
Jumat Agung seharusnya menjadi ruang hening untuk mengenang penderitaan Yesus Kristus. Namun di Papua, keheningan itu tidak pernah sepenuhnya sunyi. Ia bercampur dengan jeritan panjang tentang ketidakadilan, kekerasan, dan luka yang belum sembuh.
Dalam iman Kristiani, Yesus Kristus disalibkan di Bukit Golgota di bawah kuasa Pontius Pilatus. Peristiwa itu menjadi lambang penderitaan, pengorbanan, dan kasih tanpa batas. Namun bagi sebagian orang Papua, kisah ini bukan sekadar peristiwa iman di masa lalu. Ia terasa hidup, dekat, dan seolah terus berulang dalam kenyataan sehari-hari.
Jumat Agung menjadi cermin untuk melihat realitas yang dihadapi masyarakat Papua hari ini. Masih ada pengalaman kehilangan, kekerasan, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang melukai martabat manusia. Di saat yang sama, tanah dan kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan terus mengalami tekanan, sementara sebagian masyarakat merasa semakin tersisih di tanahnya sendiri.
Refleksi ini bukan sekadar kritik, melainkan sebuah seruan iman: bahwa penderitaan tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi masih hadir dalam wajah-wajah manusia hari ini. Di tanah ini, luka sering kali belum sempat sembuh, namun sudah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, Jumat Agung tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan. Ia adalah panggilan untuk berani melihat kenyataan, bahkan ketika kenyataan itu terasa pahit. Salib Kristus mengingatkan bahwa Allah hadir dalam penderitaan manusia, dan tidak pernah tinggal diam terhadap ketidakadilan.
Dalam terang salib itu, kita semua diajak untuk membangun hidup yang lebih manusiawi: menolak kekerasan, menegakkan keadilan, serta merawat martabat setiap orang tanpa terkecuali. Tidak boleh ada lagi ruang bagi kebencian, penghinaan, atau sikap yang merendahkan sesama.
Perubahan itu dimulai dari lingkup yang paling kecil, yakni keluarga. Keluarga adalah gereja yang hidup, tempat kasih, damai, dan kemanusiaan pertama-tama dibentuk dan dialami. Dari sanalah harapan akan masa depan yang lebih baik dapat tumbuh.
“Bangunlah, lihatlah sekelilingmu. Jadikan keluargamu gereja yang hidup. Hiduplah dalam damai dengan semua orang, seperti kasih Kristus yang telah berkorban bagi manusia.”
Di wilayah seperti Dogiyai dan banyak tempat lain di Papua, Jumat Agung akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan iman. Ia menjadi ruang refleksi bersama—tentang luka, tentang harapan, dan tentang masa depan yang masih terus diperjuangkan.
Sebab di tanah ini, salib bukan hanya simbol. Ia adalah kenyataan yang masih dipikul—dalam sunyi luka panjang yang belum sepenuhnya sembuh.***




