Dalam setiap kehidupan manusia memiliki sikap kelemahan dan kekuatan yang membentuk diri pribadi manusia. Refleksi ini, berangkat dari Surat Paulus Yang kedua kepada Jemaat di Korintus menegaskan bahwa: “Aku Lemah; Maka Aku Kuat” yang merujuk pada 2Korintus yang mengandung makna yang mendalam. Kutipan surat Paulus ini berbunyi: “Karena itu aku senang dalam kelemahan, dalam siksaan, dalam kekurangan, dalam penganiayaan, dan dalam kesesakan, karena aku tahu, apabila aku lemah, maka aku kuat” (lih. 2Kor 12:10). Pesan surat Paulus ini, pada umumnya mau memberikan penekanan bahwa kelemahan merupakan suatu kekurangan yang harus dihindari oleh setiap diri kita dalam hidup ini. Dalam kutipan di atas, Paulus mengajarkan setiap kita bahwa dalam kelemahan itu, kita akan menemukan nilai kekuatan dalam hidup bersama maupun pribadi orang sebagai satu anggota Kristus sejati.
Kekurangan dan kelemahan itu bukan hanya berpatokan pada kelemahan dan kekurangan fisik dan emosional manusia, tetapi berbicara tentang penderitaan, penindasan, kesulitan, kemiskinan, tekanan batin, dan mental berdasarkan pada setiap pristiwa hidup manusia. Oleh karena itu, dalam situasi di atas melalui Kitab Yesaya memberikan tekanan dalam situasi penderitaan itu hendaknya: “Dia memberikan kekuatan kepada yang lemah dan menambah semangat kepada yang tidak berdaya” (lih.Yes 40:29). Pesan moral ini, merupakan panggilan untuk mewartakan kabar gembira bagi kita, sebab Tuhan sama sekali tidak meninggalkan kita, atau membiarkan kita jatuh dalam kelemahan kita. Tuhan Allah selalu mendampingi, dan menambahkan kekuatan kepada kita semua untuk dapat melewati setiap persoalan atau pergumulan yang kerap kali dijumpai dalam setiap kehidupan kita pada zaman modern ini.
Berdasarkan pembahasan di atas, setiap manusia dipanggil untuk meenghidupan semangat juang yang tinggi dan melepaskan “ketakutan, kecemasan, dan kegelisahan” (GS 1) dalam dirinya sebagai suatu kelamahan yang dapat melemahkan diri dan panggilan hidupnya. Dengan demikian, kelemahan maupun kekuatan yang ada dapat menimbulkan suatu pertentangan dalam kehidupan manusia, sehingga dapat membuat seseorang menjadi pribadi yang positif atau negatif dalam hal perkataan, perbuatan maupun cara pandangnya (Bdk. Yohana, dkk 22: 65). Penerapan dalam konteks kekuatan di balik kelemahan menurut surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus merupakan respon yang benar, berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan dan bertindak dengan kuasa Allah dalam menjalani panggilannya. Oleh karena itu, hendaknya setiap kita perlunya dekat dengan Tuhan sehingga memiliki nilai-nilai kekuatan untuk dapat bertahan dalam menghadapi setiap persoalan yang sedang terjadi itu, dengan penuh bijaksana, bertekun dan bertanggung jawab atas peristiwa hidup itu dengan penuh rendah hati.
Fokus utama yang diperhatikan dalam menghadapi kelemahan adalah mengizinkan kuasa Allah ikut terlibat didalamnya, supaya kuasa yang diberikan oleh-Nya dapat menaklukkan segala kelemahan kita. Dalam situasi seperti ini, dokumen Konsili Vatikan II melalui Gaudium et Spes menekankan bahwa penderitaan Yesus “Kristus, yang melalui sengsara-Nya telah mengatasi penderitaan manusia, yaitu jalan, kebenaran, dan hidup. Semua orang yang menderita dapat menemukan kekuatan dan harapan dalam Kristus” (GS 22). Artikel ini memberikan tekanan bahwa penderitaan dapat diterima dalam terang karya penebusan Kristus, yang memberikan kekuatan dan harapan kepada semua orang yang lemah dan menderita demi harapan hidup yang penuh kasih. Untuk itulah, setiap kita dipanggil untuk dapat memberikan kemuliaan Tuhan atas penderitaan, demi pencapaian hidup manusia dalam hal kekuatan,
Oleh karena itu, lebih lanjut dalam refleksi ini dokumen Konsili Vatikan II melalui Lumen Gentium menekankan bahwa: “Gereja, sebagai tubuh mistik Kristus, berhubungan dengan penderitaan Kristus, dan umat beriman turut mengambil bagian dalam penderitaan ini untuk mencapai keselamatan dan hidup kekal” (LG 8). Artikel ini, mengajak dan mengingatkan setiap manusia bahwa melalui kelemahan atau penderitaan, umat Kristiani dpanggil untuk turut mengambil bagian dalam karya keselamatan yang lebih besar dalam situasi dunia yang dipenuhi oleh penderitaan dan penindasan ini. Maka itu, orang-orang Kristiani dapat dipanggil untuk memahami kedalaman kasih Allah dan menemukan kekuatan untuk bertahan dalam kesulitan hidup (GS 38) yang sedang dijalaninya.




