Warning: Constant WP_CACHE already defined in /home/u5939298/public_html/keuskupantimika.org/wp-config.php on line 2
MENIKMATI KOPI PANGGILAN DI BUKIT YAKONDE – Keuskupan Timika
Majalah Gaiya

MENIKMATI KOPI PANGGILAN DI BUKIT YAKONDE

(Sebuah Refleksi)

Pagi itu, bersama embun pagi dan rintihan langit yang serasa menghangatkan, alam menyimpan banyak rahasia yang belum juga diselesaikan oleh kisah. Secangkir kopi yang dituangkan oleh keheningan pun menggugah rasa. Bukit Yakonde menjadi saksi atas perjuangan rindu yang tak pernah bertemu kasihnya. Sekejap menatap kabut yang perlahan menggantung pada pepohonan bukit-bukit dan udara yang juga menyentuh relung-relung kulit, menambah ketakjuban pada panggilan. Sesekali suara burung menyela keheningan dan bunyi kopi yang sedang dituangkan, menundukkan kepasrahan.

Kopi itu ada dihadapanku, tidak ada yang kuinginkan selain menikmati kopi dan keheningan. Dalam kesederhanaan itu, rupanya ada sesuatu yang lebih dalam sedang menungguku. Kopi, hitam, pahit, dan hangat tetapi menenangkan, mungkin juga seperti panggilan. Tidak selalu manis, kadang-kadang begitu pahit. Kadang, ia membuatku bertanya, apakah jalan yang sedang kutempuh adalah jalan yang benar-benar sedang kulalui. Ada saat di mana panggilan itu begitu indah, tetapi pada saat itu juga panggilan itu terasa berat untuk dipikul sendiri. Namun, seperti kopi yang baru disebuh, panggilan perlu dinikmati perlahan. Tidak untuk dihabiskan sekaligus. Sebab sesuatu yang terlalu cepat diminum seringkali tidak sempat dirasakan.

Di Bukit Yakonde, saya belajar bahwa panggilan bukan hanya berbicara tentang seberapa kaki saya melangkah, tetapi tentang seberapa dalam saya mendengarkan. Tuhan tidak bicara melalui keributan, terkadang melalui suara-suara halus dan sunyi. Mungkin juga suara itu ada dalam setiap kegagalan dan kegelisahan yang tidak membutuhkan penjelasan, atau juga melalui seseorang yang datang lalu pergi dengan meninggalkan pertanyaan yang panjang. Apakah juga melalui kopi pahit yang sedang kunikmati di pagi ini?.

Saya mulai menatap kopi itu dengan seksama. Asapnya naik perlahan dan menghilang di udara. Lantas, seperti hidup manusia, kita datang ke dunia untuk menghangatkan dunia dan suatu ketika kita akan pergi juga. Yang tertinggal bukan lagi tubuh kita, melainkan aroma yang kita tinggalkan di dunia. Mungkin itulah makna dari panggilan, menjadi aroma bagi kehidupan orang lain. Bukan supaya nama kita dikenang, bukan supaya kita dipuji. Tetapi melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan bahwa Tuhan pernah hadir.

Dalam suasana hening sepih teduh, kuteringat perjalanan panjang menuju panggilan. Ada banyak orang yang bertanya kepadaku, “apakah kamu yakin dengan pilihanmu?”. Pertanyaan itu memang sederhana, tetapi jawabannya tidak pernah sederhana. Sebab, panggilan adalah keputusan yang tidak pernah selesai hanya dalam satu malam. Ia merupakan percakapan panjang antara Tuhan dan manusia. Ada hari di mana saya bisa mengatakan. “siap Tuhan”. Ada hari lain juga untuk mengatakan, “mengapa saya?”. Ada hari di mana langkah terasa ringan. Ada hari lain juga kaki terasa berat untuk melangkah. Tetapi, justru di situlah panggilan itu benar-benar sedang dimurnikan. Bukan ketika semuanya terasa mudah, melainkan ketika saya cukup kuat mengatakan, “saya tetap di sini dulu!”. Kata itu mungkin lebih jujur dari pada seribu kata lain tentang kesetiaan.

Aku menyeruput kopi, pahitnya sungguh terasa. Namun setelah beberapa detik, mulai muncul rasa lain yang lebih lembut. Saya tersenyum dan menyadari, ternyata apa yang pahit tidak selalu buruk. Ada kepahitan yang mendewasakan. Ada luka yang mengajarkan ketabahan. Ada kehilangan yang mengajarkan penghargaan. Ada kesepian yang mengajarkanku tentang siapa saya?. Dan ada kegagalan yang membuatku belajar bahwa saya tidak dapat mengandalkan diri saya sendiri. Mungkin panggilan juga demikian adanya. Ia tidak menjanjikan kehidupan tanpa luka. Ia justru mengajarkan bagaimana menemukan makna di dalam luka.

