Reflekasi ini berangkat dari Injil Yohanes 15:1-8 dimana Yesus tampil sebagai pokok Anggur yang benar dan menjadi buah yang baik bagi setiap kita di zaman ini. Dalam dunia modern yang serba instan ini, berbuah dalam Kristus membutuhkan kesetiaan dan ketekunan. Seperti dikatakan oleh Mother Teresa: “Kita tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi untuk setia”. Kutipan dari Mother Teresa ini, mengandung pada makna spiritual yang sangat dalam. Artinya bahwa kita dipanggil untuk setia menjalankan panggilan dan tugas hidup kita, sekecil atau sesulit apa pun itu, maka kita akan menghasilkan buah yang benar dalam hidup kita bersama. Oleh karena itu, kita diundang melalui Injil ini untuk keluar mewartakan belas kasih Tuhan dan keluar dari zona nyaman kita untuk mengkomunikasikan iman kepada sesama kita dalam hidup ini.
Iman akan bertumbuh dan berbuah ketika dibagikan dengan kerelaan hati yang besar. Pokok Anggur mengungkapkan relasi iman yang sangat mendalam antara Dia dan para murid-Nya, sebagaimana di tekankan dalam Injil-Nya “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya… Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (lih. Yoh 15:1, 4a). Pemahaman Injil ini dapat menegaskan kepada kita bahwa baik keadilan dan kasih yang bermuara pada cinta akan sesama. Artinya bahwa kita sebagai ranting-ranting dari pokok anggur itu, kita semua dipanggil untuk hidup dan tinggal di dalam diri-Nya dan menghasilkan buah yang baik dan benar yang berlendaskan pada nilai “kasih.yang tetap berkobar” (lih. Luk 12:24).
Buah-buah kasih yang dimaksudkan oleh Yesus adalah kasih, sukacita, kedamaian, kesejahteran, kegembiran, kebahagian, keadilan, kebaikan, dan cinta. Dalam konteks ini, mengutip dari homili Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus oleh Paus Benediktus XVI (2006) menegaskan bahwa “Kristus adalah pokok anggur yang memberikan kehidupan kepada umat manusia melalui kasih-Nya”, sehingga relasi dengan Kristus adalah sumber kehidupan sejati. Oleh karena itu, Gereja sebagai Tubuh Kristus pun dipanggil untuk menjadi ladang yang subur bagi buah-buah kasih Allah. Dalam dokumen Konsili Vatikan II melalui Lumen Gentium menekankan bahwa; “Gereja, dalam Kristus, adalah sakramen…. persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia” (lih. LG, 1).
Kita semua dipanggil untuk hidup bersatu, dan menghasilkan buah yang baik sebagai satu keluarga Allah, dan mampu melakukan apapun yang baik untuk tinggal bersama-Nya, karena Yesus sendiri berkata kepada setiap kita melalui Sabda-Nya untuk: “Tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (lih. Yoh 15:5). Pesan Injil ini, mencerminkan pada nilai keadilan yang adalah buah dari kasih Sang pemberi kehidupan kita. Nilai kasih-Nya mengajarkan kita untuk percaya dan menghasilkan buah melalui tindakan hidup kita secara nyata, karena kasih-Nya akan menjamin “Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah” (lih. Yoh 15:2b). Perikop ini merupakan perintah kasih yakni pembaktian diri demi kebaikan hidup bersama. Paus Yohanes Paulus II melalui Sollicitudo Rei Sosialis menyatakan pada aspek solidaritas. Solidaritas adalah tekad yang teguh dan tabah untuk membaktikan diri kepada kesejahteraan umum, artinya kepada kesejahteraan semua orang dan setiap orang (lih. SRS 38). Menjadi buah yang baik adalah mendatangkan sukacita dan kegembiran bagi sesama, supaya mereka hidup dalam bimbingan kasih Tuhan dan menjadi pokok anggur yang benar.
Akhirnya, panggilan untuk tinggal dalam Kristus bukan sekadar ajakan moral, tetapi suatu undangan khusus bagi kita semua untuk hidup dalam kasih, dan menghasilkan buah rohani yang memuliakan Allah. Injil Yohanes di atas mengingatkan kita semua, supaya menjadi buah yang benar, mendengarkan, dan menghidupi sabda-Nya dengan penuh setia. Yesus mengajarkan kepada kita untuk menghasilkan buah dan membagikannya kepada sesama kita. Dalam konteks ini, Paus Fransiskus melalui ensiklik Evangelii Gaudium menekankan bahwa “perjumpaan pribadi dengan Yesus, seorang murid sejati akan diubah dan terdorong untuk membagikan buahnya kepada sesama” (lih. EG, 264). Melalui artikel ini, kita semua dipanggil untuk menjadi buah dan tanda belas kasih Allah bagi keluarga, komunitas, lembaga, lingkungan masyarakat sosial, dan bagi sesama kita di zaman ini.
Penulis: Fr. Yuven Migani Belau




