MENGENANGKAN ALMARHUM, MENDOAKAN USKUP BARU
“Saya Mau Memetik Buah dari Hasil Kebun Sendiri”
Pendahuluan
Dengan rasa Duka, Hormat dan Bangga, saya meminta izin kepada Almarhum Mgr. Jhon Philip Saklil, untuk mengenangkan kembali sebuah ungkapan. Ungkapan yang menggugah hati saya yaitu: Saya mau memetic buah dari hasil kebun sendiri”. Selanjutnya, saya tak lupa memohon kepada Almarhum agar mendoakan Uskup kami yang baru serta seluruh Timpas Keuskupan Timika kepada Tuhan. Dengan demikian, kita sempatkan diri untuk mengheningkan cipta untuk mengingat bahwa almarhum Jhon mau “Memetik buah dari hasil kebunnya sendiri.” Mengingat ungkapan ini amat penting selama kita berjalan menyiapkan jalan menuju pintu keselamatan Allah.
Mengenangkan Almarhum Jhon Philip Saklil
Pada 03 Agustus 2026 ini kami mengingat kembali peristiwa-peristiwa hidup bersama sebagai sesama manusia, saudara, rekan, bapak, imam dan juga Uskup. Kami tidak akan melupakan sekian banyak kisah seperjalanan di dalam kebun besar yang bernama Keuskupan Timika. Setiap pikiran sebagai Gaiyabi (pemikir), setiap perkataan sebagai pewarta (pengikut Kristus), Setiap Seruan sebagai Nabi, setiap tumpangan sakramen sebagai imam, setiap keputusan bijak sebagai Raja, dan setiap tindakan iman almarhum menjadi nyata ketika sekian banyak imam dipetik sebagai buah dari kebun sendiri yang engkau rawat bersama Tuhan. Hasil itu adalah hasil dari Menyiapkan Jalan Tuhan (Parate Viam Domini). Kepergianmu yang penuh misteri di dalam Tuhan kami kenangkan sambil merenungkan perjalanan kami ke depan bersama Mgr. Bernardus Bofitwos Baru. Keselamatan Jiwa Almarhum dan Kehidupan mengereja di Kebun Anggur Tuhan (“Kebun Saya Sendiri”) kita pasrahkan kepada Tuhan yang ikut menyertai karya penyelamatanNya.
Melalui peristiwa pengenangan ini kami mengingat kembali sekian banyak peristiwa yang tak mampu kami urai dalam sehari ini. Semua peristiwa suka, duka, kecemasan dan harapan gereja bersamamu, engkau akhiri pada hari yang kami kenangkan ini. Kami juga menyadari dan merasakan lagi bahwa kehadiranmu tiada duanya. Begitupun setiap pribadi kami yang masih melanjutkan karya pelayanan di kebun anggur Tuhan ini tiada duanya dengan kepribadiaannya masing-masing.
Kita yang Mengenang
Pada hari pengenangan ini, kita kenangkan banyak kisah yang selalu terngiang dalam pikiran kita. Dari sekian kisah itu, banyak kisah suka, duka, inpiratif dan penuh harapan. Kisah-kisah bersama yang selalu terngiang dalam pikiran, perkataan, ingatan, dan dalam pelayanan kita bisa menjadi “kisah duka dan penyemangat” hidup. Kisah duka sekaligus spirit hidup yang menggugah hati, pikiran dan semangat hidup saya sebagai Imam saat ini adalah ungkapan Almarhum Jhon Philip, “Saya mau mememetik dari Hasil Kebun saya sendiri”.
Ungkapan tersebut diungkapkan dengan amat sederhana dalam konteks persaudaraan sebagai uskup dan calon Imam keuskupan Timika. Uskup menyempaikannya dengan gaya leluconnya namun amat memikat dan mengena (Kena Konteks). Marilah kita Urai Ungkapan Almarhum di atas sebagai bangian dari mengenangkan kepergiannya ke Rumah Bapa di Surga.
“Saya Mau”
“Saya mau” mengungkapkan harapan, kerinduan, kesiapan, pengetahuan, kemauan, kesadaran dan tindakan real. Makna-makna dari suku kata “saya mau” tersebut dapat kita jumpai juga dalam motonya: “Menyiapkan Jalan Tuhan”.
