Majalah Gaiya

KELUARGA DIPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN CINTA KASIH KRISTUS

Di dalam setiap kehidupan keluarga dipanggil untuk mewartakan dan menghadirkan sukacita kasih Allah dalam hidup bersama keluarga. Mengapa demikian? Karena keluarga merupakan tempat bertumbuh dan berkembangnya buah-buah roh kehidupan. Buah-buah roh yang dimaksudkan adalah kebaikan dari Allah yaitu sukacita, kebahagian, kegembiraan, kedamaian, kesetiaan dan ketulusan hati untuk menerima setiap perbedan diri dan sesama. Dan keluarga dipanggil untuk berbuah berdasarkan ajaran iman Kristiani yaitu melalui Gereja keluarga “dipanggil untuk menempuh jalan yang sama, supaya menyalurkan buah-buah keselamatan kepada manusia” (Lumen Gentium, art 8) dalam membangun keluarga yang kudus.

Oleh karena itu, setiap keluarga dipanggi untuk mewartakan misi Allah dalam keluarga yaitu cinta kasih. Cinta kasih merupakan pantulan hidup serta partisipasi nyata dalam cinta kasih Allah terhadap setiap umat manusia, begitu pula cinta kasih Kristus Tuhan terhadap Gereja mempelai-Nya (Familiaris Consortio, art 17). Maka itu, kita semua melalui keluarga dipanggil untuk memuliakan Allah didalam kehidupan keluarga secara tulus dan ikhlas dalam hidup panggilan sehari-hari. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan menguraikan beberapa hal yang menjadi tolak ukur membangun keluarga Kudus dalam hidup sehari-hari sesuai dengan tindakan dan cara hidup yaitu membangun hidup bersama, hidup saling mencintai dan membangun kesetiaan dalam keluarga dan dipanggil untuk bertanggung jawab sebagaimana mestinya dalam hidup keluarga.

Hidup Bersama

Keluarga dipanggil untuk membangun hidup bersama melalui berdoa dan bersyukur bersama dan bertanggung jawab atas panggilan dan nasehat-nasehat Injil dalam hidup keluarga sebagai (Eccelesia Domistika) Gereja kecil. Keluarga adalah sekolah kecil untuk membangun hidup bersama dan mengajarkan nilai-nilai hidup keluarga dan Gereja sebagai anugerah dan rahmat kasih Allah yang mempersatukan untuk membangun cinta kasih Kristus yang menyelamakan.Keluarga dipanggil untuk membuka hati dan menerima kehidupan yang baru, berdasarkan pada panggilan hidup keluarga dengan membangun persaudaran sejati.

Keluarga perlunya membangun kehidupan yang baru bersama, sebagai satu ikatan dan membangun hidup bersama Kristus dalam keluarga. Karena keluarga dipanggil menjadi gembala bagi anak-anak dan orang lain dilingkungan masyarakat sebagai saudara dalam Kristus. Panggilan keluarga itu mengarahkan pandangan hidup keluarga untuk saling menghargai, mencintai, menghormati dan rela berkorban untuk mewartakan kabar gembira dalam hidup bersama keluarga sebagai keluarga Kristus. Maka itu perlunya keluarga memberikan keindahan hidup bagi keluarga dan keluarga lain didalam ruang lingkup hidup bersama sebagai saudara yang mempersatukan diri dengan ikatan sakramen perkawinan melalui cinta kasih Kristus yang sejati. Panggilan keluarga itu dipanggil dari ketidak mampuan dan ketidak-setian hidup keluarga. Oleh karena itu, dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia Paus Fransiskus menegaskan bahwa “Setiap keluarga, meskipun lemah, bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan dunia. Di sinilah kita memahami cara hidup keluarga dan arti hidup keluarga yang sesungguhnya” (AL.66). Kutipan ini mangajarkan kepada setiap keluarga untuk mengikuti dan menteladani hidup keluarga Nazaret dalam membangun keluarga kudus zaman ini, dengan membina dan mendorong kelurga untuk membangun keluarga kudus dalam hidup menggereja dan bermasyarakat dengan menghayati nilai-nilai Injil sebagai sumber cinta kasih Kristus yang mempersatukan dan menyelamatkan hidup keluarga.

