DARI KEPRIHATINAN PASTORAL, SMP YPPK DAN ASRAMA EMANUEL MAPURUJAYA MENJADI RUMAH HARAPAN ANAK-ANAK MIMIKA
MAPURUJAYA, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Berawal dari keprihatinan melihat anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan, Paroki Emanuel Mapurujaya menghadirkan SMP YPPK Emanuel Mapurujaya dan Asrama Emanuel Mapurujaya sebagai wujud nyata pelayanan Gereja di bidang pendidikan. Berlokasi di kompleks Gereja Katolik Paroki Emanuel Mapurujaya, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, sekolah dan asrama ini mulai beroperasi pada Juni 2025.
Kehadiran keduanya menjadi jawaban atas tantangan yang dihadapi anak-anak Mimika terutama dari Stasi Mioko. Jarak tempuh yang jauh dan keterbatasan ekonomi keluarga kerap menjadi hambatan untuk melanjutkan pendidikan. Karena itu, Gereja berinisiatif menyediakan sekolah sekaligus tempat tinggal yang aman agar anak-anak dapat belajar dengan tenang tanpa terbebani biaya.
Saat ini, Asrama Emanuel menampung 35 anak, terdiri atas 12 siswa putra dan 23 siswi putri. Sementara itu, SMP YPPK Emanuel Mapurujaya memiliki 36 peserta didik, yakni 13 siswa kelas I dan 23 siswa kelas II. Seluruh penghuni asrama berasal dari Stasi Mioko.

Pembina Asrama sekaligus guru SMP YPPK Emanuel Mapurujaya, Vinsensius Narang, mengatakan bahwa kehidupan di asrama dirancang untuk membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, dan beriman.
Setiap hari, anak-anak memulai aktivitas dengan bangun pagi dan mengikuti Perayaan Ekaristi pada pukul 05.00 WIT. Setelah sarapan, mereka mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Sepulang sekolah, mereka memasak dan makan siang bersama, kemudian beristirahat.
Memasuki sore hari, para penghuni asrama mengikuti berbagai kegiatan seperti olahraga, kerja bakti, berkebun, dan aktivitas lainnya yang melatih tanggung jawab serta semangat kebersamaan. Setelah mandi dan makan malam, mereka melanjutkan belajar mandiri yang juga diisi dengan pembinaan rohani oleh pastor maupun frater. Tepat pukul 22.00 WIT, seluruh kegiatan ditutup dengan doa malam sebelum beristirahat.
Yang menarik, seluruh pelayanan di sekolah maupun asrama diberikan tanpa dipungut biaya. Kebijakan ini menjadi bentuk keberpihakan Gereja kepada anak-anak dari keluarga sederhana agar mereka memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.
Di balik rutinitas yang disiplin, tersimpan cerita sederhana dari anak-anak yang kini menjadikan Asrama Emanuel sebagai rumah kedua mereka.
Anakletus Nekeyau, siswa kelas I SMP YPPK Emanuel Mapurujaya, mengaku senang tinggal di asrama. Baginya, kehidupan bersama teman-teman, belajar dengan teratur, dan didampingi para pembina menjadi pengalaman baru yang membahagiakan.
”Saya senang tinggal di asrama. Di sini kami bangun pagi, ikut misa, sekolah, belajar bersama, dan banyak teman. Saya mau rajin belajar supaya bisa membanggakan orang tua,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Isak Yohanes Iri, siswa kelas I lainnya. Ia mengaku memilih tinggal di asrama karena mengikuti jejak kakaknya yang lebih dahulu menetap di sana.
”Saya ikut kakak yang sudah tinggal lebih dulu di asrama. Di sini saya merasa senang karena banyak teman, bisa sekolah dengan baik, dan setiap hari kami juga diajarkan untuk berdoa dan hidup disiplin,” ujar Isak.
Bagi kedua siswa ini, asrama bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang untuk bertumbuh dalam persaudaraan, pendidikan, dan kehidupan iman.

Pastor Paroki Emanuel Mapurujaya, Pastor Gusti Yerwuan, OFM, mengatakan bahwa kehadiran sekolah dan asrama lahir dari pengalaman pastoralnya ketika mengunjungi umat di stasi-stasi dan juga inisiatif Dewan Paroki Emanuel Mapurujaya. Ia melihat banyak anak memiliki semangat belajar yang tinggi, tetapi terbentur persoalan akses pendidikan.
”Saya melihat banyak anak yang sebenarnya memiliki semangat belajar yang tinggi, tetapi mereka terbentur oleh jarak, keterbatasan ekonomi, dan akses pendidikan. Sebagai Gereja, kami merasa terpanggil untuk menghadirkan solusi. Karena itu, kami membangun sekolah dan asrama ini agar anak-anak memiliki kesempatan belajar, bertumbuh dalam iman, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ungkap Pastor Gusti.
Menurutnya, pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari misi Gereja dalam mewartakan kasih Kristus.
”Kami tidak hanya ingin mencerdaskan anak-anak, tetapi juga membentuk karakter mereka. Mereka dibimbing untuk hidup disiplin, bertanggung jawab, saling menghargai, mencintai doa, dan memiliki semangat melayani. Harapan kami, kelak mereka kembali menjadi pribadi-pribadi yang membangun keluarga, Gereja, dan masyarakat di tanah Papua,” tambahnya.
Kehadiran SMP YPPK Emanuel Mapurujaya dan Asrama Emanuel Mapurujaya menjadi bukti bahwa karya pastoral Gereja tidak berhenti pada pelayanan sakramental, tetapi juga diwujudkan melalui pelayanan pendidikan yang menyentuh kebutuhan nyata umat. Dari pesisir Mimika Timur, benih-benih masa depan sedang ditanam melalui pendidikan, pembinaan iman, dan kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Sekolah dan asrama ini diharapkan terus menjadi tempat lahirnya generasi Papua yang cerdas, berkarakter, beriman, dan siap mengabdikan diri bagi Gereja, masyarakat, serta masa depan tanah Papua.***(JIMMY R)




