Majalah Gaiya

JEJAK PELAYANAN DAVID UWIYA DAN AWAL PELAYANAN PAROKI TIMEEPA

Oleh: Andrias Gobay, S.Sos., MA (Wakil Ketua / ICAKAP Papua Tengah)

Pada tanggal 8 Desember 2025, sejumlah grup WhatsApp antara lain Keluarga Besar Tota Mapiha, Kerawam Katolik, Grup WhatsApp Pemuda Katolik, Grup WhatsApp ICAKAP Papua Tengah, dan Grup WhatsApp Dogiyai News mendadak menjadi heboh. Ramai orang membicarakan kabar duka tentang meninggalnya Almarhum David Uwiya.

Karena komentar-komentar di grup WhatsApp tersebut ramai ditanggapi oleh beberapa tokoh penting, saya kemudian mencoba menghubungi Bapak Emanuel Petege melalui pesan instan WhatsApp di nomor handphone pribadinya.

Bapak Emanuel Petege merespons dengan cepat dan menyampaikan suasana penuh rasa kehilangan, mengenang sosok David Uwiya dengan duka dan haru. Ia menggambarkan David sebagai pribadi yang baik, rendah hati, serta tulus dalam pelayanan. Bagi Bapak Emanuel, David bukan hanya seorang guru atau katekis yang pernah bertugas di Kampung Timeepa, tetapi lebih dari itu, ia dipandang sebagai seorang anak sekampungnya sendiri.

Dengan suara bergetar menahan sedih, Bapak Emanuel mengisahkan kembali kedekatan mereka sejak masa kecil dan masa bersekolah di SD YPPK Timeepa, sekalipun usia David lebih tua. Ia juga mengenang kisah-kisah masa muda mereka bersama sahabat lain seperti Apedius Gobay, Karel Tebai, Ivo Tebai, dan beberapa teman kecil lainnya yang turut mewarnai perjalanan hidup mereka.

Kisah ini kemudian mengalir pada perjalanan pelayanan David Uwiya Petege, khususnya pada masa awal karya pastoral di Paroki Kristus Penebus Timeepa, tempat ia mengabdikan diri dengan setia bagi umat dan Gereja.

Awal Berdirinya Paroki Timeepa (1962)

Paroki Timeepa berdiri sebagai sebuah paroki pada tanggal 30 November 1963 dan menjadi salah satu pusat pelayanan Gereja Katolik di wilayah Keuskupan Jayapura, Papua, pada masa itu. Wilayah pastoralnya sangat luas, melintang di antara pegunungan terjal yang memisahkan kampung-kampung. Di bagian selatan, wilayah paroki membentang sepanjang Kali Dihai atau dikenal juga sebagai Tuguda/Toubaikebo. Ke timur, pelayanan meliputi deretan stasi mulai dari Megaikebo, Omakapau, Obaikagopa, Abaimaida, Bomomani, Ekago, Ugida, Epomani hingga mencapai Wagiha. Sementara di bagian utara, wilayahnya melintasi Pegunungan Weyland menuju Higikebo dan Nahauwo di daerah Dipa.

Dalam menjalankan amanat perutusannya, Pastor Frans Roozen, OFM, menempatkan Guru Katekis Hilarius Petege di Higikebo pada tahun 1971 dan Katekis Kansius Butu di Kampung Wagiha pada tahun 1973. Di kampung-kampung lain, para guru atau Katakis telah lebih dulu ditempatkan sejak tahun 1960-an, menjadi ujung tombak pewartaan di tengah medan pelayanan yang tidak mudah ditempuh.

Pada tahun 2002, Bomomani resmi berdiri sebagai paroki tersendiri setelah dimekarkan dari Paroki Kristus Penebus Timeepa. Pemekaran ini dilakukan karena wilayah Obaikagopa hingga Epomani telah berkembang dalam pelayanan yang kemudian berada di bawah Paroki Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani. Dengan demikian, proses menggereja yang sebelumnya berada sepenuhnya di bawah Paroki Kristus Penebus Timeepa diteruskan dan dikembangkan lebih jauh oleh Paroki Maria Menerima Kabar Gembira Bomomani.