Kehidupan keluarga dipanggil untuk hidup bersama, bersolidaritas dalam hidup keluarga dan membangun kerjasama sebagai satu keluarga kudus, membagikan sukacita kasih sebagai sarana utama dalam kehidupan keluarga; hal ini ditekankan dalam Konsili Vatikan II melalui Gaudium Est Spes (GS.51) bahwa “Keluarga menjadi sarana” bagi keluarga dan sesama yang lain dalam membangun keluarga kudus Allah. Oleh karena itu, keluarga dipanggil untuk saling menghidupkan keluarga yang satu dengan keluarga yang lain sebagai saudara. Panggilan keluarga sebagai sarana dan inspirasi bagi keluarga dalam menjaga nilai dan harkat perkawinan dalam membina hubungan keluarga secara solidaritas. Sarana keluarga yang diharapkan Gereja bagi keluarga adalah membangun hidup persekutuan dan cinta kasih Kristus dalam keluarga demi nilai hidup kebahagian dan kegembiran nilai Injil yang mempersatukan dan mencucikan hidup keluarga melalui janji suci perkawinan sejati.

Saling Mencintai

Keluarga Nazaret menjadi inspirasi bagi keluarga-keluarga pada zaman ini. Karena, Allah memanggil setiap kelurga untuk saling memahami cinta kasih Kristus dalam hidup keluarga dan Gereja untuk saling menghargai. Oleh karena itu, Paus Fransiskus melalui Anjuran Apostolik Amoris Laetitia menegaskan bahwa panggilan keluarga adalah suatu “keputusan untuk membentuk keluarga harus menjadi buah dari suatu pertimbangan panggilan” (AL.72). Hal ini mengajarkan kepada keluarga-keluarga untuk tetap setia dan bertanggung jawab atas panggilan keluarga kudus ini, dengan setia terhadap rahmat dan kasih karunia Kristus yang mempersatukan mereka untuk saling mencintai sebagai pasangan hidup dan menghayati sakramen perkawinan sebagai anugerah Roh Kudus yang mempersatukan.

Membangun keluarga kudus merupakan suatu harapan bagi semua orang/keluarga melalui cara dan tindakan hidup sehari-hari dengan setia dan saling mendengarkan satu sama lain, untuk membangun keluarga kudus melalui panggilan hidup suami-istri. Artinya bahwa setiap keluarga dipanggil untuk membangun relasi dan komunikasi yang baik untuk memperoleh kebahagian dan hidup berdasarkan pada kehendak Allah yaitu hidup saling mencintai dan melengkapi dalam kasih karunia Kristus yang mempersatukan. Cinta kasih keluarga menjadi modal dasar untuk membangun hidup bersama, sebagaimana yang diharapkan oleh Yesus Kristus sebagai kepala keluarga. Artinya bahwa setia keluarga hendaknya menjadi contoh dan teladan bagi yang lain dalam hidup bersama dan mengikuti nasehat-nasehat Injil menjadi teladan hidup panggilan mereka dalam membangun keluarga kudus. Melalui cinta kasih keluarga dipanggil dan disatukan dalam sakramen perkawinan sebagai dasar utama untuk mempersatukan hubungan perkawinan mereka.

Pada hakekatnya Allah memanggil keluarga-keluarga untuk saling mencintai dan menghormati sebagai satu kesatuaan. Maka itu, keluarga dipanggil untuk saling “Belajar ketabahan, kegembiran dalam pekerjaan, saling mencintai dengan jiwa yang besar, pengabdian yang besar kepada Allah dalam doa dan penyerahan diri”(Katekismus Gereja Katolik,1657) yang secara total dalam membangun keluarga kudus. Dalam hal ini, keluarga dipanggil untuk mengcontoi dan menteladani keluarga Kudus Nazaret yang mengangumkan, dalam membangun keluarga. Oleh karena itu, melalui Gereja keluarga-keluarga dipanggil dan dipersatukan melalui sakramen perkawinan menjadi dasar utama mereka untuk membangun cinta kasih Kristus.

