KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Pada tanggal 10 Desember, dunia kembali memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia, sebuah momentum yang berakar dari Deklarasi Universal HAM yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1948. Deklarasi ini bertujuan menegaskan martabat manusia, kesetaraan, serta kebebasan dasar yang melekat pada setiap pribadi manusia, tanpa kecuali.
Sejak pertama kali diperingati secara resmi pada tahun 1950, Hari HAM Sedunia tahun ini memasuki usia 75 tahun. Namun perjalanan panjang tersebut tidak menghapus fakta bahwa berbagai negara, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan serius terkait pelanggaran hak asasi manusia.
Catatan Reflektif bagi Bangsa Indonesia
Dalam konteks nasional, Indonesia memiliki sejarah panjang terkait persoalan HAM. Beragam kasus pelanggaran, baik yang termasuk kategori berat maupun yang masih berlangsung dalam dinamika sosial, menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sepenuhnya.
Secara khusus, situasi di Papua terus menjadi perhatian. Pertanyaan reflektif pun muncul dari berbagai pihak: bagaimana langkah konkret negara dalam menangani pelanggaran HAM yang telah terjadi sejak dekade 1960-an hingga hari ini? Momentum peringatan 75 tahun Hari HAM Sedunia disebut sebagai saat yang tepat untuk memperkuat komitmen penyelesaian persoalan tersebut secara bermartabat, adil, dan humanis.
Seruan Moral dan Rekomendasi
Dalam semangat Gereja yang selalu menempatkan martabat manusia sebagai pusat perutusan, beberapa imbauan disampaikan untuk direnungkan bersama:
- Kepada Pemerintah Indonesia, diharapkan semakin serius meredam, mengusut, dan menyelesaikan pelanggaran HAM di seluruh wilayah Republik Indonesia, terutama di Papua, dengan melibatkan Komnas HAM dan Kementerian Hukum dan HAM secara lebih intensif dan transparan.
- Negara diingatkan untuk memberi perhatian khusus pada banyaknya kasus pelanggaran HAM di Papua agar tidak lagi mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi masyarakat setempat.
- Kepada seluruh rakyat Indonesia, Gereja mengajak untuk memupuk sikap saling menghargai, menolak segala bentuk rasisme, serta membangun budaya dialog dan persaudaraan.
- Kepada masyarakat Papua, diimbau untuk terus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas antarwarga sebagai bagian dari upaya menjaga kedamaian.
- Dalam segala aktivitas sosial, ekonomi, budaya, maupun politik, seluruh pihak diajak untuk mengedepankan harkat, martabat, dan hak asasi setiap manusia.
Penutup: Martabat Manusia sebagai Jalan Perdamaian
Memperingati 75 tahun Hari HAM Sedunia, Gereja kembali mengingatkan bahwa persoalan HAM masih menjadi tantangan global. Namun dunia dapat menjadi tempat yang lebih manusiawi apabila setiap pribadi menyadari bahwa sesama adalah saudara, bagian dari dirinya sendiri.
Dengan semangat itu, Gereja mengajak seluruh bangsa untuk terus memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai fondasi hidup bersama.




