KONFERENSI PERS SKP KEUSKUPAN TIMIKA – MILITERISASI & KRISIS KEMANUSIAAN DI INTAN JAYA

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Senin, 06 Juli 2026.
Situasi keamanan di Kabupaten Intan Jaya sepanjang Juni hingga awal Juli 2026 kembali menunjukkan eskalasi konflik bersenjata yang berdampak serius terhadap masyarakat sipil. Berbagai laporan dari media, organisasi masyarakat sipil, tokoh gereja, serta pemerintah daerah menunjukkan meningkatnya korban jiwa, pengungsian, kerusakan fasilitas sipil, dan terganggunya pelayanan dasar akibat intensitas operasi keamanan dan kontak senjata yang terus berlangsung. Pada saat yang sama, Mayjend. TNI Yudha Airlangga, sebagai pimpinan Komando Operasi Habema TNI juga telah menyampaikan penjelasan resmi mengenai sejumlah insiden yang terjadi di Intan Jaya. Perbedaan informasi antara laporan masyarakat sipil dan penjelasan aparat keamanan semakin menegaskan pentingnya investigasi yang independen, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Catatan Situasi HAM
Kami mencatat beberapa peristiwa yang memerlukan perhatian serius:
| No | Peristiwa | Waktu dan Tempat | Pelaku | Korban | ||
| 1 | Peledakan granat lewat Drone yang menyasar perkebunan
|
18 Juni 2026 di Danggoa Sugapa, Intan Jaya | TNI | Dua ibu:
1. Oktopina Hogajau (40) 2. Aliana Pogau (45) |
||
| 2 | Peledakan granat lewat Drone ke pemukiman | 22 juni 2026 di Zanamba Hitadipa, Intan Jaya | TNI | Makelon Majau | ||
| 3 | Pemerkosaan seorang ibu rumah tangga | JUNI 2026, di Pos TNI depan Kantor Bupati | Beberapa anggota TNI | Istri kepala distrik sugapa ugapa | ||
| 4 | Penangkapan semena-mena seorang pemuda | 24 Juni 2026 jam 11.30, di Yokatapa | Anggota Bribob dan Polisi | Paskalis Pogau (yang diduga sbg simpatisan OPM) | ||
| 5 | Penyisiran dan pembakaran rumah warga di Kampung Danggoa, Distrik Agisiga Intan Jaya
|
26-27 Juni 2026 | TNI | Aksi kontak senjata antara TNI vs TPNPB di Mbamogo-Danggoa Dis. Agisiga IJ. Dalam insiden ini 3 anggota TNI kena tembak. Rumah-rumah warga Dibakar oleh TNI. Dampaknya warga setempat menggungsi ke daerah yang dianggap aman. Anggota TNI yang terkena tembakan diterbangkan dengan pesawat Smart pada pkl 18.05 (jam yg tidak wajar untuk penerbangan rute pegunungan).
– Akibatnya: 7 orang TNI jadi korban, 2 diantaranya MD dan lainnya dalam perawatan medis dan akan dievakuasikan ke luar Intan Jaya. |
||
| 6 | Penangkapan terhadap dua masyarakat Sipil atas Nama: Arnol Agimbau dan Elianus Agimbau, Kedua orang tersebut di interogasi di Titigi,setelah di interogasi ternyata Hanya Arnol Agimbau yg di pulangkan ke Keluarga di Ibukota Sugapa,tetapi untuk Elianus Agimbau ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di semak-samak sekitar kampung Titigi. Begitu ditemukan mayatnya langsung di evakuasi di RSUD Sugapa. Dikuburkan pada 1 Juli 2026 | 29 Juni 2026 | TNI | Pendeta Elianus Agimbau dibunuh oleh TNI dan di sembunyikan dalam Semak-semak di pangkalan Mbamobogo (persimpangan antara Titigi, Danggoa, Mbamogo dan Mamba), ditemukan pada 30 Juni 2026 | ||
| 7 | Mobil Paroki St. Mikhel Bilogai ditembak oleh TNI Habema. Korban dalam insiden ini:
|
29 juni 2026 | TNI Habema |
|
||
| 8 | Selagi keluarga Agimbau mensemayamkan jenazah Pdt. Elianus Agimbau,
keluarga marga Tigau dan Sani temukan jenazah Okto Tigau/Sani di dekat Pos TNI Mamba Sugapa, pada siang jelang sore. Dalam evakuasi tersebut, bupati Intan Jaya turut langsung Bersama Masyarakat.
Pada malamnya jam 18.30 – 17.30 terdengar bunyi tembakan yang sangat ramai di kota sugapa. Belum ada informasi terkait ini. |
1 Juli 2026 | TNI | Okto Tigau/Sani (19) | ||
| 9 | Tertembaknya seorang ibu yang hamil tua | 2 Juli 2026 malam, di kampung Kugapa | TNI | Melkiana Duwitau | ||
Analisis
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan keamanan yang semakin intensif belum mampu memberikan perlindungan efektif kepada masyarakat sipil. Sebaliknya, eskalasi konflik justru memperbesar risiko:
- pelanggaran hak untuk hidup;
- pengungsian paksa masyarakat sipil;
- terganggunya pelayanan pendidikan dan kesehatan;
- rusaknya rumah ibadah dan fasilitas sipil;
- meningkatnya trauma sosial, terutama bagi perempuan dan anak-anak.
Dalam perspektif hukum HAM internasional maupun hukum nasional, setiap dugaan serangan terhadap warga sipil wajib diselidiki secara independen tanpa memandang siapa pelakunya. Negara memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi setiap warga negara.
Sikap
Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas memburuknya situasi kemanusiaan di Intan Jaya.
Kami menilai bahwa keselamatan masyarakat sipil harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan keamanan.
Kami mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik untuk menghormati prinsip-prinsip hukum humaniter dan hak asasi manusia.
Tuntutan
- Pemerintah Republik Indonesia segera mengevaluasi kembali kebijakan untuk menempatkan apparat keamanan nonorganik secara berlebihan di Intan Jaya, sebab senyatanya hanya meningkatkan eskalasi konflik yang melanggar hak asasi manusia
- Komnas HAM membentuk tim investigasi independen guna menyelidiki seluruh dugaan pelanggaran HAM yang terjadi sepanjang akhir Juni hingga awal Juli 2026.
- Kejaksaan Agung menindaklanjuti apabila ditemukan bukti adanya tindak pidana HAM sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
- Pemerintah menjamin perlindungan terhadap masyarakat sipil, tenaga kesehatan, guru, pemuka agama, perempuan, anak-anak, dan para pengungsi.
- Pemerintah membuka akses penuh bagi lembaga kemanusiaan, media, organisasi keagamaan, dan pemantau HAM untuk melakukan pemantauan independen di Intan Jaya.
Penutup
Kami menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai prioritas utama. Perdamaian yang berkeadilan hanya dapat diwujudkan melalui penghormatan terhadap hak asasi manusia, akuntabilitas atas setiap dugaan pelanggaran hukum, dan penyelesaian konflik secara damai melalui dialog yang bermartabat.
“Selamatkan Masyarakat Sipil. Hentikan Kekerasan. Tegakkan Hak Asasi Manusia di Intan Jaya.”