Kesetiaan

Keluarga dipanggil untuk bertanggung jawab atas  kehidupan baru dalam membangun dan membina keluarga kudus berdasarkan pada nilai-nilai Injil yang hidup. Nilai Injil itu mengajarkan kepada keluarga untuk membangun iman dan membina hubungan keluarga sebagai anggota Gereja Kristus sejati. Keluarga dipanggil untuk saling membuka diri dalam hidup bersama dan membangun persekutuan cinta kasih Kristus dalam keluarga. Oleh karena itu, panggilan hidup keluarga adalah kasih karunia Allah bagi keluarga dan semua orang, maka itu perlunya keluarga bertanggung jawab dan menjaga nilai-nilai kehidupan keluarga dengan penuh bijaksana sebagaimana yang diharapkan oleh kasih karunia Allah itu dalam keluarga sebagai Gereja kecil (Eccelesia Domestika).

Melalui Gereja keluarga dipanggil dan memberikan nasehat-nasehat kepada keluarga agar keluarga dapat berkembang dan meneruskan kehidupan baru dengan membangun iman akan Kristus yang sejati. Hidup dan panggilan itu indah ketika keluarga membangun keluarga kudus bersama, karena Allah memanggil keluarga untuk menjaga nilai kekudusan iman keluarga dan bertanggung jawab dengan penuh setia. Oleh karena itu, Paus Fransiskus mempertegaskan panggilan keluarga dalam Seruan Apostolik Gaudete et Exultate bahwa “Semua orang beriman, dalam keadaan dan status manapun juga, dipanggil oleh Tuhan untuk menuju kesucian yang sempurna seperti Bapa sendiri sempurna, masing-masing melalui jalannya sendiri” (GeE.10). Paus Fransiskus mengutip dalam dokumen Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatik tentang Gereja Lumen Gentium (LG.11). Untuk itu, keluarga dipanggil untuk bertanggung jawab atas kehidupan keluarga sebagai suatu panggilan khusus yang harus dijaga dan dirawat atas kasih karunia Roh Kudus itu melalui keluarga dan Gereja.

Keluarga dipanggil untuk membangun kehidupan baru dan membangun keluarga yang harmonis dan tempat pabrik sukacita kasih dan kebahagian yang sesungguhnya, agar kehidupan keluarga dapat berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Maka itu, hendaknya keluarga dipanggil untuk membagikan sukacita dan kebahagian bersama dan membangun keluarga yang harmonis.Keluarga dipanggil untuk menjaga dan mendidik anak-anaknya dan menjaga nilai-nilai kehidupan bersama sebagai anugerah kasih Allah. Membagi sukacita untuk bergembira dan berbahagia bersama dalam membina hubungan yang harmonis, sehingga kehidupan keluarga dapat berusaha untuk setia pada janji perkawinan sejati.

Berdasarkan kehidupan keluarga dipanggil untuk mengikuti teladan keluarga Nazaret sejati, melalui hidup sehari-hari. Setiap manusia secara khusus keluarga dipanggil untuk saling mencintai dan mengasihi kehidupan keluarga dengan menaruh perhatian terhadap keluarga dan sesama sebagai satu persekutuan. Cinta dan kesetiaan keluarga perlu di kembangkan dan ditumbuhkan melalui hidup persaudaran demi nilai-nilai Injil yang hidup. Hal ini Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik Amoris Laetitia menegaskan bahwa panggilan keluarga itu adalah nilai “Injil dipenuhi keluarga” (AL 7). Artinya bahwa keluarga dipanggil untuk hidup dalam terang Injil yang selalu mendorong setiap keluarga untuk maju dan berkembang bersama mewartakan kabar gembira dalam keluarga dan lingkungan masyarakat dengan penuh bertanggung jawab atas cinta kasih Kristus yang menyelamatkan. Ditempat yang lain Paus Fransiskus mempertegaskan juga melalui Relatio Finalis bahwa panggilan dan Misi keluarga itu perlunya, memiliki “Pengetahuan yang efektif dan memadai untuk membantu, mendorong, dan pembinaan keluarga dan pemberian diri” (RF. 30), secara tulus dalam membangun keluarga kudus. Oleh karena itu, Keluarga dipanggil untuk mewartakan Misi Allah melalui tindakan hidup keluarga.

