Majalah Gaiya

MENGAKHIRI MISA NOVENA SEMBILAN HARI UNTUK PAPUA DAMAI, OMK PAROKI MAUWA GELAR DRAMA

Minggu, 16 November 2025 Orang Muda Katolik (OMK) menutup rangkaian Misa Sembilan (09) dengan jalan drama yang berjudul (Perpustakaan Papua Berdarah: Mendengar Nurani Papuani).

Berdasaarkan Seruan Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA  melalui surat nomor 78/USK/2025/1.1.2 tertanggal 27 Oktober 2025 prihal “Seruan Misa Sembilan (09) berturut-turut” dengan wujudnya: Mendoakan para pihak yang bertikai-berkonflik, baik Pemerintah Pusat, TPNPB- TNI-POLRI, dan seluruh masyarakat Papua serta Indonesia agar membuka hati, duduk berdialog untuk menemukan solusi terbaik mengakhiri konflik bersenjata yang telah memakam ribuan korban manusia.

Pastor Paroki St. Petrus Mauwa, Dewan Pastoral Paroki, dan seluruh umat menjawab Seruan Uskup tersebut dengan menggelar Misa Sembilan Hari Berturut-Turut terhitung sejak Jumat, 06 November 2025 hingga Sabtu 15 November 2025 setiap jam 15:00 WP (Jam Tiga Sore) bagi Pemulihan dan Perdamaian Papua.  Paroki St. Petrus Mauwa menjadi Paroki Pertama yang lebih dulu mempersembahkan sembilan hari Misa untuk Perdamaian Papua di seluruh wilayah pastoral Dekenat Kamuu-Mapia-Piyaye (KAMAPI).

Sembilan Hari Misa bagi Perdamaian Tanah dan Manusia Papua ini Pastor Paroki khususkan bagi aktor-aktor, korban, dan pelaku di balik Konflik Papua dengan harapan besar agar mereka meninggalkan jalan kekerasan dan memilih jalan dialog damai sebagai sarana bermartabat mewujudkan Papua Tanah Damai.

Mengakhiri rangkaian litani Novena Sembilan Hari bagi Papua Tanah Damai ini di penghujungnya ada sebuah Drama semi-teater yang OMK tampilkan untuk sedikit memberikan gambaran ihwal apa yang sudah, sedang, dan selalu terjadi di Papua? Dan kenapa Uskup Bernard Baru menyerukan Doa bagi Perdamaian Papua? Drama ini ditampilkan usai Misa Penutupan di halaman Gereja Paroki St. Petrus Mauwa.

Tentang Drama “Perpustakaan Papua Berdarah”

Tampak depan sampul poster drama “Perpustakaan Papua Berdarah”.

Sesuai judulnya “Perpustakaan Papua Berdarah: Mendengarkan Nurani Papuani” adalah sebuah naskah karya seni gerak semi-teater. Semi-teater sebab ini belum memenuhi semua kriteria baku yang dibutuhkan dalam memdesain sebuah karya teater yang utuh dan paripurna berkaca pada segala keterbatasan yang ada.

Perpustakaan Papua merupakan bentuk dari perpustakaan hidup yang di dalamnya terpajang bacaan-bacaan bertajuk realitas berdarah di bumi Papua. Ia menawarkan bacaan tentang Papua dari multi-perspektif: Pengusaha, Penguasa, Militer, TPNPB, Mahasiswa/Aktivis, Masyarakat Adat, Mama Papua dan Tokoh Agama. Kesemua perspektif tersebut dikemas secara monologis-puitis-naratif dan diselingi dengan alunan musik-musik  instrumental yang tematik dan relevan.

Sebagaimana sebuah perpustakaan pada umumnya ada banyak jenis bacaan yang ia sajikan. Bedanya perpus ini, ia hidup, beda dengan perpustakaan mati yang menyajikan beragam jenis bacaan tekstual, perpustakaan hidup Papua yang penuh darah dan air mata ini menyajikan bacaan-bacaan kontekstual-paradoks: konflik.

