MAMA YASINTA MOIWEND: DI ANTARA PROPAGANDA, MANIPULASI, DAN PENCARIAN KEBENARAN
Sebuah Opini Feature

Kasus Yasinta Moiwend atau Mama Sinta telah berkembang jauh melampaui persoalan pribadi. Peristiwa ini telah menjadi arena pertarungan narasi yang memperlihatkan bagaimana propaganda, opini publik, dan kekuasaan bekerja dalam membentuk persepsi masyarakat.
Faktanya sederhana. Mama Sinta dikenal sebagai tokoh perempuan adat Marind yang selama bertahun-tahun menyuarakan kekhawatiran terhadap proyek Food Estate di Merauke. Ia hadir dalam berbagai kegiatan advokasi, menjadi wajah perjuangan masyarakat adat, dan tampil dalam film dokumenter Pesta Babi.
Namun kemudian terjadi perubahan yang mengejutkan. Mama Sinta berubah sikap, mendukung program pemerintah, mengkritik pihak yang sebelumnya mendampinginya, dan melaporkan penggunaan identitasnya dalam film tersebut.
Di sinilah misteri dimulai.
Publik tidak hanya melihat perubahan sikap, tetapi juga melihat adanya ruang kosong informasi. Keluarga mengaku sempat kehilangan kontak dengannya. Beberapa hari kemudian ia muncul di Jakarta. Pertanyaan mengenai bagaimana ia berangkat, siapa yang mendampingi, siapa yang membiayai perjalanan, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar belum terjawab secara terbuka.
Ketika fakta tidak lengkap, propaganda menemukan ruang hidupnya.
Dalam teori komunikasi politik, propaganda tidak selalu berarti kebohongan. Propaganda sering bekerja melalui pemilihan informasi tertentu untuk membangun persepsi tertentu. Sebagian fakta ditonjolkan, sebagian fakta lainnya diabaikan. Akibatnya, masyarakat tidak lagi berdebat mengenai fakta, tetapi berdebat mengenai narasi.
Di satu sisi, muncul narasi bahwa Mama Sinta adalah korban pemanfaatan dan eksploitasi perjuangan. Di sisi lain, muncul narasi bahwa Mama Sinta telah meninggalkan perjuangan masyarakat adat. Ada pula yang menduga adanya tekanan politik, kepentingan ekonomi, bahkan operasi pengaruh yang tidak terlihat.
Masalahnya, sebagian besar narasi tersebut belum dibuktikan secara hukum.
Dalam filsafat hukum, keadaan seperti ini sangat berbahaya. Ketika opini menggantikan fakta, maka kebenaran perlahan berubah menjadi soal siapa yang paling kuat memengaruhi publik.
Akibatnya, fokus masyarakat bergeser. Perdebatan tidak lagi mengenai masa depan masyarakat adat, keberlanjutan lingkungan, atau dampak Food Estate. Perdebatan berubah menjadi soal siapa yang benar dan siapa yang salah dalam pertarungan narasi.
Inilah bentuk manipulasi yang paling halus. Bukan memaksa orang percaya pada kebohongan, tetapi membuat masyarakat sibuk memperdebatkan simbol hingga melupakan substansi.
Mama Sinta akhirnya berada di tengah pusaran tersebut. Ia menjadi simbol yang diperebutkan banyak pihak. Ketika masih menolak Food Estate, ia dipandang sebagai simbol perlawanan. Ketika mendukung program pemerintah, ia dipandang sebagai simbol perubahan. Ketika melapor ke polisi, ia dipandang sebagai simbol konflik.
Padahal di balik semua simbol itu terdapat seorang manusia dengan hak, kehormatan, kebutuhan hidup, dan kebebasan menentukan pilihannya sendiri.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang paling keras berbicara. Pertanyaan terpenting adalah apakah seluruh fakta telah dibuka secara jujur kepada publik.
Sampai hari ini, sejumlah pertanyaan masih menggantung. Mengapa Mama Sinta sempat hilang kontak? Bagaimana proses keberangkatannya ke Jakarta? Siapa yang mendampingi? Siapa yang membiayai perjalanan tersebut? Apakah penggunaan identitasnya dalam film dilakukan dengan persetujuan yang sah? Apakah ada tekanan dari pihak tertentu?
Selama pertanyaan-pertanyaan itu belum dijawab secara terbuka dan dapat diverifikasi, ruang spekulasi akan terus hidup.
Dalam negara hukum, kebenaran tidak boleh ditentukan oleh propaganda. Kebenaran harus ditemukan melalui bukti, transparansi, dan proses hukum yang adil. Sebab ketika propaganda mengalahkan fakta, yang hilang bukan hanya kebenaran, melainkan juga kepercayaan publik terhadap keadilan itu sendiri.
Pada akhirnya, kasus Mama Yasinta Moiwend bukan hanya tentang satu orang perempuan adat dari Merauke. Kasus ini adalah cermin tentang bagaimana informasi, kekuasaan, kepentingan, dan opini publik saling bertarung dalam menentukan apa yang dianggap sebagai kebenaran. Dan selama seluruh fakta belum terungkap, misteri itu akan terus menjadi pertanyaan yang belum selesai.
Penulis: Elias Awekidabi Gobay