Bukit Yakonde pagi itu terasa seperti altar yang sederhana. Tidak ada lilin, tidak ada dupa, tidak ada musik liturgi, hanya alam. Tetapi, di sana saya merasakan sesuatu yang menyerupai liturgi. Kabut menjadi tirai, angin menjadi nyanyian, pepohonan menjadi umat, tanah menjadi altar, dan secangkir kopi menjadi persembahan kecil dari kehidupanku sehar-hari. Saya tiba-tiba memahami bahwa Tuhan tidak hanya hadir di dalam Gereja, Ia juga hadir di bukit, di jalan, di kebun, di rumah, di antara percakapan manusia, dan bahkan dalam keheningan ketika tidak seorang pun tahu apa yang sedang saya pikirkan. Tuhan hadir dalam kehidupan yang biasa. Dan mungkin, panggilan sejati justru dimulai ketika seseorang mampu menemukan Tuhan dalam hal-hal biasa.

Selintas terpatri dalam diriku untuk bertanya, untuk apa saya dipanggil? Apakah untuk menjadi orang besar? Apakah untuk terkenal? Apakah untuk disanjung-sanjung? Apakah supaya dikenal banyak orang?. Rasanya, tidak untuk semua itu. Semakin lama seseorang berjalan di dalam panggilan, semakin ia mengerti bahwa paggilan bukanlah tentang dirinya. Panggilan adalah tentang Dia yang memanggil dan tentang mereka yang dipercayakan. Seorang imam, misalnya, bukan dia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia tetap manusia dengan kelemahan, keraguan, dan pergulatan. Tetapi justru karena itu, ia dipanggil untuk berjalan bersama manusia lain. Ia dipanggil untuk mendengarkan mereka yang tidak didengar. Menguatkan mereka yang hampir menyerah, menghibur mereka yang berduka, membela mereka yang dipinggirkan, dan terutama menghadirkan wajah Kristus dalam kehidupan yang nyata. Karena itu, panggilan bukanlah sebuah mahkota, panggilan adalah sebuah salib. Salib itu dipanggul bukan untuk mendapatkan kemuliaan manusia, melainkan sebagai jalan menuju kasih sejati.

Kembali lagi, saya mulai memandang Bukit Yakonde. Betapa luasnya dunia ketika dilihat dari tempat yang tinggi. Kalau di bawah, kita merasa masalah itu terlalu luas seperti dunia. Namun, ketika berada di tempat yang lebih tinggi, kita menyadari bahwa hidup jauh lebih luas dari persoalan kita. Di mana bukit mengajarkan jarak, jarak dari kecemasan, ambisi, luka, dan diri sendiri. Dari jarak itu, saya belajar melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Mungkin karena itu, manusia membutuhkan bukit-bukit dalam hidupnya. Bukan hanya bukit secara geografis, melainkan bukit-bukit spiritual. Tempat untuk berhenti, bernafas, dan bertanya, “ke mana saya sedang berjalan?”.

Kopi ditangaku semakin dingin. Saya sadar bahwa pagi pun sedang bergerak menuju siang. Tidak ada waktu yang berhenti hanya karena seseorang sedang merenung. Matahari akan tetap berjalan, angin akan tetap berhembus, hari akan tetap berganti, dan hidup akan terus memanggil. Saya berdiri dan kopi sudah hampir habis. Tetapi, saya merasa tidak kehilangan apa-apa. Justru saya membawa sesuatu. Sebuah keyakinan kecil bahwa panggilan tidak harus dipahami seluruhnya untuk dapat dijalani. Kadang saya hanya perlu melangkah, satu langkah, kemudian satu langkah lagi. Seperti seseorang yang sedang menikmati kopi, perlahan, sabar, dan sabar bahwa rasa yang baik tidak selalu ditemukan pada tegukan pertama.

Barangkali, Bukit Yakonde akan menjadi saksi atas semua itu dan kembali dengan secangkir kopi yang lain. Mungkin dengan ramput yang lebih putih. Mungkin dengan lebih banyak pengalaman dan lebih banyak luka. Tetapi, saya berharap masih tetap duduk di tempat yang sama dan bertanya kepada Tuhan, “apakah saya masih setia pada panggilan-Mu?”. Dan jika suatu hari, jawabannya adalah “iya”, maka saya tidak membutuhkan tepuk tangan siapa pun. Cukuplah angin Bukit Yakonde menjadi saksi. Cukuplah kopi yang pernah kuminum menjadi saksi. Bahwa pernah ada seorang manusia yang duduk dalam keheningan, menyerup pahitnya kopi, memandang luasnya kehidupan, dan perlahan-lahan belajar memahami bahwa panggilan bukanlah tentang menemukan jalan yang mudah, melainkan kesediaan untuk tetap berjalan ketika jalan itu menjadi sulit.

Masih di tempat yang sama, Bukit Yakonde, saya tidak hanya sedang minum kopi, saya sedang menikmati sebuah panggilan. Pahitnya mengajarkanku arti kesetiaan, hangatnya mengajarkanku arti kasih, aromanya mengajarkanku arti kehadiran, dan keheningannya mengajarkanku arti doa. Secangkir kopi itu telah habis dari jari-jemariku, tetapi panggilanku tidak akan pernah habis hanya karena secangkir kopi telah habis diseduh. Panggilan adalah perjalanan. Selama kaki masih mampu melangkah, selama hati masih mampu mendengar, selama iman masih menyimpan sedikit cahaya, Tuhan masih berkata, “Mari, berjalanlah bersama-Ku”. Dari Bukit Yakonde akan tetap memungkinakan saya untuk menjawab dalam diam, “Yah, saya masih di sini.”

 

Penulis: Fr. Riki Yatipai

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button