Bertanggung Jawab

Melalui Gereja keluarga-keluarga dipanggil untuk bertanggung jawab atas semua ciptaan-Nya dengan sukacita kasih dan belas kasih. Lebih-lebih dipanggil untuk bertanggung jawab atas anugerah dan rahmat kasih Allah yang terus-menerus memberikan kehidupan dan keselamatan, serta mencintai dan menghormati dan bertangung jawab atas semuanya.  dan saling melayani serta membagikan sukacita kasih Allah dalam hidup bersama sebagai satu keluarga. Maka itu, arti dari tanggung jawab adalah setiap manusia dipanggil untuk melibatkan diri dan peran dalam melayani sesama dalam komunitas iman dengan mengutamakan nilai kasih dan belas kasih, serta bertanggung jawab atas semua ciptaan-Nya. Setiap keluarga dipanggil untuk bertanggung jawab sukacita kasih Allah itu dalam hidup berkeluarga secara tulus dan ikhlas. Hakikat hidup berkeluarga adalah keluarga dipanggil untuk hidup dalam bekerjasama sebagai saudara, sahabat, teman secara disiplin dalam membangun kasih sayang. Oleh karena itu, setiap keluarg dipanggil untuk bertanggung jawab atas kasih karunia Allah itu sendiri didalam hidup keluarga dengan sungguh-sungguh. Maka itu, melalui pelayan pastoral keluarga dipanggil dan diajak untuk membimbing dan mengarahkan mereka untuk menghayati nilai hidup panggilan dengan setia dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, keluarga-keluarga dipanggil untuk saling mendukung, membagikan, melayani antara satu dengan yang lain di dunia yang sedang berubah-ubah ini dengan penuh bertanggung jawab semua dinamika kehidupan ini. Didalam situsi itu cara dan tindakan yang harus diambil adalah selalu bersedia dan bertanggung jawab atas semua keputusan itu dengan hati yang terbuka dan penuh rendah hati. Sehingga keluarga-keluarga merasa kehilangan nilai kebersamaan dalam keluarga itu perlunya dengan hati yang dingin bersedia untuk bertanggung jawab dengan baik dan benar dalam menjalani hidup keluarga. Maka itu, setiap kita harus menggunakan rahmat dan anugerah ilahi itu secara berani, tanpa jatuh dalam ketakutan.

Artinya bahwa hal itu merupakan suatu anugerah dan rahmat yang harus disyukuri didalam hidup kita, dengan itu setiap kita dipanggil untuk bertanggung jawab atas semua perutusan, karena hidup ini merupakan suatu hadiah yang penuh bermakna dan kita terus diajak untuk mendapat kesempatan hanya sekali sebagaimana hidup di dunia ini hanya sekali terjadi dan tak pernah terulang lagi, maka itu marilah kita bertanggung jawab atas semua kehidupan kita ini dengan hati terbuka, untuk menerima sesama dengan tulus hati dan belajar dari perumpamaan seorang samaria yang murah hati. Nasehat Injil ini mengajak kita semua untuk saling melayani dan bertanggung jawab atas kehidupan bersama. Kita diajak untuk membuka hati dan piiran untuk melihat semua situasi kehidupan kita dengan penuh rendah hati. Kerendahan hati Orang Samaria yang murah hati itu (Bdk. Lukas 10: 25-37) sebagai inspirasi hidup kita semua. Artinya bahwa kita perlunya saling melayani dan bertanggung jawab atas hidup ini dengan tulus hati.

Akhir tulisan ini saya mau mengajak kita semua bahwa panggilan kita semua adalah panggilan untuk membangun keluarga Allah yang satu dan kudus serta mulia, oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menjaga dan menghormati sebagai satu keluarga dan membangun persekutuan hidup bersama berdasarkan pada nilai-nilai Injili dalam keluarga dan lingkungan kita dimana kita ada dan hidup; sebagaimana Yesus sendiri mengajak untuk percaya pada nilai “Injil keluarga mulai dengan penciptaan manusia dalam rupa Allah yang adalah kasih dan memanggil laki-laki dan perempuan untuk mengasihi menurut gambar-Nya” (bdk. Kej 1:26, 27) untuk membangun keluarga yang harmonis dalam cinta kasih Kristus yang menyelamat hidup panggilan kita, berdasarkan tindakan hidup sehari-hari kita ini.

Penulis : Fr. Yuven Migani Belau

Keuskupan Timika

Official WEB Keuskupan Timika di kelola oleh Komisi Komunikasi Sosial

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button