Majalah Gaiya

DIPANGGIL, DIKUDUSKAN, DIPECAHKAN, DAN DIBAGIKAN: TUJUH FRATER IKUTI RETRET TOP DI TIMIKA

Oleh: Fr. Yulianus Kadepa

Sebanyak tujuh frater calon imam mengikuti Retret Tahun Orientasi Pastoral (TOP) yang diselenggarakan di Biara SCJ SP3 Timika pada tanggal 15-19 Juni 2026. Retret yang mengusung tema “Dipanggil, Dikuduskan, Dipecahkan, dan Dibagikan” ini didampingi oleh Pater Yohanis Heriyoto, SCJ. Kegiatan tersebut menjadi sarana pembinaan rohani untuk memperdalam pemahaman para frater mengenai makna panggilan, mempererat relasi pribadi dengan Allah, serta mempersiapkan diri secara spiritual dan pastoral dalam menjalani pelayanan sebagai calon imam.

Kegiatan retret diawali dengan Perayaan Ekaristi pembukaan pada Senin, 15 Juni 2026. Dalam homilinya, Pater Yohanis Heriyoto, SCJ, menegaskan bahwa panggilan hidup membiara dan imamat berakar pada kasih sebagai nilai fundamental kehidupan Kristiani. Kasih dipahami sebagai kemampuan untuk saling melengkapi, menguatkan, dan mengorbankan diri demi kebaikan sesama, terutama mereka yang membutuhkan perhatian dan pelayanan.

Selama lima hari pelaksanaan retret, para frater mengikuti berbagai kegiatan rohani yang terstruktur, meliputi ibadat harian, Perayaan Ekaristi, meditasi, adorasi Sakramen Mahakudus, doa Rosario, refleksi pribadi, diskusi kelompok, serta pendalaman materi yang berkaitan dengan spiritualitas panggilan dan kehidupan imamat.

Tuhanlah yang Memanggil

Pada sesi pertama, para frater diajak untuk melakukan refleksi mendalam mengenai pengalaman panggilan pribadi masing-masing. Berbagai dinamika batin, seperti kegelisahan, keraguan, harapan, dan kesiapan untuk diutus, menjadi bahan permenungan bersama. Menurut Pater Yohanis, seluruh pengalaman tersebut merupakan bagian integral dari proses discernment atau penegasan panggilan yang perlu diterima secara sadar dan dihayati dalam terang iman.

Refleksi ini didasarkan pada Injil Yohanes 1:35-51 yang mengisahkan panggilan para murid pertama. Melalui teks tersebut, para frater didorong untuk merefleksikan identitas Yesus dalam kehidupan mereka serta memahami tujuan mendasar dari panggilan yang mereka jalani. Menjadi murid Kristus berarti memiliki keberanian untuk menanggapi panggilan Allah dan mengikuti-Nya dengan kesetiaan yang utuh.

Pada sesi berikutnya yang bertema “Allah Mencintaiku dan Memanggilku”, para frater mendalami Markus 3:13-19. Dalam sesi ini ditegaskan bahwa panggilan merupakan anugerah Allah yang bersifat personal dan unik bagi setiap individu. Seluruh pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan, dipandang sebagai bagian dari proses pembentukan yang dilakukan Allah terhadap para calon pelayan-Nya.

Dipanggil Menuju Kekudusan

Sesi ketiga berfokus pada tema kekudusan yang direfleksikan melalui Matius 5:1-12 serta ajaran Gereja tentang panggilan universal menuju kekudusan. Pater Yohanis menjelaskan bahwa kekudusan tidak berarti melepaskan identitas diri, melainkan menghayati kehidupan secara autentik dalam kasih, kesetiaan, dan ketaatan kepada kehendak Allah.

Pembahasan mengenai kekudusan diperdalam melalui refleksi atas pengalaman Nabi Musa sebagaimana tertulis dalam Keluaran 3:2-7 dan Kisah Para Rasul 7:20-34. Musa yang menyadari keterbatasannya justru dipilih Allah untuk melaksanakan tugas yang besar dan mulia. Pengalaman ini menjadi inspirasi bagi para frater untuk memahami bahwa Allah senantiasa berkarya melalui kelemahan dan keterbatasan manusia.