Melalui perpustakaan ini orang tidak saja diajak untuk membaca naskah mati, melainkan mendengarkan naskah mati itu hidup, berontak, dan bersuara secara jujur dan terbuka melalui pemeran-pemeran yang mewakili sembilan aktor besar dalam konflik Papua. Tema umum yang ditampilkan adalah konflik Papua-Jakarta.

Pameran semi-teater ini kami maksudkan dalam rangka Seruan Gembala Uskup Keuskupan Timika Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA yang menghimbau seluruh umat di Keuskupan Timika mempersembahkan 09 hari untuk berdoa bagi perdamaian Papua pada 27 Oktober 2025 silam.  Kami di Paroki St. Petrus Mauwa, Dekenat KAMAPI, Keuskupan Timika sudah mulai berdoa bagi manusia dan tanah Papua dari Sorong-Samarai sejak Jumat, 07 November 2025.  Pameran teater ini kami selenggerakan di hari Minggu, menutup doa tanah Papua, tepatnya pada Minggu 16 November 2025.

Gambaran Umum Latar Adegan

Lukisan Papua karya Yanto Gombo dan Collective Udeido.

1961 menjadi tahun yang memilukan, secara tidak adil Papua dianeksasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik ideologi dan perang bersenjata mulai terlihat setelah PEPERA 1969 berlangsung secara cacat demokrasi, hukum, dan moral.

Kedamaian di Pulau Firdaus paling timur itu seketika hilang dan berubah menjadi medan konflik bersenjata yang Panjang, memakan banyak korban jiwa, alam pun ikut terberangus.

Di balik konflik Papua-Jakarta yang penuh darah dan air mata, rupanya ada siasat perampokan Sumber Daya Alam yang kejam oleh para kaum pemodal asing. Konflik sengaja mereka ciptakan agar pemilik ulayat meninggalkan tanah ulayatnya.

Layaknya seorang pencuri yang mencuri saat tuan rumah tertidur pulas atau saat ia pergi meninggalkan rumah beserta lumbung ternak-ternaknya. Begitulah cara kerja perampok harta alam Papua.

Pengusaha atau perampok sumber daya alam itu tidak berjalan sendiri, ia butuh pelicin agar supaya usaha-usaha perampokannya berhasil, untuk itu ia butuh teman atau mitra, yaitu penguasa (pemerintah). Biasanya sebelum menjabat dan menggeluarkan kebijakan yang pro-pengusaha, seorang penguasa sudah disogok kaum pemilik modal besar, balasannya adalah proyek-proyek besar.

Selain pemerintah atau penguasa, salah satu mitra yang menjadi ujung tombak perampok adalah militer (TNI-POLRI). Tugas aparat keamanan adalah mengamankan wilayah yang menjadi incaran atau target perusahan perampok. Orang-orang yang hidup di wilayah itu akan dibuat tidak tenang, tidak nyaman, dan akhirnya secara paksa mereka harus mengungsi jauh, meninggalkan kebun dan dusun-dusun ulayatnya.

Orang Papua tidak tinggal diam menonton fakta ketidakadilan dan penindasan yang ada. Beberapa orang-orang terpelajar mendirikan gerakan perjuangan dan pembebasan bersenjata.

Korban perampokan atas kerjasama antara pengusaha dan penguasa serta militer adalah masyasarakat adat. Melalui operasi militer yang berujung pada konflik bersenjata dengan TPNPB-OPM, masyarakat adat, anak-anak kecil, ibu-ibu hamil, dan para lansia harus pergi jauh dari kampung halamannya. Api konflik senjata dan bunyi bom membuang jauh ribuan manusia Papua ke kamp-kamp pengungsian.

