Majalah GaiyaWarta Paroki

BUKA LOKAKARYA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH: USKUP TIMIKA KRITISI PENDIDIKAN YANG CENDERUNG MELAYANI KEPENTINGAN PASAR KERJA

Catatan Kritis Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA untuk Masa Depan Papua

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Uskup Timika, Mgr Bernadus Bofitwos Baru OSA menyoroti pergeseran nilai pendidikan yang kini lebih condong melayani kepentingan pasar kerja ketimbang memanusiakan manusia. Dia mengajak semua pihak memajukan pendidikan di seluruh Papua.

“Pendidikan kini cenderung mencetak manusia hanya sebagai pekerja untuk keuntungan ekonomi. Materi dan uang jadi fokus utama, bukan lagi nilai-nilai luhur,” ungkap Uskup Bernard saat membuka lokakarya Pendidikan Dasar dan Menegah Keuskupan Timika di Hotel Swissbell, Timika, 14-16 April 2026.

Mengutip pemikiran Albertus Heriyanto (Dosen STFT Fajar Timur), Uskup menegaskan bahwa musuh utama pendidikan saat ini adalah ideologi ekonomi. Menurutnya, saat pendidikan hanya berorientasi pada kebutuhan pasar, maka tujuan hakikinya—yakni pembentukan karakter dan martabat manusia—akan terkikis.

Dampaknya terasa pada ketidakseimbangan tiga aspek utama, yakni aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Saat ini, sekolah terlalu memuja aspek kognitif-intelektual, itu pun dalam bentuk yang sempit yakni metode menghafal, bukan menganalisis atau memahami masalah secara mendalam.

Uskup Bernard juga   menyentil gaya hidup konsumtif, hedonisme, dan materialisme yang mulai merasuki dunia pendidikan. Jika digabungkan dengan kepentingan politik kekuasaan, sistem pendidikan hanya akan membunuh kreativitas anak didik.

Bagi  wilayah  Papua Tengah,  tantangan  ini berlapis.  Bukan hanya soal kurikulum, tapi juga faktor pendukung yang masih “pincang”, diantaranya,

kualitas pendidik, minimnya kompetensi dan jumlah guru yang memadai. Kemudian manajemen yayasan, tata kelola yang belum maksimal dalam mendukung visi pendidikan. Lalu dukungan orang tua, yakni peran keluarga yang belum optimal dalam mendampingi proses belajar anak. Lantas, lingkungan sosial, pengaruh lingkungan yang seringkali justru merusak mentalitas siswa.

Pada kesempatan ini, Uskup Bernard juga menyoroti mandegnya pendidikan di wilayah konflik seperti Intan Jaya, Dogiyai, dan Deiyai. Konflik bersenjata yang memicu pengungsian internal membuat ribuan anak kehilangan hak belajarnya.

“Gereja, pemerintah, dan masyarakat sedang terancam kehilangan satu generasi (lost generation) karena mereka tidak bisa mengenyam pendidikan yang bermutu,” kata Uskup Bernard.

Persoalan serupa juga ditemukan di wilayah pesisir, seperti daerah Kamoro. Ribuan anak-anak di sana masih kesulitan mengakses layanan pendidikan yang layak. “Ini  menyedihkan hati kita smeua. Apa yang harus kita lakukan untuk bersikap, masa bodohkah kita?,” ujar Mgr Bernard.

Pertanyaan ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, pihak Gereja melalui YPPK, serta para orang tua. “Mari kita para guru, tarekat, pemerintah pihak swasta PT Freepot untuk memajukan pendidikan Papua,” ujar Mgr. Bernadus. Pendidikan Papua butuh langkah darurat—bukan sekadar proyek fisik, melainkan pemulihan “ruh” pendidikan yang memerdekakan dan berpihak pada martabat manusia, terutama bagi mereka yang berada di garis depan konflik dan kemiskinan.

Ketua Panitia Lokakarya, J Sudrijanta SJ menyampaikan tema lokakarya mengangkat tema  “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis”. Tema ini berangkat dari kesadaran mendalam akan berbagai tantangan yang sedang

dihadapi dunia pendidikan di Tanah Papua, khususnya di wilayah Papua Tengah. Krisis yang terjadi tidak hanya menyangkut aspek mutu pendidikan, tetapi juga menyentuh dimensi akses, tata kelola, sumber daya manusia, kedalaman spiritualitas, serta konteks sosial dan budaya yang kompleks.

Dalam semangat tersebut, lokakarya ini diselenggarakan sebagai ruang bersama untuk menghimpun data dan memetakan kondisi nyata pendidikan  dasar  dan  menengah  di  Keuskupan  Timika  dan  wilayahsekitarnya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mempertajam analisis kritis

melalui pendekatan SWOT terhadap pendidikan Katolik maupun pendidikan umum, serta merumuskan masukan strategis dan argumentatif bagi Bapa Uskup Timika dalam menentukan arah pembaruan strategi dan manajemen pendidikan ke depan.

Berbagai masukan pemikiran mendasar dihadirkan. Juga praktik- praktik terbaik (best practices) dari lembaga-lembaga pendidikan Katolik di Indonesia, seperti Perkumpulan Strada, Yayasan Kanisius, Yayasan Xaverius, dan lembaga lainnya di luar Papua, diharapkan dapat memperkaya wawasan serta membuka peluang lahirnya berbagai terobosan yang   kontekstual.   Pada   akhirnya,   lokakarya   ini   diharapkan   mampu menghasilkan peta jalan (roadmap) penguatan sekolah-sekolah Katolik di tingkat dasar dan menengah yang lebih terarah, berkelanjutan, dan berdampak nyata.

Lokakarya ini dihadiri oleh sekitar 120 peserta yang mengikuti secara luring, terdiri dari para pastor paroki di Keuskupan Timika, pengurus YPPK Tillemans se-Tanah Papua, pimpinan tarekat religius, serta lembaga- lembaga mitra. Selain itu, partisipasi secara daring juga dibuka seluas- luasnya bagi para orang tua, praktisi dan pemerhati pendidikan di Tanah Papua, termasuk seluruh sekolah YPPK Tillemans dan Dewan Paroki, agar semangat kolaborasi ini semakin meluas dan mengakar.

“Kami berharap lokakarya ini menjadi langkah awal dari komitmen bersama untuk membangun kembali pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas, berakar pada nilai-nilai iman, serta relevan dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Papua saat ini,” kata Romo J Sudrijanta SJ.

Lokakarya ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia, sehingga terlaksana dengan baik.***

 

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button