Dalam konteks kehidupan pastoral, Pater Yohanis mengingatkan bahwa dunia modern sarat dengan kompetisi dan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, seorang calon imam dipanggil untuk mengembangkan semangat pelayanan yang berlandaskan kasih, kebijaksanaan, dan pengabdian kepada umat.

Dipecahkan untuk Menjadi Berkat

Tema “Dipecahkan dan Dibagikan” menjadi fokus refleksi pada sesi berikutnya. Para frater diajak memahami bahwa pengalaman penderitaan, kehilangan, kegagalan, kesepian, maupun berbagai luka batin merupakan bagian dari realitas kehidupan manusia. Dalam perspektif iman Kristiani, pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi sarana pertumbuhan rohani apabila diterima dan dimaknai secara benar.

Melalui refleksi atas kisah perjalanan menuju Emaus dalam Lukas 24, para frater diajak melihat bagaimana Yesus hadir untuk menyembuhkan luka batin manusia melalui kejujuran, pengampunan, penerimaan diri, dan pemulihan harapan. Pater Yohanis menegaskan bahwa Kristus merupakan sumber penyembuhan sejati yang mampu memulihkan manusia dari berbagai pengalaman traumatis dan penderitaan batin.  Pengalaman luka yang diterima dan diolah dalam terang iman dapat menjadi sumber empati, belas kasih, dan solidaritas terhadap sesama. Dengan demikian, pengalaman penderitaan tidak lagi dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih dan pelayanan.

Belajar dari Perempuan Samaria

Pada sesi selanjutnya, para frater mendalami kisah perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42. Narasi tersebut memperlihatkan bagaimana perjumpaan pribadi dengan Yesus mampu mentransformasi kehidupan seseorang yang mengalami keterasingan dan kekosongan batin.

Melalui kisah ini, para frater diajak menyadari bahwa pelayanan pastoral berakar pada kemampuan membangun relasi yang autentik dengan umat. Seorang frater dipanggil untuk menjadi sahabat, pendamping, dan pembawa harapan bagi mereka yang dilayani. Oleh karena itu, kehidupan doa menjadi fondasi utama dalam membangun kedekatan dengan Allah sekaligus memperkuat komitmen pelayanan kepada sesama.

Pater Yohanis menegaskan bahwa panggilan imamat bukanlah penghargaan atas kekudusan yang telah dimiliki seseorang, melainkan sebuah proses berkelanjutan menuju kekudusan yang semakin sempurna melalui rahmat Allah.

Dibagikan dalam Kasih dan Pelayanan

Sesi penutup mengangkat refleksi dari Injil Yohanes 21:15-19 yang memuat dialog antara Yesus dan Petrus. Pertanyaan Yesus, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, menjadi titik sentral permenungan mengenai hakikat pelayanan imamat. Kasih kepada Kristus harus diwujudkan secara konkret dalam pelayanan pastoral kepada umat Allah.

Menurut Pater Yohanis, seorang imam dipanggil untuk menjadi gembala yang mengenal, mencintai, dan melayani umat dengan sepenuh hati. Relasi yang mendalam dengan Allah menjadi dasar lahirnya pelayanan yang autentik dan penuh kasih kepada sesama.

Retret ditutup dengan Perayaan Ekaristi penutupan pada Jumat, 19 Juni 2026. Dalam homili penutupnya, Pater Yohanis mengajak para frater untuk menjadi garam dan terang dunia, khususnya dalam konteks kehidupan masyarakat Papua yang masih menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan, sosial, ekonomi, dan pastoral.

Ia menegaskan bahwa hati manusia merupakan ruang utama tempat Allah berkarya. Oleh karena itu, hati para calon imam perlu dipersatukan dengan Hati Kristus agar mampu menghayati panggilan secara matang dan bertanggung jawab. Para frater diharapkan menjadi pelayan yang kreatif, inklusif, serta siap merangkul seluruh umat dalam semangat kasih dan persaudaraan.

Melalui rangkaian retret ini, ketujuh frater calon imam memperoleh kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai identitas panggilan mereka sebagai murid Kristus. Mereka diteguhkan untuk terus bertumbuh sebagai pribadi yang dipanggil oleh Allah, dikuduskan melalui proses pembinaan, dipecahkan melalui pengalaman hidup, dan dibagikan bagi pelayanan Gereja serta keselamatan umat Allah.

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button