KUNJUNGAN USKUP TIMIKA KEPADA UMAT KRISTUS RAJA NABIRE: BUKAN TEMU DAN TAMU BIASA
Kunjungan Berahmat
Kunjungan seorang gembala utama sebuah keuskupan adalah rahmat besar. Ia bukanlah pertemuan biasa, ada banyak nilai yang terselip di dalamnya. Kunjungan pastoral menjadi ajang di mana umat menerima penguatan rohani berupa berkat dan pendidikan rohani melalui katekese serta wejangan-wejangan rasuli lewat pancaran agung kehadiran seorang Uskup.
Selepas kepergian seorang gembala utama Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil Pr (+) selama 5 tahun 7 bulan, Paroki-Paroki (umat Allah) mengalami desolasi batin akan sapaan sosok gembala berbau domba yang khas. Setelah terpilih seorang putra terbaik Papua dari negeri kepala burung emas (Maybrat, Sorong), Pastor Bernadus Bofitwos Baru OSA sebagai Uskup Keuskupan Timika, domba-domba Keuskupan Timika mulai menemukan harapan baru di tahun ziarah pengharapan, wajah lusu mereka mulai mencarkan cahaya sukacita tak terungkap dan mata mereka membinarnakan sejuta mimpi serba pasti.
Penyambutan Bermakna
Banyak kunjungan Uskup Bofitwos Baru mulai membumi di hati umat kecil. Setelah melakukan kunjungan di wilayah Mimikawe, Uskup Bofitwos Baru mulai melebarkan sayap kunjungan pastoralnya ke wilayah teluk cenderawasih.
Pada Selasa, Januari 2026 Paroki Kristus Raja Nabire menjadi destinasi rohaninya dalam berziarah bersama umat dalam semangat sidonalitas, iman, kasih, dan harapan. Dalam kunjungan pastoral kali ini tentu ada banyak hal yang dibahas, semisal kehidupan menggereja umat, dinamika pastoral paroki, serta arah dasar (ARDAS) dan program pastoral Keuskupan Timika. Dalam kunjungan ini juga akan diadakan dua agenda lainnya, yaitu Pemberkatan Gedung Pastoran dan Penerimaan Sakramen Krisma bagi 200an umat pada Rabu, 21 Januari 2026.
Secara pribadi dan Komunitas Basis Gerejani (Kombas) Santo Yohanes Pemandi Paroki Kristus Raja Nabire saya hendak mengucapkan limpah syukur dan terimakasih mendalam kepada Panitia, Pastor Paroki, Dewan Paroki, dan terutama kepada Mgr. Bernadus Bofitwos Baru OSA sendiri yang sudah jauh sebelumnya meminta dan mempercayakan mama-mama Papua asal Suku Mee sebagai penerimanya lewat gerak tari budaya khas Suku Mee.
Alhasil, sebagai sebagai sebuah Kombas yang hogomen (mayoritas Suku Mee), Panitia dan Dewan Paroki meminta umat Kombas St. Yohanes Pemandi sebagai penerima kedatangan Uskup. Penjemputan Uskup dihiasa dengan riak sukacita yang tampak lewat seremonial seni budaya gerak dan seni budaya tarik suara yang umat Kombas tonjolkan lewat gema madah Yuu-Waitai, mazmur agung Wanii, tarian suci Amai Duwai (tari susu), dan Gaida (tarian khas mama-mama Mapiha).
Umat Kombas juga jauh sebelumnya sudah menyiapkan sebuah kalung bunga dan noken anggrek khas suku Mee. Usai mengalungkan bunga-bunga indah, umat juga lewat Ketua Kombas, Bapak Linus Pekei memakaikan sebuah noken anggrek. Noken anggrek adalah simbol kepemimpinan kharismatik yang istimewa. Noken dengan jenis khusus ini hanya diberikan kepada orang-orang yang punya status sosial tinggi (tonowi), dalam konteks ini Uskup Timika sebagai sosok pemimpin yang punya status religius tinggi (MGR: Monsinyur, sebuah gelar kehormatan dalam Gereja Katolik untuk imam yang memiliki jabatan tertentu) layak mendapatkan noken anggrek.
Ada juga pesan simbolik yang sebenarnya mau umat Allah ini sampaikan kepada gembalanya lewat penyerahan kalung bunga dan noken anggrek inj, yaitu ucapan syukur, rasa bahagia mendalam, ucapan selamat datang, sukacita, dan suara harapan: isilah kami dan semua yang kami alami dalam noken ini dan lindungilah kami di dalamnya, biarkan kami hangat dan aman di dalamnya bersamamu di mana saja, jangan biarkan kami mati kedinginan di luar.
Bukan “Temu dan Tamu Biasa”
Saya kemudian mengingat kunjungan Maria, seorang gadis desa pemilik rahim suci yang menjadi palungan pertama pangeran damai Yesus Kristus kepada saudarinya, yang juga adalah seorang wanita paruh baya bernama Elizabeth yang juga memiliki rahim suci.
Peristiwa agung yang menifestasikan kunjungan Allag sendiri kepada umagnya ini secara apik berusaha ditafsirkan oleh seorang egseget muda dari Kampus Fajar Timur, Pastor David Dapi OMF dalam buku terbarunya “Bukan Tamu dan Temu Biasa: Linea Teologis Kunjungan Maria Kepada Elizabet” (OBOR: 2026). Menurut Pastor David kunjungan Maria kepada Elizabeth saudaranya bukan sekedar kunjungan biasa, peristiwa tersebut merupakan “bukan temu an tamu biasa”, sebaliknya peristiwa tersebut adalah “temu dan tamu yang luar biasa”.
Kunjungan pastoral Uskup Timika kepada umat Paroki Kristus Raja Nabire pun bukanlah sebuah kunjungan pastoral biasa yang serba normatif, ia lebih dari itu, bagi umat Paroki, dan tentu bagi Uskup Bofitwos Baru sendiri ini pun bukanlah sebuah kunjungan pastoral biasa. Baginya ini bukanlah “temu biasa”, sebaliknya umat Paroki KR pun merasakan dan menghayati hal yang sama bahwa Uskup Timika bukanlah “tamu biasa”. Keduanya pihak sama-sama meyakini bahwa momen kunjungan ini adalah “temu luar biasa” dan “tamu luar biasa”, untuk itu sebagai “tuang rumah yang baik dan luar biasa” umat Paroki Kristus Raja lewat Kombas Yohanes Pemandi tampil sebagai “tuang rumah yang baik” agar momen “temu” dan “tamu” ini terjalin sebagai suatu misteri iman yang menyelamatkan.
Kehadiran Uskup Baru seperti Maria yang membawa putra perdamaian bersamanya, sementara umat Paroki seperti Elizabeth yang merasakan kegirangan ajaib lewat hentakan bayi di dalam rahimnya. Sukacita yang umat Kombas St. Yohanes Pemandi, Pastor Paroki, dewan paroki, dan Panitia, dan seluruh umat Paroki Kristus Raja Nabire alami tak ubahnya dengan sukacita yang dialami oleh Elizabet dan bayinya. Semoga kunjungan pastoral Uskup Timika kepada umat Paroki Kristus Raja Nabire ini melahirkan semangat iman dan spiritualitas dari Maria-Elizabeth dan Yesus-Yohanes Pemandi dalam diri setiap sehingga tumbuh, berkembang, dan berbuah manis.
Penulis : Fr. Siorus Ewainaibi Degei




