Majalah Gaiya

KETIKA SERULING FIRMAN TIDAK DIDENGAR: SOLIDARITAS, ADAT, DAN HATI NURANI YANG DIGUGAT YESUS

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Di berbagai wilayah Papua termasuk kasus nyata PSN di Merauke masyarakat adat menyampaikan penolakan atas proyek yang menyentuh tanah leluhur mereka. Mereka berbicara dengan alasan yang sangat mendasar: tanah itu bukan sekadar hamparan kosong, tetapi ruang hidup, altar budaya, dan warisan marga. Namun suara itu sering tak terdengar. Pemerintah melangkah, program berjalan, dan masyarakat adat kembali menjadi pendengar pasif dari keputusan yang menyangkut hidup mereka sendiri.

Di sinilah firman hari ini menggugat dunia: “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari; kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak berkabung.” (Mat 11:17).

Firman ini seperti cermin besar: ada suara yang diperdengarkan, tetapi hati manusia bisa memilih untuk tidak merespon.

Yang bersuara adalah masyarakat adat tua-tua marga, mama-mama penjaga sagu, para pemuda yang menjaga batas hutan, dan anak kecil yang menghafal letak batu keramat lebih cepat daripada menghafal nama pejabat.

Yang “tidak menari dan tidak berkabung” adalah mereka yang menutup telinga: institusi yang kuat, pemegang kebijakan, para pelaksana proyek yang bergegas mengejar target.

Yesus mengecam ketidakpekaan seperti ini. Mereka yang tak peduli Ia sebut sebagai “orang yang tidak mau tahu” mendengar seruling tetapi tidak menari, melihat duka tetapi tidak tergugah.

Merauke menjadi contoh paling dekat, ketika Proyek Strategis Nasional berjalan meski komunitas adat sudah menyatakan keberatan. Mereka mengajukan alasan budaya, alasan ekologi, dan alasan spiritual. Namun dalam praktik, keberatan itu seperti embun yang hilang sebelum matahari naik.

Situasi ini persis gambaran Yesaya:

“Sekiranya engkau memperhatikan perintah-Ku, damai sejahteramu akan mengalir seperti sungai.” (Yes 48:18)

Jika keadilan dihiraukan, damai pun surut.

Pola pengabaian suara adat bukan hal baru. Dari masa kolonial hingga era otonomi khusus, suara adat sering datang terakhir, padahal mereka tinggal paling dulu.

Hari ini pola itu terulang, hanya tampil dengan pakaian modern: regulasi, dokumen teknis, atau rapat-rapat formal yang tidak pernah benar-benar menyentuh isi hati masyarakat.

Di tengah masa Adven, firman mengingatkan: inilah waktu memeriksa kepekaan nurani.

Karena dunia modern lebih menghargai percepatan pembangunan daripada kedalaman relasi kemanusiaan. Ketika kelas sosial mengeras, ketika jurang kaya-miskin melebar, maka ketidakpedulian muncul sebagai “habitus baru” seperti disebut dalam teks asli.

Matius 11 menegur keras habitus ini. Orang sezaman Yesus mencap Yohanes Pembaptis “kerasukan”, dan menuduh Yesus “pelahap dan peminum”. Dua tokoh yang membawa keselamatan justru dianggap masalah.

Begitu pun masyarakat adat: mereka yang mempertahankan martabat sering dicap penghambat pembangunan.

Dampaknya bersifat ganda.

Yang tampak: tanah ulayat terganggu, sungai menyempit, hutan terpotong.

Yang tidak tampak: luka identitas, trauma sosial, hilangnya rasa hormat, dan kehancuran hubungan antara masyarakat dan pemerintah.

Contoh kecil namun tajam:

Seorang mama di Merauke bercerita bahwa ia kini berjalan dua jam untuk mencari sagu, karena hutan tempat ia biasa mengambil sagu berubah menjadi lokasi pembukaan lahan. Sambil menunduk ia berkata, “Sagu bukan makanan saja. Itu hidup kami.”

Firman Mazmur 1 terasa hidup di wajahnya: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik…”

Orang fasik dalam konteks ini adalah mereka yang menggunakan kekuatan untuk memutus hubungan manusia dengan tanah yang Tuhan percayakan

Kaitannya dengan Firman Hari Ini

Firman dari Yes 48, Mazmur 1, dan Mat 11 menyatu menjadi satu garis:

Allah membentuk hati manusia agar peka-peka melihat sukacita orang lain, peka merasakan dukacita orang lain, peka mendengar seruan orang yang tertindas.

Yes 48 mengajak Israel menaati firman, sebab ketaatan melahirkan damai.

Mazmur 1 menuntut manusia memilih jalan kebenaran, bukan kepentingan sesaat.

Matius 11 menggugat mereka yang tidak peduli yang mendengar tetapi tidak merespon, yang melihat tetapi tidak tersentuh.

Ketiga ayat ini berjumpa dalam persoalan adat di Papua:

ketika suara masyarakat adat tidak didengar, firman Tuhan sedang diperlakukan seperti seruling dan kidung duka yang diabaikan.

Ajakan Renungan

Mari keluar dari egoisme dan kelompok.

Belajar menari ketika seruling sukacita dibunyikan bersyukur bersama yang bahagia.

Belajar berkabung ketika kidung duka terdengar berdiri bersama yang terluka.

Belajar mendengar suara adat karena di sanalah gema hati Allah bekerja.

Semakin rendah hati dan sederhana seseorang, semakin tajam kepekaan nuraninya.

Semakin tajam kepekaan nurani, semakin tepat sasaran amal kasihnya.

Dan semakin tepat amal kasih, semakin kuat berkat keselamatan yang Tuhan limpahkan.

Semoga hati kita tidak menjadi generasi yang ditegur Yesus, tetapi menjadi keluarga rohani yang menari bersama sukacita sesama dan menangis bersama duka mereka.

Tuhan memberkati perjalananmu hari ini. *** EAG

Allo
Author: Allo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button