Majalah GaiyaWarta Paroki

MEMULIHKAN “RUH” PENDIDIKAN DI TANAH PAPUA

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Pendidikan tak melulu soal bangku sekolah, ijazah, atau mencetak tenaga kerja untuk kebutuhan pasar. Lebih dalam dari itu, pendidikan adalah jalan “keluar dari ruang gelap” menuju pencerahan martabat manusia.

Pesan mendalam ini menjadi inti dari pokok pikiran yang disampaikan oleh Uskup  Keuskupan Timika,  Mgr.  Bernardus  Bofitwos  Baru,  OSA,  dalam pembukaan Lokakarya Pendidikan di Timika, 14 April 2026. Dalam pembukaan acara tersebut, Uskup membedah akar masalah sekaligus menawarkan peta jalan baru bagi pendidikan di wilayah Keuskupan Timika dan Papua Tengah.

Mengutip filsuf Platon, Uskup Bernardus mengingatkan bahwa pendidikan sejati adalah paideia—sebuah proses terus-menerus untuk membentuk manusia seutuhnya. Pendidikan adalah aktivitas peristrophe, yakni memalingkan kebiasaan hidup sehari-hari menuju sumber kebenaran abadi.

Secara etimologis, pendidikan juga berasal dari kata educare yang berarti “memberi makan” (edere) dan “menarik keluar” (ex-ducere). “Mendidik berarti memberi makan jiwa dengan ilmu, moral, dan spiritual, sekaligus menarik keluar potensi atau bakat terpendam anak agar mereka menjadi pribadi yang utuh,” ungkap Mgr. Bernardus.

Uskup melontarkan kritik tajam terhadap kondisi pendidikan saat ini yang terjebak dalam ideologi ekonomi. Pendidikan kini cenderung hanya mementingkan aspek kognitif (intelektual) dan mengabaikan aspek afektif serta psikomotorik. Parahnya lagi, metode menghafal lebih mendominasi daripada metode memahami dan menganalisis masalah.

Salah satu sorotan yang sangat relevan adalah fenomena “Penyakit Kepegawaian”. Ini adalah mentalitas di mana orang mengejar gelar akademis  (S1,  S2,  S3)  semata-mata  demi  status  sosial  atau  jabatan birokrasi, bukan karena haus akan ilmu. Akibatnya, muncul praktik jual-beli ijazah dan gelar “belian” yang melahirkan pemimpin dengan kemampuan kritis yang rendah.

Selain masalah mentalitas, Uskup Bernardus juga mengungkap fakta pilu dilapangan. Di wilayah Keuskupan Timika, mutu pendidikan merosot drastis karena minimnya kualitas guru, prasarana yang buruk, serta manajemen yayasan yang belum solid.

Kondisi semakin memprihatinkan di wilayah konflik seperti Intan Jaya, Dogiyai, dan Deiyai. Konflik bersenjata telah menyebabkan pengungsian internal dan kemacetan layanan pendidikan. “Kita sedang menghadapi ancaman loss generation (kehilangan generasi). Ribuan anak di wilayah konflik dan pesisir (seperti masyarakat Kamoro) tidak bisa sekolah dengan layak. Apakah kita akan diam saja?” tantang Uskup.

Melalui lokakarya ini, Mgr. Bernardus menetapkan lima tujuan besar untuk merevitalisasi pendidikan di bawah naungan YPPK, di antaranya sebagai berikut:

  1. Belajar dari Pengalaman. Yakni mengambil inspirasi dari keberhasilan yayasan pendidikan Katolik lain di seluruh tanah Papua.
  2. Evaluasi Total. Yaitu membedah sistem pendidikan yang berjalan di seluruh wilayah Keuskupan Timika tanpa terkecuali.
  3. Penataan Ulang. Melakukan perbaikan manajemen dan sinkronisasi visi antara yayasan dan pelaksana pendidikan di sekolah.
  4. Menyusun Grand Design. Melahirkan langkah strategis jangka pendek, menengah, dan panjang berdasarkan rekomendasi para ahli.
  5. Sinergi dan Kolaborasi. Membangun nota kesepakatan (MoU) dengan Pemerintah Daerah dan PT Freeport Indonesia terkait pendanaan, beasiswa, hingga infrastruktur.

Mengutip Romo Mangunwijaya, Uskup menegaskan bahwa guru bukanlah penentu masa depan atau orang yang paling tahu segalanya. Guru adalah fasilitator, motivator, penunjuk arah serta pembimbing anak didiknya. Tugas

utama guru bukan menjejalkan ilmu, tapi mengenal dan menggali potensi unik setiap anak—mulai dari bakat bahasa, logika, hingga kinestetik.

“Pendidikan yang benar adalah implementasi dari cinta kasih (amor et caritas). Menjadi pendidik adalah panggilan jiwa untuk mencintai anak didik, bukan menjadikan mereka objek pengajaran,” pungkasnya.

Lokakarya ini diharapkan menjadi titik balik bagi wajah pendidikan di Papua Tengah, agar anak-anak di gunung dan pesisir tidak hanya bermimpi, tetapi memiliki alat yang mumpuni untuk mewujudkannya.(***)

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button