Majalah Gaiya

JEJAK TRINITAS DALAM PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Sebuah Refleksi Tinjauan Pneumatologi

Prolog

ROH secara etimologis diterjemahkan dari kata Ibrani “Ruah” yang artinya angin, udara, dan nafas. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani berarti “Pneuma” yang artinya sama yaitu nafas atau angin. Kedua konsep ini berkaitan dengan proses hidup, karena keduanya berarti hembusan, angin, badai dan taufan. Untuk masyarakat primitif,angin adalah sesuatu yang bersifat rahasia dan yang tidak dapat dikuasai manusia. Ia bertiup dari mana saja ia datang, dan ke mana saja ia kehendaki. Ia bisa membawa hujan dan kemakmuran. Nafas manusia pun bersifat rahasia. Nafas itu mutlak perlu untuk hidup; tanpa nafas tidak ada hidup. Namun tidak diketahui dari mana nafas itu datang. Kelihatannya nafas diberi sebagai hadiah, tetapi hanya untuk sementara; dan kalau nafas itu ditarik kembali manusia mati. Karena itu nafas menjadi lambang kehidupan.

 Jejak Trinitas dalam Perjanjian Lama

Kitab Suci tidak menggunakan istilah teologis “Tritunggal”. Tetapi, apa yang dimaksudkan dengan istilah ini terkandung dalam Kitab Suci”. Menurut  PL, Allah hidup. Kehiduapn sepenuhnya itu pasti bercorak rohani, antara lain, karena Allah itu bersabda dengan perantaraan para nabi.

Sejak PL, Allah sudah disebut dalam berbagai nama. Nuh menyebut Allah sebagai Allah Sem (Kej.9:26), Abraham menyebut Allah yang Maha Tinggi, Pencipta langit dan bumi (Kej.14:19). Allah sendiri memperkenalkan diriNya kepada Abraham dengan menyebut kekuasaanNya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Kej.17:1). Abraham juga pernah menyebut Allah yang kekal (Kej.21:33). Daud dalam Mazmurnya menegaskan: “Allah adalah Sang Pencipta “yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” [Mazmur 146:6]. Maleakhi dalam kitab keduanya menyebut Allah yang Esa (Mal.2:15). Penyebutan-penyebutan tersebut, tersirat lebih jelas bahwa Allah satu diri. Itulah yang disebut monoteisme PL.

Tidak tersirat dengan jelas kata “Tritunggal”. Walaupun demikian, pada awal kitab Kejadian disebutkan secara eksplisit: “Roh Allah”. “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kej.1:2). Selanjutnya nabi Yesaya dengan jelas menyebutkan bahwa “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. (Yes.7:14). Yesaya menambahkan “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai (9:5).

Jejak Trinitas dalam Perjanjian Baru

PB sendiri juga tidak menyebut secara eksplisit  istilah Tritunggalan Allah. Namun apa yang ditulis dalam PB lebih memperjelas misteri Allah Tritunggal yang sudah diwartakan sejak PL. Dalam PB, ketiga oknum Tritunggal dinyatakan dengan jelas.

Injil tertua memberi kesaksian tentang itu. “Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Mrk.1:10-11; bdk. Luk.3:24). Injil terakhir yang ditulis oleh Rasul Yohanes juga memberi kesaksian tentang kesatuan Yesus dengan Bapa: “Pada mulanya adalah Firman” (Yoh.1:1); “Aku dan Bapa adalah satu (Yoh.10:30; “… bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” (Yohanes 10:38);  “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami (Yoh.14:9).

Selanjutnya dalam kotbah perpisahan-Nya, Yohanes menulis: “Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu. Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu, tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu (Yoh.16:4-7).

Matius pengarang Injil menegaskan lebih jelas kesatuan Triniter itu. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat.28:19). Lukas pengarang Injil juga mencatat dengan jelas kuasa Roh yang berasal dari Allah sendiri, yang memiliki kuasa yang lebih dari semua kuasa di bumi. Roh itulah yang turun atas para Rasul seperti yang dijanjikan Yesus kepada mereka (Lih.Kis.2:1-13). St. Stefanus memandang dalam Roh Kudus Allah (Bapa) di surga dan Yesus, PutraNya, di sebelah kananNya (Kis.7:56).

Salam  yang diberikan Paulus kepada Jemaat di Korintus: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (2 Kor.13:13). Rumus serupa tercantum dalam surat kepada umat di Efesus, “Satu tubuh, satu Rooh; satu Tuhan (=Kristus), satu iman, satu Pembaptisan;  satu Allah dan Bapa semua orang (lih.Ef.4:4-6). Paulus juga memuji Bapa, Putra dan Roh Kudus: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi. Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan, kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya, supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. Di dalam Dia kamu juga, karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu, di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya (Ef.1:3-14).”

