Majalah GaiyaWarta Paroki

MENELUSURI JEJAK SEABAD PENDIDIKAN KATOLIK DI PAPUA TENAGA AHLI: SEJARAH BISA MENJADI TEMPAT KITA BELAJAR DAN BERCERMIN

TENAGA AHLI: SEJARAH BISA MENJADI TEMPAT KITA BELAJAR DAN BERCERMIN

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Bagi Gereja Katolik di Tanah Papua, pendidikan bukan program sampingan atau rencana cadangan. Ia adalah “napas pertama”. Begitu kaki para misionaris memijak bumi Cenderawasih, sekolah adalah hal pertama yang mereka bangun, tepat di tahun kedua pelayanan mereka.

Pesan kuat ini menggema dalam Lokakarya Pendidikan sekolah Dasar dan menengah bertajuk “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis” yang digelar di Timika, Selasa (14/4/2026). Pastor Benedictus Hari Juliawan, SJ, Provinsial Serikat Jesus, yang menjadi tenaga ahli lokakarya mengajak audiens menyelami lorong waktu 100 tahun pendidikan Katolik yang penuh keajaiban.

Sejarah pendidikan di Papua bukan hanya milik orang-orang Belanda. Ini adalah kisah “keroyokan” yang melibatkan keringat para misionaris religius, kegigihan guru-guru awam dari Maluku, hingga keberanian luar biasa tokoh lokal.

Simon  Ishak  Mendopma,  Ketua YPPK  Keuskupan  Manokwari,  Sorong, memaparkan satu fragmen sejarah yang menggetarkan hati terjadi pada akhir tahun 1924. Tiga pemuda Katolik dengan iman yang kuat berangkat ke Tual atau Langgur untuk mencari misionaris Katolik. Mereka adalah Yoseph Suni  Komber,  Petrus  Kabes,    dan Andreas  Kabes.  Perjalanan  mereka dilakukan dengan menumpang kapal layar milik seorang   saudagar Tionghoa yang saat itu berlabuh di Pelabuhan Fakfak. Pemilik kapal tersebut dikenal sebagai Syahbandar Chong Thai, yang tokonya kini dikenal dengan nama Kapaur.

Setelah melalui berbagai upaya, ketiga pemuda tersebut berhasil bertemu dengan Uskup Arts dan  menyampaikan kebutuhan umat Katolik di Fakfak. Permintaan mereka akhirnya membuahkan   hasil. Pastor Cappers MSC bersama seorang guru bernama Christianus Rettob kemudian diutus untuk melayani di Fakfak. “Kehadiran mereka menjadi titik awal kebangkitan kembali misi Katolik  di Tanah Papua, khususnya di tanah Mbaham Matta,” kata Simon.

Perjuangan ketiga pemuda ini menunjukkan bahwa iman umat tidak semata- mata bergantung pada  para misionaris, tetapi juga pada keberanian dan inisiatif umat sendiri. Ketekunan dan kepedulian  mereka menjadi fondasi penting bagi perkembangan Gereja Katolik di Tanah Papua hingga dapat bertumbuh dan berakar kuat di tengah masyarakat.

Menurut Simon jasa pendidikan di Papua bukan hanya misionaris Belanda, tapi gabungan dari berbagai orang. ‘Misionaris awam, pastor, biarawan biarawati, jangan lupa juga tukang kayu,” kata Simon.

Ada satu istilah unik yang dilontarkan Pastor Benedictus untuk menggambarkan usaha pendidikan Gereja di Papua: “Bandel”.

Bapa Ignas Adii

Mengapa bandel? Karena sepanjang satu abad, sistem pendidikan ini menolak untuk mati meski dihantam badai politik yang silih berganti. Ia bertahan di bawah bayang-bayang kolonial Hindia Belanda. Ia tetap tegak saat gejolak Trikora melanda. Ia terus beradaptasi meski kebijakan pemerintah Indonesia kerap berganti-ganti warna.

“Meski diterjang represi, tekanan, hingga ancaman, pendidikan Katolik tetap berdiri tegak. Itulah karakter aslinya: tangguh dan pantang menyerah,” tegas Pastor Benedictus.

Di tengah krisis pendidikan yang melanda Papua saat ini, untuk apa kita menengok ke belakang? Pastor Benedictus memberikan jawaban yang sangat puitis namun logis. Sejarah memang bukan resep obat yang pasti manjur untuk penyakit masa kini, tapi sejarah adalah “cermin terbaik”.

“Tetapi sejarah bisa menjadi tempat kita belajar, bercermin, melihat apa yang dulu berfungsi, apakah sekarang masih berfungsi. Apa yang dulu menyatukan, apakah sekarang menyatukan. Apa yang dulu membuat para perintis ini bersemangat, masih adakah sumber semangat itu?” tanyanya retoris.

Lokakarya ini adalah upaya untuk menyuntikkan kembali DNA resilience(ketangguhan) para pendahulu ke dalam nadi pendidikan masa kini.

Krisis mungkin sedang mengepung, namun sejarah telah membuktikan, bahwa Pendidikan Katolik di Papua punya sejarah panjang menjadi pemenang. Kini, saatnya semangat “bandel” itu kembali bangkit untuk membawa  anak-anak  Papua  melompat  lebih  tinggi  melampaui keterbatasan.

 

Perjuangan ketiga pemuda ini menunjukkan bahwa iman umat tidak semata- mata bergantung pada  para misionaris, tetapi juga pada keberanian dan inisiatif umat sendiri. Ketekunan dan kepedulian  mereka menjadi fondasi penting bagi perkembangan Gereja Katolik di Tanah Papua hingga dapat bertumbuh dan berakar kuat di tengah masyarakat.(***)

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button