MENJAGA KEHIDUPAN, MEMBANGUN PERDAMAIAN: KONFLIK KWAMKI NARAMA HARUS DISELESAIKAN MELALUI DIALOG
P. BENYAMIN MAGAI, PR
Hidup manusia adalah sesuatu yang sangat berharga. Setiap hari, melalui berbagai pemberitaan di media sosial maupun media massa, kita masih menyaksikan kabar tentang kematian Orang Asli Papua (OAP) maupun non-Papua akibat berbagai situasi konflik dan kekerasan. Kondisi ini menjadi keprihatinan bersama karena tidak jarang nyawa manusia menjadi korban dari pertikaian yang berkaitan dengan ideologi, kepentingan kelompok, maupun konflik antarsuku.
Tindakan kekerasan hingga menghilangkan nyawa manusia merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Karena itu, semua pihak perlu bersama-sama mencari jalan keluar yang tepat dan bermartabat untuk menangani berbagai konflik yang terjadi di Tanah Papua, termasuk konflik yang terjadi di wilayah Timika.
Konflik Harus Diselesaikan dengan Dialog
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah konflik di kawasan Kwamki Narama yang telah berlangsung dalam waktu cukup lama. Persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat terus menimbulkan ketakutan, penderitaan, dan korban di tengah masyarakat.
Para pihak yang bertikai perlu membuka ruang perjumpaan dan dialog. Jika persoalan tersebut berkaitan dengan keluarga atau kelompok tertentu, kedua belah pihak perlu duduk bersama untuk mencari jalan penyelesaian yang damai. Pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak terkait dapat mengambil peran sebagai fasilitator agar proses dialog berlangsung secara aman dan bermartabat.
“Apa pun persoalannya, hendaknya diselesaikan melalui dialog tanpa mengorbankan nyawa manusia.”
Semangat tersebut sejalan dengan harapan bersama untuk mewujudkan Mimika sebagai daerah yang hidup dalam harmoni dan menjadikan “Mimika Rumah Kita” bukan sekadar semboyan, melainkan kenyataan yang dirasakan seluruh masyarakat.
Jangan Mengorbankan Nyawa Manusia
Sebagai tokoh Gereja, perhatian terhadap keselamatan manusia merupakan bagian penting dari panggilan iman. Kehidupan manusia bukan sesuatu yang boleh diambil atau dikorbankan karena persoalan kepentingan, dendam, atau pertikaian.
Iman Kristiani mengingatkan setiap orang pada perintah Allah yang kelima: “Jangan membunuh.” Karena itu, setiap persoalan hendaknya dihadapi dengan kepala dingin, pengendalian diri, dan kemauan untuk mencari jalan keluar yang membawa kehidupan.
Perdamaian tidak akan lahir dari kekerasan. Sebaliknya, perdamaian tumbuh ketika pihak-pihak yang bertikai berani membuka hati, mendengarkan satu sama lain, mengakui persoalan yang ada, dan mencari solusi bersama.
Pemerintah dan Masyarakat Perlu Bergerak Bersama
Pemerintah diharapkan hadir secara aktif dalam memfasilitasi proses penyelesaian konflik. Kehadiran pemerintah hendaknya tidak hanya ketika konflik telah menimbulkan korban, tetapi juga melalui langkah-langkah pencegahan, mediasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.
Demikian pula masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana yang aman dan damai. Setiap orang dapat mengambil bagian dengan menolak provokasi, tidak menyebarkan kebencian, serta mendorong penyelesaian masalah melalui dialog.
“Hidup damai dan harmoni hanya dapat terwujud ketika mereka yang bertikai mau duduk bersama dan pemerintah memberikan ruang serta dukungan bagi proses dialog.”
Nyawa manusia tidak dapat digantikan dengan harta, jabatan, maupun kepentingan apa pun. Karena itu, marilah bersama-sama menjaga kehidupan, menghentikan kekerasan, dan membangun Mimika sebagai rumah bersama yang aman, damai, dan harmonis.
Salve…




