Majalah GaiyaWarta Paroki

PERJUMPAAN BERMAKNA

Ketika Gembala bertemu Domba

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Umat Paroki St. Petrus Mauwa sudah memadati jalan Trans-Ilaga, tepatnya di Kampung Dikiowo sejak jam 09:00 WP. Mereka menantikan kedatangan Gembala mereka dengan penuh kerinduan akan berkat dan rahmat suci Uskup. Lengkap dengan busana adat, anak-anak kecil tampil menawan dengan busana adatnya. Tidak ketinggalan mama-mama dan bapa-bapa yang menunggu Uskup dengan penuh kasih, harapan, dan iman. Ketika terdengar tanda bahwa rombongan Uskup mulai mendekat, orang-orang mulai merapatkan formasi barisan. Uskup dan rombongan berhenti tepat di depan Gereja Douto Mauwa, atau sebelum Jembatan Kali Okeya. Anak-anak lebih dulu menyambut Uskup dan rombongan, sebelum berjalan menuju Gereja, seorang pemudi membacakan ucapan salam dan terima kasih kepada Uskup yang bersedia mengunjungi umat Paroki St. Petrus Mauwa. Usai membacakan ucapan salam, selamat datang, rasa syukur, rombongan Uskup mulai diarak-arak menuju Gereja yang jaraknya tidak begitu jauh. Dalam perjalanan Uskup dan rombongan berdiri persis di tengah-tengah anak-anak perempuan yang ceria. Uskup mengambil sedikit kesempatan untuk memberi berkat dan juga turut berkomunikasi secara terbuka kepada beberapa anak kecil yang takjub memandanginya. Dalam hati anak-anak ini mereka terlihat bahagia sekali, sebab mereka bisa sangat dekat dengan Uskup, tidak ada jarak yang terbentang di sini. Tidak lupa perarakan ini diiringi nyanyian-nyanyian adat yang meneduhkan hati dan menyakralkan suasana. Banyak bentuk tarian ditunjukkan di sini, mama-mama menari seperti biasa yang mereka sebut moge gaida (tarian cawat) dan amai duwai (tarian susu) bapa-bapa juga memainkan beberapa jenis alat tarian tradisional. Anak-anak yang hadir tinggal menyesuaikan dengan para orangtua yang mementaskan identitas dan ungkapan kedalaman iman lewat wajah seni budaya yang kaya.

Suasana semakin meriah ketika rombongan Uskup dan umat memasuki halaman Gereja, umat yang hadir mengelingi halaman Gereja dengan iringan yuu-waita yang bergema dan membahana. Panitia memberikan kesempatan kepada Uskup untuk mendoakan dan memberkati umat. Uskup mengajak umat berdoa, dalam doanya Uskup mengucap syukur atas bimbingan Tuhan atas rahmat perjumpaan bersama umat Paroki Mauwa. Uskup juga menyatakan bahwa ini adalah perjumpaan persaudaraan yang penuh dengan kasih, iman, dan harapan.

Umat Paroki Mauwa dengan busana adatnya dalam momen Perarakan menuju Pastoran St. Agnes Mauwa. (Dokpri).

Perjumpaan Uskup bersama Umat Paroki Mauwa ia maknai sebagai pertemuan penuh iman, harapan dan kasih. Ia menjadi pertemuan yang penuh kasih karena di dalamnya umat terlihat menujurkan seluruh pikiran, tenaga, dan jasanya. Umat mempersiapkan pertemuan ini dengan penuh rasa kasih dan cinta yang besar. Mereka mengalahkan rasa sakit, sakit kantuk, rasa lapar, rasa lapar, hujan dan panas terik tidak menjadi halangan bagi mereka. Semua itu terbayar dengan hadirnya Uskup, lewat doa dan berkat yang Uskup berikan umat merasakan kelegaan yang membebaskan dan mendewasakan mereka dalam hal rohani. Saya sendiri menyaksikan bagaimana kekompakan dan persatuan umat Mauwa mempersiapkan diri, lingkungan, Gereja, dan Pastoran. Mereka tidak kenal lelah, mereka habiskan waktu dan tenaga, bekerja di dalam dan di luar Gereja. Ada beberapa umat harus makan-tidur di pos yang panitia percayakan kepada mereka. Ada beberapa umat harus molor dan lembur, mereka bekerja sebelum fajar menyingsing sampai malam suntuk. Saya terkesan dengan sahutan seorang anak muda yang terluka saat kerja, “ini adalah luka kudus”. Baginya dan tentu ini perwakilan dari teman-teman dan umat lainnya bahwa bekerja untuk Tuhan itu merupakan sebuah ibadah. Sehingga jika dalam pekerjaan dan perutusan itu ada banyak pengorbanan yang berujung pada darah dan luka, itu mereka hayati sebagai sesuqtu yang mengduskan, karena mereka terluka dan berdarah bukan untuk materi yang hampa, melainkan demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan bersama.

Pertemuan ini juga menjadi sebuah pertemuan yang penuh iman, sebab sekali lagi bagi umat-umat yang polos ini bekerja untuk Tuhan adalah sebuah ibadah yang aktual. Sebagai sebuah ibadah, setiap beban tugas atau beban peran yang mereka dapatkan adalah kesempatan bagi mereka untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Umat-umat meyakini bahwa pikiran, tenag, jasa, hasil kebun, yang mereka  berikan dan bagikan demi suksesnya sebuah kegiatan iman merupakan derma atau persembahan mereka bagi Tuhan.

Terakhir, terlihat sekali bahwa bagi Uskup dan umat pertemuan kali ini membawa dan melahirkan harapan. Harapan akan berkat, doa, kehidupan, dan keselamatan. Umat percaya bahwa usai perjumpaan ini ada secercah rahmat yang mereka dapatkan. Harapan atas suka-duka mereka selama proses kesiapan mereka. Harapan dalam segala urusan perkara rumah tangga mereka. Harapan bahwa di hari esok ada berkat kelimpahan yang akan mereka alami. Ini artinya di balik sosok Uskup, umat dalam segala kepolosan ini melihat, menemukan, mengalami, dan merayakan Tuhan. Tuhan yang mereka imani itu mereka jumpai dalam sosok Uskup Timika yang sederhana, ramah, rendah hati, cerdas, dan penuh senyuman.

Usai mendoakan dan memberkati umat, Uskup pun diarahkan ke Pastoran, dalam sela-sela perjalanan menuju Pastoran ada beberapa orangtua dan anak muda menghampiri Uskup guna memohon doa dan berkat secara khusus. Umat-umat ini barangkali sudah lama menantikan momen kunjungan gembala utama mereka seperti ini. Barangkali juga mereka sudah lama menantikan dan merencanakan dalam hati bahwa mereka harus memanfaatkan kunjungan Uskup kali ini untuk memohon doa dan berkat secara khusus.

Usai memberikan doa dan berkat secara khusus kepada beberapa umat dan beberapa sepuh, Uskup dan rombongan mengarah ke Pastoran, makan bersama, dan bersitirahat. ***FR. SIORUS EWAINABI DEGEI

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button