SATU HAL YANG TIDAK PERNAH PUDAR: RASA KEKELUARGAAN UMAT KATOLIK WILAYAH WEGAMO
Oleh: Eman Madai
Debu masih beterbangan. Keringat bercucuran, namun tawa dan semangat tetap terdengar di antara umat. Di Kampung Geko, umat Katolik Wilayah Wegamo bergotong royong mengangkat batu kerikil untuk pembangunan Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Badauwo. Ini bukan proyek pemerintah, melainkan kerja bakti yang lahir dari semangat iman dan kebersamaan.
Di tengah kesibukan itu, para orang tua di Wilayah Wegamo terus mengulang sebuah kalimat yang sarat makna, “Ada satu hal yang tidak pernah pudar dimakan waktu, yaitu rasa kekeluargaan sebagai umat Katolik Wilayah Wegamo.”
Gereja adalah Kita, Bukan Sekadar Tembok
Bagi Gereja Katolik, gereja bukan pertama-tama dipahami sebagai sebuah bangunan yang megah. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus, dengan Kristus sebagai Kepala dan seluruh umat beriman sebagai anggota-Nya. Kita adalah Umat Allah yang memiliki empat ciri Gereja, yaitu Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.
Artinya, ketika satu anggota mengalami penderitaan, seluruh tubuh ikut merasakannya. Sebaliknya, ketika satu keluarga bersukacita, seluruh komunitas pun turut bersyukur.
Karena itu, membangun gedung gereja bukan sekadar mendirikan bangunan fisik. Lebih dari itu, kita sedang membangun persatuan dan memperkokoh persekutuan umat. Setiap kerikil yang diangkat, setiap adukan semen yang dibuat, dan setiap lembar atap yang dipasang menjadi tanda nyata bahwa kita percaya, “Ini adalah rumah kita bersama, rumah Tuhan yang juga menjadi rumah bagi seluruh umat.”
Gedung gereja mungkin suatu hari akan lapuk dimakan panas dan hujan. Namun iman, kasih, dan kebersamaan yang melandasi pembangunannya tidak akan pernah lapuk oleh waktu.
Kekeluargaan yang Terus Bertumbuh
Rasa kekeluargaan di Wegamo tidak lahir dalam semalam. Nilai itu ditempa dari tahun ke tahun melalui berbagai kerja bakti, pelayanan, dan pengorbanan bersama.
Inilah gambaran Gereja yang sedang berziarah di dunia, yakni umat Allah yang saling menopang dalam perjalanan menuju kepenuhan hidup bersama Allah. Melalui kerja bakti ini, umat Katolik Wilayah Wegamo mengambil bagian dalam semangat Gereja universal, yaitu membangun, melayani, dan mewartakan kasih Kristus kepada sesama.
Pembangunan Stasi Kristus Raja Badauwo: Tanda Iman yang Nyata
Pembangunan Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Badauwo bukan semata-mata untuk menghadirkan sebuah bangunan yang indah. Lebih dari itu, pembangunan ini merupakan jawaban atas kebutuhan umat akan tempat beribadah sekaligus pusat pelaksanaan Tri Tugas Gereja, yaitu mewartakan Injil (Kerygma), menguduskan melalui liturgi (Liturgia), dan melayani sesama (Diakonia).
Gedung gereja ini kelak akan menjadi saksi perjalanan iman umat. Sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, anak cucu kita mungkin akan bertanya, “Siapa yang membangun gereja ini?”
Jawabannya bukanlah nama satu atau dua orang. Jawabannya adalah, “Seluruh umat Katolik Wilayah Wegamo. Kami membangunnya bersama-sama.”
Warisan yang Tidak Dimakan Waktu
Suatu saat nanti, cat tembok gereja ini mungkin akan memudar. Atapnya mungkin akan diganti. Bahkan, kita yang hari ini berkeringat membangunnya mungkin telah lebih dahulu dipanggil Tuhan.
Namun ada satu hal yang tidak akan pernah pudar, yaitu kisah tentang umat Katolik Wilayah Wegamo yang rela berkorban tenaga, waktu, dan pikiran demi membangun rumah Tuhan. Semua itu dilakukan karena satu alasan yang sederhana, tetapi sangat mendalam: cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama.
Pada akhirnya, yang sesungguhnya membangun Gereja bukanlah batu, semen, atau besi. Yang membangun Gereja adalah kasih. Dan kasih itu tumbuh serta berakar dalam rasa kekeluargaan.
Selama rasa kekeluargaan itu tetap hidup di tengah umat, Gereja Katolik Stasi Kristus Raja Badauwo akan terus hidup, bertumbuh, dan menjadi terang yang menghadirkan harapan bagi seluruh masyarakat Wegamo. *)