Peran Guru Katekis (Sejak 1971)

Setelah para calon pewarta mengikuti Kursus atau Pembinaan Katekese pada tahun 1971, Pastor Frans Roozen, OFM yang pada saat itu menjabat sebagai Pastor Paroki Timeepa yang ketiga, menempatkan para guru katekis atau pewarta di berbagai stasi Paroki Kristus Penebus Timeepa. Penempatan ini dilakukan sebagai upaya memperkuat pelayanan pastoral yang wilayahnya sangat luas dan berjauhan antara satu stasi dengan stasi lainnya.

Sebagaimana lazimnya di paroki-paroki wilayah Pegunungan Papua, perayaan Natal dan hari-hari besar Gereja biasanya dipusatkan di paroki. Hal yang sama juga terjadi di Paroki Kristus Penebus Timeepa, di mana umat dari berbagai stasi akan berkumpul untuk merayakan momentum iman bersama-sama.

Awal Kisah David Uwiya (1971)

Salah satu anak Siriwo dari Kampung Epomani bernama David Uwiya, lahir pada tahun 1957. Pada Perayaan Natal tahun 1971, ketika usianya sekitar 14 tahun, ia ikut berjalan bersama umat Stasi Epomani dan katekis mereka, Kaspar Petege, menuju Paroki Timeepa untuk mengikuti Perayaan Natal yang dipusatkan di sana.

Setelah perayaan selesai, Bapak Zakarias Petege Kepala Sekolah SD YPPK Omakapau (Diyoudimi) meminta agar David tinggal bersama keluarga mereka. Ia kemudian mengangkat David sebagai anak, sebab pada waktu itu ia baru memiliki satu anak perempuan, yaitu Rosa Petege (yang kemudian menjadi istri mantan Bupati Deiyai, Almarhum Tance Takimai). Sejak saat itulah David dibesarkan dalam keluarga Zakarias Petege, dan namanya kemudian dikenal sebagai David Uwiya Petege.

Pendidikan David Uwiya (1971–1979)

Setelah tahun 1972, Anton Agapa yang sebelumnya bertugas sebagai Kepala Sekolah SD YPPK Timeepa dipindahkan ke Idakebo. Pada tahun 1973, Bapak Zakarias Petege ditugaskan sebagai Kepala Sekolah SD YPPK Timeepa. Bersama keluarganya, termasuk David Uwiya Petege, ia pindah ke Timeepa. David kemudian melanjutkan pendidikannya di SD YPPK Timeepa hingga menyelesaikannya pada tahun ajaran 1978/1979.

Upaya Masuk SMP YPPK Epouto

Sebelum tahun 1978, tahun ajaran baru biasanya dimulai pada bulan Januari dan kenaikan kelas dilaksanakan pada bulan Desember, tepat menjelang perayaan Natal. Namun, kurikulum nasional mengalami perubahan pada tahun ajaran 1978/1979. Sejak itu, tahun ajaran baru diberlakukan pada bulan Juni 1978, dan kenaikan kelas pertama dalam sistem baru dilakukan pada Juni 1979. Dengan demikian, satu tahun ajaran pada masa itu terbagi menjadi satu semester pada tahun berjalan dan satu semester pada tahun berikutnya sistem yang masih digunakan hingga sekarang.

David dua kali berusaha masuk SMP YPPK Epouto di Moanemani. Upaya pertama ia lakukan setelah tamat SD pada tahun ajaran 1978/1979, namun ia belum berhasil lulus seleksi. Upaya kedua dilakukan setelah ia mengulang kelas VI pada tahun 1980/1981, tetapi hasilnya tetap sama David kembali tidak lulus masuk SMP YPPK Epouto.

Meski demikian, kegagalan berulang itu tidak mematahkan semangatnya. David kembali ke kampung dan mengabdikan dirinya untuk membantu keluarga serta terlibat dalam pelayanan gereja di Timeepa.