Pokok Wahyu seluruh Injil adalah, bahwa Yesus dalam pewartaan dan dalam perbuatanNya menampakkan Allah sebagai Bapa semua orang yang beriman dalam arti analog. Hubungan Yesus, Allah Putra tak pernah disamakan dengan hubungan orang beriman dengan Allah Bapa. Segalah kebapaann di dunia memperoleh artinya darihubungan Allah Bapa dan Putra itu (Ef.3:15).

Wahyu Ilahi tentang keselamatan melampaui segala harapan dan pengertiian manusia. Dan keselamatan ini adalah anugerah Allah Bapa yang tampak dalam cinta kasiih Putra,  yang menyerahkan nyawa manusiawiNya demi saudara-saudaraNya di kayu salib. Keselamatan ini disampaikan sebagai kehidupan kekal oleh Roh Kudus. Jadi, adanya Allah Bapa-Putra-Roh Kudus dialami dulu, lalu diwartakan dan baru sesudahnya  direflleksikan secara teologis. Atas dasar alkitabiah ini, refleksi Gereja, yakni iman yang mencari pengertian ini membentuk rumus-rumus teologis untuk menangkis pelbagai bidah.

Epilog

Orang Kristen menganut monotheisme Trinitarian di mana Bapa, Putra dan Roh Kudus diimani sebagai tiga pribadi yang berbeda dari hakekat Allah yang satu. Iman Kitab Suci ini dirumuskan dan dipertahankan terutama sejak konsili-konsili pada abad pertama; hingga pada zaman modern ini mempunyai implikasi-implikasi besar dalam praksis hidup menggereja.

Iman Kristiani akan Trinitas mempunyai akar alkitabiah dan bukan merupakan suatu ciptaan belaka dari rasa kesalehan atau logika berpikir manusia saja. Teologi Allah Tritunggal bukanlah sebuah diskursus ilmiah semata melainkan merupaka hidup Gereja yang telah menjadi bagian dari perjalanan iman orang Kristen yang diwariskan dari pengalaman perjumpaan dengan dengan Yesus Kristus sebagai tokoh sentral. Hemat penulis bahwa akar biblis Teologi Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, ada beberapa naskah Kitab Suci yang digunakan sebagai acuan sekaligus landasan biblis bagi misteri Allah Tritunggal yaitu: Perjanjian Lama: Kej 1:2: marilah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, Kej 11:7: marilah kita turun dan kacaubalaukan bahasa mereka, dan Yes 6:3: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surge  dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Sedangkan dalam Perjanjian Baru ada naskah-naskah atau fragmen-fragmen yang berasal dari credo atau shyadat. Tidak semua naskah-naskah Perjanjian Baru yang memuat tentang Bapa, Putra dan Roh Kudus disebut Trinitas. Namun hal yang mau ditekankan ialah sebutan untuk Allah yang telah membangkitkan Yesus dengan kekuatan Roh-Nya.

Masing-masing Pribadi (Trinitas) di dalam Kitab Suci adalah; Bapa, Allah yang ada di dalam PL yang disapa dengan Yahwe sama dengan Allah dalam PB yang disapa dengan Abba. Hal yang baru ialah pengidentifikasian dengan keilahian yang satu dengan Dia yang membangkitkan Yesus dan alam maut.  Putra, Pemberian gelar pada Yesus bisa tumpang tindih. Untuk itu orang harus membatasi diri pada teks-teks yang jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Yesus diidentifikasikan dengan himne-himne dan Injil/logia hikmat Allah yang terdapat dalam sastra Kebijaksanaan Perjanjian Lama dan yang berhubungan langsung dengan penciptaan. Roh Kudus,  Dalam Perjanjian Lama, realitas Roh Kudus terlihat dalam peristiwa penciptaan yang memberi daya hidup, daya timbang dan kekuatan. Sementara itu di dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus dihubungkan dengan Roh Kristus yang bangkit. Di dalam Injil Yohanes, Roh Kudus disapa dengan Parakletos.

Penulis : Fr. Sebedeus Mote

 

Daftar Pustaka

  • Niko Syukur Dister, OFM.,2016. Teologi Trinitas dalam Konteks Mistagogi, Maumere: Ledalero.
  • Niko Syukur Dister, OFM,2004. Teologi Sistematika 1, Yogyakarta: Kanisius.
  • Paus Yohanes Paulus II (Promulgator), 1995. “Katekismus Gereja Katolik”, dalam Herman Embuiru, SVD, Penterj. Ende: Nusa Indah.
  • Georg Kirchberger, SVD,1991. Gereja Yesus Kristus Sakramen Roh Kudus, Ende:Nusa Indah.
Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button