Harapannya untuk membuahkan (Imam dan Awam) sebagai “hasil dari dalam kebunnya” bukan hanya sebagai ungkapan kosong. Dalam ungkapan ini Mgr. Jhon tidak menolak biarawan/i tetapi dia mau menegaskan pentingnya para calon/imam yang berasal dari keuskupan kita sendiri. Harapan dan kerinduan itu berawal dari pengetahuannya tetang Misi Kristus yang harus berakar di keuskupan Timika. Kemauannya bukan hanya sebagai angan-angan tetapi dia berupaya secara sungguh agar setiap calon imam disiapkan dan didekati sebagai anaknya sendiri. Harapan dan kemauan uskup Jhon dalam membuahkan hasil sendiri diikuti dengan penyiapan secara sungguh. Persiapan dilakukan secara sungguh karenah di tahu akan kebutuhan dan panggilan misinya yang sungguh mengakar. Sementara persiapan sungguh para calon imam dengan tahu dan mau dibuktikan sebagai upaya kesadaran. Bapak Uskup Jhon sungguh Tahu, mau dan Sadar di dalam Tuhan yang kebunNya diberi kepercayaan kepadanya untuk dapat membuahkan hasil.
Dalam mencapai suatu impian orang biasa dengungkan “tahu, mau dan sadar”. Begitu pula Allmarhum mempersingkatnya dengan mengatakan “Saya Mau”. Almarhum Jhon sungguh tahu keberadaan dan kebutuhan umat keuskupan Timika. Dia juga tahu apa yang harus dibuatnya. Dia mengerti apa upaya pendekatannya untuk setiap calon. Dia siap mendekati tiap pribadi dengan caranya yang unik. Dia tahu maka dia juga mau memperhatiakan setiap calon secara pribadi. Dia sungguh mempertahankan calonnya sejauh tidak ada masalah moral. Bahkan dia mencari sendiri, bukan mengeluarkan calon dengan alas an sepeleh. Uskup tahu dan mau tersebut menjadi kesadaran (Sadar). Sadar diri, sadar tugas, dan sadar apa yang dia putuskan sesuai pengetahuan dan kemauan yang sungguh. Upaya kesadaran inilah yang dia sebut “Saya Mau”. Kalau uskup tidak mau, tidak mau tahu, tidak tahu, tidak sadar maka saya bukan bukan lagi menjadi imam di keuskupan Timika. Begitu juga rekan imam dan awam yang berasal dari keuskupan Timika setelah keuskupan berdiri.
Almarhum tahu, mau dan sadar bahwa aka nada lagi calon imam yang adakan muncul lagi dari tahun ke tahun. Semua calon itu juga diharapkannya agar disiapkan dengan baik dan benar. Calon yang disiapkan dengan baik, benar, tahu, dan mau itulah yang uskup ikut mendukungnya dalam segala hal sesuai porsinya. Mgr. Jhon sebagai “pemilik kebun” yang dititipkan Tuhan, dia menyadari secara sungguh sebagai pemilik.
Merasa memiliki adalah tingkat lebih tinggi dari tahu, mau dan sadar tadi. Tingkat kesadaran tertinggi adalah merasa memiliki. Merasa memiliki bagi Mgr. adalah menyiapkan jalan Tuhan secara sungguh. Merasa memiliki tidak hanya dalam menyiapkan calon imam tetapi juga dalam membangun gereja keuskupan Timika sebagai upaya kesadaran tertinggi (memilikinya).
Hasilkan Buah
Hasilkan buah tidak terlepas dari proses panjang mulai dari pencarian bibit, persemaian dan perawatan (penyiraman, pemupukan, pembersihan). Proses panjang ini dilakukan dengan penuh kewaspadaan dan keseriusan dalam mendukung “pemilik” bersama Pemilik Yang Lain (Uskup dan Tuhan). Saya dan anda yakin bahwa bapak Uskup Jhon Saklil paham betul sebagai pemilik (juga mesti dipahami sungguh oleh rekan-rekannya yaitu siklus yang dimulai dari pemilihan bibit hingga berbuah. Marilah kita urai supaya kita bagaimana beratnya proses menuju pembuahan.
Pencarian bibit. Pencarian bibit adalah tugas yang amat berat di lapangan. Mau menemukan orang yang terpanggil itu amat sulit bagi saya yang malas tahu dengan pentingnya bibit yang dating dari parokiku. Mungkin juga dengan rekan lain tetap amat gampang bagi mereka yang peduli seperti Mgr. Jhon Philip Saklil. Setelah sekian orang yang terpanggil dikumpulkan biasanya dikirim ke tempai persemaian. Untuk bibit manusia, “tidak ada yang namanya bibit unggul atau tidak unggul”. Kalau kita pilih semua bibit unggul maka seharusnya kita langsung tanam tanpa proses persemaian. Namun karena tidak ada istilah bibit unggul pada bibit manusia maka ada prosedur persemaian. Persemaian itu dimulai dari KPP/KPA, TOR, STFT, TOP, TOK, DIAKONAT dan IMAMAT. Terutama masa KPP/KPA dan TOR adalah masa persemaian yang cukup lama. Masa persemaian awal itu juga bukan berarti sudah siap menghasilkan buah dan asal mencabut keluar.
