DARI EKARISTI TURUN KE HATI: RATUSAN UMAT IKUTI PENDALAMAN IMAN BERSAMA ROMO KOKO, SCJ
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Minggu 5 Juli 2026 aula Rumah Retret Loresa Sp3 dipenuhi oleh 400an umat untuk mengikuti Pendalaman Iman bersama romo Koko SCJ tentang Ekaristi. Dengan kontribusi 30 ribu rupiah, mereka. mendapat snak dan makan. Acaranya dikemas dalam puji-pujian, pengajaran, diskusi dan adorasi.
Tuhan telah memberi talenta kepada romo Koko secara mengagumkan! Postur tubuhnya, cara dia bicara, metode dan isi pengajaran maupun doa-doanya sangat mempesona, menyentuh hati dan membuat umat antusias mengikuti acara ini dari jam 15.30 sampai jam 19.00 tanpa istirahat.
Di awal pengajaran, dia mengajak semua umat pria dan wanita, tua dan muda, sudah berkeluarga atau masih lajang untuk menyadari bahwa dunia dan hidup ini telah dikuasai oleh materi. Orang cenderung menilai persahabatan atau relasi secara materialistis. Istilah “punya uang abang sayang, habis uang abang ditendang!” bukan sekedar jargon tetapi sudah merasuki kehidupan kita. Relasi antara suami-istri; orangtua – anak pun sering bernada transaksional: anak disayang kalau berprestasi, nurut kata orang tua dan tidak bermasalah. Pasangan hidup disayang kalau bisa menghasilkan banyak uang. Seseorang dihormati karena kaya atau memiliki jabatan! Gaya hidup materialistis ini menutup “Hati” untuk saling mencintai dengan tulus, murni dan tanpa syarat.
Dalam acara itu ada saat peserta dibagi dalam dua kelompok yaitu mereka yang masih single dan yang sudah berkeluarga. Yang single bertugas merumuskan delapan sabda bahagia bagi orang tua. Diantara delapan sabda bahagia itu disebutkan: “Berbahagialah orangtua yang mengutamakan anak-anaknya. Berbahagialah orangtua yang punya waktu untuk ngobrol dengan anak-anaknya!” Sementara kelompok orangtua merumuskan 10 perintah orangtua untuk anaknya. Diantara 10 perintah itu dikatakan: “Jangan berbohong pada orangtuamu. Jangan kebanyakan main Handphone. Jangan menjual Tuhan Yesus!” Ketika dipertemuan dalam diskusi terbuka tentang sabda bahagia dan 10 perintah, terlihat mereka saling membela diri dan saling menyalahkan. Suana menjadi seru dan tegang karena tidak ada yang mau mengalah. Dalam situasi itu romo Koko mengajak semua peserta untuk menemukan mutiara dibalik perdebatan itu: sebetulnya ada apa dibalik sikap negative itu? Jawabnya: disana ada “hati yang terbunyi”, yaitu hati yang rindu untuk “saling mencintai dan membutuhkan!” Anak-anak rindu untuk dikasihi dan mengasihi orang tuanya. Demikian juga dibalik aneka larangan orangtua terhadap anaknya, mereka sangat mencintai anak-anaknya; mereka cemas akan masa depannya sehingga banyak pagar “jangan!” dipasang untuk melindunginya.
Dalam pengajaran selanjutnya, romo Koko menegaskan bahwa tidak ada orangtua yang sempurna, demikian juga tidak ada anak-anak yang sempurna. Yang ada adalah mereka mempunyai hati yang saling mengasihi dan saling membutuhkan, tetapi kita mempunyai keterbatasan dalam mengungkapkan! Orangtua membanding-bandingkan anaknya dengan anak tetangga! Maksud hati agar anaknya belajar seperti anak tetangga, tetapi dengan cara ini malah melukai anaknya sendiri! Maka kalau kita mengandalkan kekuatan manusiawi saja, kita akan jatuh ke dalam saling menuntut, melarang dan menyalahkan bahkan sampai melukai. Kita harus menimba kekuatan dari Ekaristi, dimana Allah telah mencintai kita secara total, tepat, tanpa syarat dan rela berkorban. Selain mencontoh bagaimana Allah mencintai kita, kita juga menimba kekuatan Ilahi untuk mampu mencintai secara tepat dan rela berkorban. Selanjutnya romo Koko menjelaskan sejarah dan makna Ekaristi yaitu Cinta dan Korban Allah untuk manusia. “Cinta sejati, murni dan tulus” menuntut korban!
Dalam Adorasi, dimana Sakramen Mahakudus ditaktakan, ada saat romo Koko mendoakan mereka yang sakit, mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi dan usaha, mereka yang merindukan dipulihkan relasinya; mereka yang dikuasai oleh kecemasan, dan belenggu hidup lainnya. Adorasi ditutup dengan berkat bersama. Betapa mengagumkan, tanpa ada perintah dari pemimpin ibadat, mereka saling membuat rekonsiliasi. Baik orangtua maupun anak-anak saling berangkulan; demikian juga antar sesama saling mendatangi untuk memaafkan dan menguatkan.
Sebagai orang Katolik, kita harus bangga mempunyai Ekaristi dan semestinya rajin mengikutinya tanpa terpengaruh oleh suasana perasaan, atau kotbahnya pastor atau faktor luar lainnya. Ekaristi adalah “sumber dan puncak kehidupan orang kristiani” – disana Allah yang mengasihi kita dengan cara Allah dan Ia rela berkorban untuk keselamatan jiwa kita. Kita harus menyesuaikan diri dengan cara Allah bukan sebaliknya Allah harus memenuhi keinginan kita manusia! Salve!. ***KOMSOS TIMIKA





