PEMBARUAN JANJI PERKAWINAN WARNAI PERAYAAN HARI DOA KAKEK-NENEK DAN LANSIA DI PAROKI ST. PETRUS SP3 TIMIKA
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-XVII yang berlangsung di Gereja Santo Petrus SP3 Timika, Minggu (26/7/2026), menghadirkan suasana yang berbeda dan penuh makna. Selain bertepatan dengan peringatan Hari Doa Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia, umat juga mengikuti Pembaruan Janji Perkawinan yang telah menjadi agenda rutin setiap Minggu keempat setiap bulan di paroki tersebut.
Dalam perayaan yang dimulai pukul 09.00 WIT itu, sebanyak 10 pasangan suami istri memperbarui janji perkawinan mereka di hadapan Allah dan umat. Selain itu, satu pasangan dari paroki tetangga merayakan Pesta Perak Perkawinan sebagai ungkapan syukur atas 25 tahun perjalanan hidup berkeluarga. Momen yang paling menyentuh adalah kehadiran seorang suami yang mengikuti pembaruan janji perkawinan seorang diri karena istrinya sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Makassar.
Pastor menghampiri pria tersebut dan menanyakan keberadaan istrinya. Dengan suara lirih ia menjawab bahwa sang istri sedang sakit dan dirawat di Makassar. Pastor kemudian mengajaknya membayangkan seolah-olah istrinya hadir di sampingnya, merangkulnya dengan penuh kasih, dan kembali mengikrarkan cinta yang telah mereka bangun bersama selama bertahun-tahun.
Momen sederhana itu menghadirkan keheningan yang mengharukan. Dalam doa batinnya, ia mempersembahkan ungkapan syukur kepada Tuhan atas anugerah kasih yang tetap hidup, sekalipun mereka sedang dipisahkan oleh jarak dan situasi.
Suasana sukacita juga terpancar dari pasangan yang merayakan Pesta Perak Perkawinan. Dengan mengenakan busana khusus, keduanya memperbarui janji perkawinan bersama pasangan lain, kemudian maju ke depan altar untuk memanjatkan doa syukur atas penyertaan Tuhan selama 25 tahun kehidupan rumah tangga mereka.
Bagi pasangan tersebut, perayaan ini bukan sekadar mengenang perjalanan panjang perkawinan, melainkan kesempatan untuk melihat kembali jejak kasih Allah yang selalu menyertai setiap suka dan duka kehidupan keluarga.
Momentum ini menjadi saat yang penuh rahmat untuk bersyukur, memperbarui komitmen, sekaligus memohon kekuatan bagi perjalanan hidup berkeluarga pada tahun-tahun mendatang.

Di antara pasangan yang memperbarui janji perkawinan, terdapat tiga pasangan anggota Marriage Encounter (ME) Paroki Santo Petrus SP3 Timika.
Usai Perayaan Ekaristi, komunitas ME mengadakan pertemuan persaudaraan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Masing-masing keluarga membawa makanan untuk dinikmati bersama sambil berbagi pengalaman hidup berkeluarga.
Dalam sesi berbagi, setiap pasangan diajak mengungkapkan Bagaimana Perasaan Saya (BPS) sekaligus menyampaikan apresiasi kepada pasangannya. Berbagai pengalaman menarik dibagikan, terutama mengenai perubahan hidup setelah mengikuti Weekend Marriage Encounter.
Salah satu pasangan mengaku kini memiliki kebiasaan baru, yakni saling menyapa dengan kata-kata pujian, berpelukan setiap pagi, serta meluangkan waktu untuk berdialog secara rutin. Kebiasaan sederhana itu membuat hubungan mereka semakin terbuka dan saling memahami.
“Dua hari lalu kami kembali membuat dialog. Kami sama-sama heran, kagum, terharu, dan bersyukur. Kami sudah menikah dua puluh tahun, tetapi rasanya seperti baru kemarin sore. Kasih itu terasa selalu baru, segar, dan terus bertumbuh,” ungkap salah satu pasangan.
Pembaruan janji perkawinan menjadi pengingat bahwa Sakramen Perkawinan bukan hanya peristiwa yang dirayakan sekali seumur hidup, melainkan panggilan untuk terus memperbarui komitmen kasih setiap hari.
Melalui kegiatan seperti ini, Gereja ingin meneguhkan pasangan suami istri agar tetap setia dalam panggilan hidup berkeluarga, saling mendukung, serta terus membangun komunikasi yang sehat dan penuh kasih.
Komunitas Marriage Encounter (ME) juga diharapkan semakin menjadi ruang pembinaan bagi keluarga-keluarga Katolik agar mampu menjaga kehangatan relasi suami istri, memperkuat spiritualitas keluarga, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah masyarakat.
Perayaan yang sederhana namun sarat makna ini menjadi bukti bahwa kasih yang dipelihara bersama Tuhan akan selalu terasa baru, segar, dan terus bertumbuh, meskipun usia perkawinan telah melewati puluhan tahun. *** Y. HARYOTO, SCJ (disunting)