Tempat persemaian adalah tempat menyemaikan bibit jenis apapun yang diterima dari paaroki milik uskup dan Tuhan. Manusia milik Tuhan yang telah datng dengan tujuan disemaikan itu tidak bisa dicabut dengan alas an apapun kecuali alasan moral yang sudah diseliki secara rohani bukan secara rohana. Secara rohani artinya sesuai dengan penilaian-penilaian bijak bersama Tuhan. Penyelidikan secara Rohana artinya penilaian yang banya mengikuti masukan luar yang kadang benar kadang penipuan akibat keadaan tertentu yang tidak menerimanya atau ujian iman sebagai calon imam. Mesti dipahami dari semua segi sambil melihat niat seorang calon imam.
Sudah disiapkan sekian lama maka kita tidak perlu ambil keputusan seenaknya. Masalah moral berbeda dengan masalah kecil-kecilan. Semua masalah diluar dari masalah panggilan ada harus dibedakan. Hal itulah yang selalu Nampak dalam setiap keputusan Uskup Jhon Philip selama menjadi uskup. Untuk semua itu pantas kita mengucap syukur kepada almarhum dan selebihnya pasti sudah diberikan upahnya di surga.
Disemaikan tidak terlepas dari perawatan. Perawatan terdiri dari penyiraman, pemupukan, dan pembersihan. Penyiraman, pemupukan dan pembersihan terus menerus menjadikan bibit tersebut tumbuh subur. Dengan persemaian dan perawatan seperti demikian, anak-anak akan menjadi buah di keuskupan Timika dan dia akan menjadi pencari bibit, penyemai dan bisa menghasilkan buah-buah hidup yang diharapkan.
Dari Kebun Sendiri
Dari Kebun sendiri artinya dari keuskupan sendiri, dari dekenat sendiri, dari paroki sendiri, dari stasi sendri, dari kombas sendiri, dan dari keluarga sendiri dan dan dari anggota umat dalam kebun Keuskupan Timika. Sungguh luar biasa upaya kesadaran Almarhum Jhon yang tidak disadari oleh para Imam dan Timpas sebagai pekerjanNya (Uskup dan Yesus).
Kebun sendiri maka pemilik wajib tahu tanaman yang ditanamnya. Semua jenis tanaman harus diketahui. Pemilik kebun juga tahu bibit tanaman mana yang cocok di medan seperti ini dan itu. Pengetahun dan penanaman yang tepat akan menghasilkan buah yang sesuai harapan. Cara itu yang diketahui sungguh oleh Mgr. Jhon yang kita cintai sebagai saudara, sahabat, bapak dan uskup kita.
“Kebun sendiri” soal kemandirian gereja. Mandiri menyemai, merawat, dan membuahkan hasil untuk kebun anggur-Nya. Gereja mandiri bukan lagi gereja misi. Gereja mandiri yang misioner adalah gereja yang bisa menghasilkan bibit, disemaikan, dirawat hingga menghasilkan buah. Hal ini pernah disadari Mgr. Jhon dan warisannya kita warisi sekarang (Uskup Baru dan Timpasnya).
Mendoakan Uskup Baru
Sebagai pengikut Kristus yang tahu, mau, sadar yang disimpulkan dengan ungkapan “merasa memiliki atas keuskupan Timika” diajak untuk mendoakan uskup kita yang baru. Saling mendoakan dan mendukung program keuskupan adalah hal yang mutlak sesuai janji iman dan ketaatan. Semoga Uskup Jhon juga mendoakan kita semua yang ditinggalkan dengan kewenangannya masing-masing dalam rangka: “saya mau memetik buah dari hasil kebun sendiri”. Kita saling mendoakan dan saling mendukung adalah tugas suci yang menyucikan jiwa-raga setiap orang (Pengikut Kristus). Tuhan bersama kita untuk membangun Keuskupan kita yang mandiri di sini dan misioner keluar keuskupan. Doaku dan berkat Tuhan senantiasa menaungi kita semua. ***
Penulis: Nikow (03 Agustus 2026)




