MENAPAKI JALAN BERLUMPUR MENUJU SALIB SUCI
Perayaan Pesta Salib Suci di Stasi Sta. Veronika Muniopa
Setiap 14 September, Gereja Katolik sejagad merayakan Pesta Salib Suci. Perayaan ini mengajak umat beriman untuk kembali merenungkan misteri salib sebagai sumber iman, harapan, dan kasih. Pertanyaan yang menggema dalam hati setiap orang adalah: “Sejauh mana nama Yesus Kristus dan salib-Nya saya hayati sebagai pusat hidup iman saya?”
Perjalanan Menuju Muniopa
Pagi itu, sekitar pukul 07.20 Waktu Papua, kami berangkat menuju Gereja Stasi Sta. Veronika Muniopa, Paroki St. Petrus Mauwa. Jaraknya sekitar tiga kilometer: dua kilometer ditempuh dengan sepeda motor, sisanya berjalan kaki.
Wilayah Selatan Lembah Hijau Kamuu memang kerap dilanda banjir, namun hari itu cuaca cerah dan jalan utama cukup kering. Hanya saja, jalan setapak menuju gereja tetap menyisakan tantangan: kubangan lumpur tanah hitam yang lengket. Kami sudah terbiasa menanggalkan alas kaki agar lebih mudah melintasinya.
Pukul 07.45, kami tiba di kampung Muniopa. Beberapa umat, terutama mama-mama dan anak-anak, sudah berkumpul di depan gereja. Kami singgah sebentar di pastoran untuk mencuci kaki dari lumpur. Di dalam rumah tungku, beberapa bapak tengah berbincang dengan pewarta senior, Agus Goo, yang hari itu bertugas sebagai penerjemah.
Ibadah Dimulai
Lonceng ketiga berbunyi nyaring pada pukul 08.00. Umat pun bergegas masuk ke gereja. Ibadah Sabda tanpa imam dimulai pukul 08.03, dipimpin oleh Frater Degei dalam rangka memperingati pesta iman ini.
Bacaan Kitab Suci hari itu diambil dari Bilangan 21:4–9, Filipi 2:6–11, dan Yohanes 3:13–17. Ketiga bacaan tersebut membawa umat pada pemahaman mendalam tentang salib: dari kisah ular tembaga yang menyembuhkan, kerendahan hati Kristus yang mengosongkan diri-Nya, hingga penegasan bahwa Anak Manusia harus ditinggikan agar setiap orang yang percaya memperoleh hidup kekal.
Refleksi tentang Salib
Dalam renungannya, Frater Degei menegaskan bahwa salib bukan lagi tanda kehinaan, melainkan tanda kemenangan dan identitas umat Katolik.
“Percuma kita memakai kalung salib atau menggantungkan salib di rumah kalau hidup kita tidak mencerminkan semangat Kristus. Salib adalah panggilan menjadi saksi iman, bahkan martir yang berani menderita demi kebenaran,” ujar Frater Degei.
Ia juga menyinggung tokoh-tokoh yang meneladani semangat salib dalam perjuangan mereka, seperti Mgr. Albertus Soegijapranata, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., hingga tokoh Gereja di Tanah Papua seperti Uskup John Saklil, Pater Nato Gobai, dan Pater Neles Tebai. Semua mereka, dengan caranya masing-masing, menghidupi cinta Kristus lewat pengorbanan demi sesama.
Suara Anak-anak
Menjelang akhir ibadah, Frater Degei meminta anak-anak menyanyikan lagu sederhana berjudul “Piyaboko Dokii” (Memikul Salib). Meski liriknya singkat, lagu ini menyimpan makna mendalam: penderitaan Kristus di salib ditanggung-Nya bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan demi keselamatan semua orang.
Frater mengajak umat untuk bertanya dalam hati: “Maukah kita ikut memikul salib kehidupan kita masing-masing demi sesama dan demi alam ciptaan?”
Penutup
Ibadah diakhiri dengan penghormatan kepada Salib Suci Kristus, berkat penutup, dan foto bersama. Pesta iman ini menjadi tanda bahwa meski jalan menuju gereja penuh lumpur dan rintangan, umat Stasi Sta. Veronika Muniopa tetap setia merayakan misteri salib sebagai jalan menuju hidup yang kekal.***
Penulis: Frater Siorus Ewainaibi Degei (TOPER di Paroki St. Petrus Mauwa).




