasana penuh syukur, persaudaraan, dan kebersamaan yang berpuncak pada Perayaan Ekaristi, pemberkatan makanan tradisional bakar batu, serta pengumuman dana pembangunan aula stasi sebesar Rp168 juta.

Perayaan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIT ini memadukan tradisi budaya masyarakat Papua dengan kehidupan iman Katolik. Momen istimewa tersebut juga ditandai dengan penerimaan Sakramen Perkawinan oleh pasangan Antonius Tebai dan Maria Wakei dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Paroki Timepa, Pastor Yeskiel TD, Pr.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa dan pemberkatan bahan-bahan yang digunakan dalam tradisi bakar batu, antara lain babi, sayur-mayur, umbi-umbian, dedaunan, kayu bakar, dan batu. Pemberkatan dipimpin oleh Pastor Yeskiel sebagai ungkapan syukur dan permohonan agar seluruh proses berjalan dengan aman serta terhindar dari bahaya.

Doa dan pemberkatan bahan-bahan yang digunakan dalam tradisi bakar batu. Foto: Dok. Paroki Timepa.

Tradisi bakar batu menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Papua. Dalam perayaan ini, tradisi tersebut hadir sebagai sarana membangun kebersamaan, mempererat persaudaraan, dan mengungkapkan rasa syukur atas hasil kerja bersama.

Semangat Santo Fransiskus Asisi yang mencintai seluruh ciptaan juga terasa dalam perayaan tersebut. Alam, hasil bumi, dan kehidupan manusia menjadi bagian dari ungkapan syukur kepada Allah Sang Pencipta.

Sekitar pukul 11.00 WIT, umat mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Yeskiel Perayaan ini menjadi semakin istimewa karena pasangan Antonius Tebai dan Maria Wakei menerima Sakramen Perkawinan.

Dalam homilinya, Pastor Yeskiel merefleksikan Injil Matius 21:33–43 tentang perumpamaan penggarap kebun anggur yang jahat. Ia mengajak umat memahami bahwa setiap orang yang dipercayakan tugas dalam Gereja memiliki tanggung jawab untuk bekerja dengan setia dan memberikan hasil yang baik kepada Allah.

Ia mengingatkan bahwa Paus, uskup, imam, pewarta, dewan paroki, dan ketua komunitas basis memiliki tanggung jawab sebagai pelayan yang harus mempertanggungjawabkan tugasnya. Jabatan dalam Gereja bukanlah sarana untuk mencari kekuasaan atau kepentingan pribadi, melainkan panggilan untuk melayani.

Pastor Yeskiel juga mengajak umat menyadari bahwa kehidupan menggereja membutuhkan kesetiaan, keterlibatan, dan keterbukaan untuk bekerja bersama. Gambaran kebun anggur dalam Injil menjadi pengingat bahwa Gereja harus terus menghasilkan buah melalui kehidupan iman dan pelayanan nyata.

Kepada pasangan yang menerima Sakramen Perkawinan, ia menegaskan bahwa perkawinan Katolik bukan sekadar pesta atau perayaan adat, melainkan sakramen yang menghadirkan rahmat Allah dalam kehidupan suami dan istri.

Foto bersama pasangan Antonius Tebai dan Maria Wakei yang telah menerima Sakramen Perkawinan. Foto: Dok. Paroki Timepa.

Ia mengajak pasangan tersebut membangun keluarga dengan bertumpu pada doa, iman, dan tanggung jawab moral. Tujuan perkawinan, yakni kesejahteraan suami-istri, keterbukaan terhadap keturunan, serta pendidikan anak, perlu dihidupi dalam kesetiaan dan kasih setiap hari.

Dengan demikian, keluarga diharapkan menjadi tempat pertama untuk menumbuhkan iman, membangun karakter, dan meneruskan nilai-nilai Kristiani kepada generasi berikutnya.

Setelah Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Distrik Mapia Barat. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus bersatu dan mengambil bagian dalam pembangunan, baik pembangunan fisik gereja maupun penguatan iman umat.

Sambutan dari Kepala Distrik Mapia Barat. Foto: Dok. Paroki Timepa.

Suasana penuh sukacita semakin terasa ketika Ketua Panitia, Yohanes Tebai, mengumumkan hasil pengumpulan dana melalui pertandingan dan berbagai perlombaan yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp168.000.000. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung pembangunan aula Stasi Santo Fransiskus Asisi Hawadi Toubaikebo.

Capaian ini menjadi bukti semangat swadaya dan kerja sama umat. Melalui berbagai kegiatan, termasuk pertandingan sepak bola dan perlombaan, umat mengambil bagian dalam upaya mewujudkan fasilitas yang dapat menunjang kehidupan menggereja.

Aula stasi yang direncanakan tersebut diharapkan menjadi tempat pertemuan komunitas basis, kegiatan Orang Muda Katolik (OMK), latihan koor, serta berbagai kegiatan pembinaan iman dan pelayanan umat.

Ketua Panitia, Yohanes Tebai mengumumkan hasil pengumpulan dana melalui pertandingan dan berbagai perlombaan yang telah dilaksanakan. Foto: Dok. Paroki Timepa.

Dalam sambutannya, Pastor Yeskiel mengajak umat untuk tidak takut menghadapi pertumbuhan dan perubahan. Ia mengibaratkan kehidupan Gereja seperti biji sesawi yang tumbuh menjadi pohon besar.

Menurutnya, Gereja memiliki panggilan untuk terus bertumbuh, baik dalam jumlah komunitas maupun dalam kualitas iman dan pelayanan. Ia mendorong umat untuk memperbanyak komunitas basis dan membuka kemungkinan pembentukan stasi baru apabila perkembangan umat memungkinkan.

Ajakan tersebut menjadi dorongan bagi umat Hawadi Toubaikebo untuk terus mengembangkan kehidupan menggereja dengan semangat pelayanan, persaudaraan, dan tanggung jawab bersama.

Perayaan HUT ke-4 ini sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan stasi sejak awal berdiri dan meneguhkan komitmen dalam membangun Gereja yang semakin hidup di wilayah Mapia Barat.

Rangkaian perayaan ditutup dengan pemotongan kue ulang tahun, doa berkat atas makanan bakar batu, dan makan bersama di halaman gereja.

Dalam suasana sederhana, pastor, kepala distrik, panitia, mama-mama, pemuda, dan anak-anak berkumpul menikmati hidangan yang telah disiapkan sejak pagi. Kebersamaan tersebut mencerminkan semangat persaudaraan dan kesederhanaan yang menjadi bagian dari spiritualitas Santo Fransiskus Asisi.

Sekitar pukul 16.30 WIT, seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Umat kembali ke rumah masing-masing dengan sukacita dan rasa syukur atas perjalanan empat tahun Stasi Santo Fransiskus Asisi Hawadi Toubaikebo.

Perayaan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Gereja tidak hanya terletak pada bangunan fisik, tetapi juga pada iman, kerja keras, semangat gotong royong, dan kesediaan umat untuk berjalan bersama. ***(Penulis: P.YESKIEL BELAU, PR/Editor: ALLO/KOMSOS)

Selamat HUT ke-4 Stasi Santo Fransiskus Asisi Hawadi Toubaikebo. Pace e Bene!

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button