Sekalipun perlawanan massif datang dari masyarakat adat dan kombatan bersenjata, pengusaha tidak pernah bertobat. Baginya Papua adalah miliknya, Papua adalah benar-benar tanah kosong, nyawa manusia dan alam di atasnya tidak menjadi fokus perhatiannya.

Melihat perjuangan masyarakat adat dan kombatan bersenjata, aktivis jalanan dan mahasiswa Papua pun tidak duduk diam. Mereka mulai memobilisasi gerakan dan massa. Mereka turun jalan membawa suara hati keluarganya dari tanah konflik, zona operasi militer, dan goa-goa pengungsian.

Di tengah-tengah konflik Papua yang memperlihatkan siasat jahat perampok asing dan penguasa setempat. Konflik yang mempertontonkan kontak senjata antara gerilyawan Papua dan militer Indonesia, juga yang melukiskan perjuangan mahasiswa dan pemuda di jalan-jalan kota besar. Ada suara ratapan yang tidak berbunyi, hanya berbisik, namun gemanya dasyat di langit-langit surga, itulah nyanyian prahara mama-mama Papua di tungku pengungsian.

Melihat, merenungkan, dan menanggapi persoalan yang ada, Gereja, Rumah Trintunggal Suci, Bunda Allah tidak tinggal diam. Sejak awal Gereja sudah memilih berada di pihak korban sebagaimana posisi kenabian dan kemartiran Yesus Kristus sendiri.

Penutup

Tampak wajah depan halaman Gedung Gereja St. Petrus Mauwa.

Menutupi rangkaian Doa Penutupan dan Drama ini Frater Siorus Degei dan Pastor Pastor, Pastor Bennyamin Magay menyampaikan beberapa hal terkait latar belakang Seruan Uskup Timika.

Frater Siorus Degei memberikan sedikit penjelasan kepada umat tentang apa yang mau OMK sampaikan di balik drama bertema “Perpustakaan Berdarah Papua: Mendengarkan Nurani Papuani”.

“Bapa-Mama, saudara-saudari sekalian, kenapa kita harus berdoa sembilan hari untuk Papua? Kenapa Uskup menyuruh kita Misa sembilan hari khusus untuk perdamaian Papua? Jawabannya karena Papua tidak sedang baik-baik saja, ada konflik dan perang besar di tanah Papua. Dan aktor-aktor di balik Konflik Papua-Jakarta tadi sudah kita lihat, ada pengusaha, penguasa, TNI-POLRI, TPNPB-OPM, masyarakat adat, aktivis-mahasiswa, mama-mama Papua, dan para tokoh agama. Untuk itu kenapa judulnya kami beri nama “perpustakaan” supaya orang bisa melihat secara langsung akar masalah yang sesungguhnya.” Pungkasnya.

Pastor Benny Magay juga menyampaikan bahwa drama ini sudah memperlihatkan kompleksitas konflik Papua. Bahwa selain konflik ideologi-politik, ada juga konflik-konflik ekonomi, sosial, dan budaya.

“Umat sekalian, di atas tanah ini ada banyak masalah. Tidak saja masalah ideologi, tetapi di dalamnya juga ada masalah ekonomi, masalah keamanan yang menjadikan tanah ini penuh konflik, karena banyak kepentingan bermain di atasnya. Untuk itu jangan pernah lupa tanah Papua, berbuat sesuatu supaya tanah ini menjadi damai, salah satunya dengan berdoa sebagaimana sudah kita laksanakan sembilan hari lalu. Jadi, mari saling bahu-membahu dengan panggilan kita masing-masing, harus selain ingat bahwa saya ini orang Papua, keberadaan saya sedang terancam, dan saya harus selalu ingat akan Papua dan memikirkan banyak caranya menciptakan Papua tanah Damai.” Ungkap Pastor Bennyamin Magay.

Akhirnya kru drama menghormati penonton, foto bersama, dan kembali ke belakang panggung diiringi instrumen Saksofon Kenny G “You Rise Me Up”.

Penulis: Fr. Siorus Ewainaibi Degei

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button