Mengabdi sebagai Guru Honor (Sejak 1981)

Pada awal tahun 1981-an, SD YPPK Timeepa mengalami kekurangan guru untuk mengajar di kelas I dan II. Melihat kemampuan, kedisiplinan, dan semangat yang dimiliki oleh David Uwiya, Kepala Sekolah Zakarias Petege kemudian menunjuknya sebagai guru honor di sekolah tersebut.

Dengan kemampuan serta daya juang yang dimilikinya, David membantu para guru sebagai tenaga pendidik yang dapat diandalkan. Ia melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, menjaga disiplin tinggi, serta menunjukkan loyalitas dan dedikasi kuat dalam memanusiakan manusia melalui pendidikan.

Dari tangan David, lahir banyak murid yang kelak menjadi tokoh penting dalam berbagai bidang seperti pemerintahan, politik, pendidikan, dan dunia usaha. Beberapa di antaranya adalah Yulianus Kuayo, Kristianus Mote, Pontianus Petege, Bonivasius Mote, Edmondus Petege, Sesilius Wakei, Yosep Butu, Helena Wakei, Yosepina Wakei, Sabinus Petege, serta banyak murid lainnya.

David dikenal sebagai pengajar yang luar biasa sabar dan berdedikasi. Ia mendidik anak-anak dari kampung terpencil untuk berani bermimpi lebih besar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Pelayanan Gereja, Pewarta/Katekis (1981–1991)

Selain mengajar di SD YPPK Timeepa, David juga membaktikan diri sebagai tenaga pastoral di Gereja Katolik Kristus Penebus Timeepa. Pada periode 1981–1991, ia mendampingi Katekis Theo Tebay dalam melayani umat di wilayah Paroki Kristus Penebus Timeepa yang memiliki cakupan pelayanan sangat luas. Hingga akhir tahun 1991, ia tetap menjalankan peran ganda: sebagai tenaga pengajar sekaligus petugas pastoral di paroki tersebut.

Ketika pelayanan di Timeepa mulai diperkuat oleh para pewarta baru termasuk Diakon Fransiskus Aim David Uwiya kembali ke kampung asalnya, Epomani, pada tahun 1992. Di sana, ia melanjutkan tugas sebagai katekis sekaligus Ketua Stasi, melayani umat di wilayah Siriwo, khususnya Stasi Epomani, Stasi Pouto, serta kampung-kampung sekitar. Ia melayani dengan setia, berjalan kaki menembus medan berat, mengajar iman, memimpin doa, dan menjadi penopang spiritual bagi umat yang ia dampingi.

Sosok Penghubung Siriwo dan Dunia Luar

Wilayah Siriwo dikenal kaya sumber daya alam, namun minim sumber daya manusia. Dalam situasi seperti itulah peran David menjadi sangat penting. Ia bukan hanya seorang pewarta, tetapi juga penyambung komunikasi antar kampung dan penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Ia menjadi jembatan bagi masyarakat Siriwo, wakil suara umat yang jarang terdengar, serta komunikator yang membuka hubungan antara Siriwo dengan Meepago dan dunia luar. David adalah cahaya kecil, lilin kecil yang menerangi Siriwo dan membawa harapan bagi banyak keluarga serta generasi muda.

Akhir Perjalanan Hidup (Desember 2025)

Pada Desember 2025, David Uwiya mengalami kecelakaan motor yang tragis di jalur Nabire–Dogiyai–Deiyai–Paniai. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, umat, para murid yang pernah dibimbingnya, serta bagi seluruh keluarga besar Siriwo.

Warisan Seorang Pewarta

David Uwiya Petege adalah sosok yang sederhana, namun karyanya besar dan abadi. Ia adalah seorang guru, pewarta, komunikator masyarakat, pelayan Gereja, serta pembawa terang bagi Siriwo. Walau kini ia telah pergi, cahayanya tidak pernah padam. Ia tetap hidup sebagai pendoa bagi Siriwo, Meepago, dan Papua.

Turut berdukacita atas wafatnya Bapak David Uwiya Petege. Lilin kecil itu telah padam, tetapi sinarnya tetap menerangi jalan banyak orang. David Uwiya dimakamkan di kampung halamannya, Kampung Epomani, pada tanggal 10 Desember 2025.

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button