USKUP TIMIKA: PAPUA TIDAK BOLEH DIBIARKAN MENJADI PROYEK KEKERASAN
TIMIKA, KEUSKUPANTIMIKA.ORG — Uskup Timika Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, mengajak seluruh imam dan pelayan pastoral Keuskupan Timika untuk terus memperjuangkan perdamaian Papua, melindungi pendidikan anak-anak korban konflik, serta menghadirkan pelayanan yang tulus bagi masyarakat.
Ajakan itu disampaikan dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Krisma sekaligus penutupan Rapat Tim Pastoral Keuskupan Timika di Gereja Paroki Santa Sesilia SP2, Jumat (16/10/2026) pukul 17.00 WIT.
Rapat Tim Pastoral tersebut berlangsung sejak Senin (12/10/2026) hingga Jumat (16/10/2026) di Kompleks Bobaigo, Keuskupan Timika.
Dalam homilinya, Uskup Bernardus menegaskan bahwa tugas perutusan Gereja bukanlah sarana untuk mengejar ambisi atau kepentingan pribadi, melainkan panggilan untuk melaksanakan kehendak Allah melalui pelayanan yang membawa kasih, perdamaian, dan kebaikan bagi sesama.
Menurut Bapa Uskup, setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk mengambil bagian dalam perutusan Kristus dengan mengandalkan bimbingan Roh Kudus. Karena itu, jabatan dan tanggung jawab dalam Gereja harus dijalankan dengan kerendahan hati, ketulusan, dan kesediaan untuk melayani.
“Ini adalah rencana Allah, bukan semata-mata rencana kita. Ini adalah impian Allah, bukan sekadar impian kita,” demikian penegasan Uskup dalam refleksinya tentang panggilan dan perutusan.
Ia mengingatkan bahwa perbedaan budaya, pendidikan, keadaan fisik, status sosial, dan latar belakang kehidupan tidak boleh memecah persaudaraan umat Allah. Sebaliknya, seluruh umat dipanggil untuk bersatu dalam kasih Kristus dan menjalankan pelayanan dengan semangat servus servorum Dei, yakni hamba dari para hamba Allah.
Uskup juga mengingatkan para imam dan pelayan pastoral agar tidak menjadikan pelayanan sebagai panggung untuk mencari pengakuan atau kemuliaan diri sendiri. Pelayanan, katanya, harus diarahkan demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan orang-orang yang dipercayakan kepada Gereja.

Gereja Dipanggil Memperjuangkan Perdamaian Papua
Salah satu perhatian utama Uskup Bernardus ialah situasi konflik dan ancaman keamanan yang masih menjadi tantangan bagi masyarakat Papua. Dalam situasi tersebut, ia mengajak para pelayan pastoral untuk tidak kehilangan harapan dan terus mengambil bagian dalam upaya membangun perdamaian.
Ia menegaskan pentingnya dialog, kerja sama, dan keberanian menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. Para pelayan Gereja yang berkarya di bidang advokasi juga diminta untuk memperkuat jejaring dan tidak mundur ketika menghadapi berbagai tantangan.
“Papua tidak boleh dibiarkan menjadi proyek kekerasan,” menjadi salah satu penegasan penting dalam homili tersebut.
Menurut Uskup, aspirasi masyarakat Papua perlu terus disuarakan melalui jalan damai dengan mendorong terbukanya ruang dialog. Gereja, dalam hal ini, dipanggil untuk menjadi bagian dari upaya membangun persaudaraan, memperjuangkan martabat manusia, dan mendorong penyelesaian konflik tanpa kekerasan.
Ia mengingatkan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Raja Damai yang senantiasa mengundang umat-Nya untuk menghadirkan perdamaian di tengah masyarakat. Karena itu, tantangan dan ancaman dalam pelayanan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bekerja demi kebaikan bersama.
Pendidikan Anak Korban Konflik Menjadi Perhatian
Selain perdamaian, Uskup Bernardus menyoroti pentingnya pendidikan, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan konflik.
Ia mengingatkan seluruh unsur pastoral agar bergerak bersama untuk mencegah hilangnya satu generasi atau lost generation, khususnya karena anak-anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak.
Pendidikan, menurut dia, merupakan bagian integral dari perutusan Gereja. Karena itu, perhatian terhadap anak-anak dan kaum muda tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi perlu diwujudkan melalui langkah-langkah pastoral yang nyata.
Gereja dipanggil untuk melindungi masa depan anak-anak agar mereka tetap memiliki kesempatan belajar, bertumbuh, dan membangun kehidupan yang lebih baik, sekalipun berada dalam situasi konflik dan keterbatasan.
Uskup juga mendorong pengembangan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Upaya tersebut dapat dimulai dengan membangun kerja sama antara para pastor, pelayan pastoral, dokter, dan tenaga kesehatan agar kebutuhan masyarakat mendapat perhatian yang lebih baik.
Baginya, pendidikan dan kesehatan merupakan bentuk konkret kepedulian Gereja terhadap martabat manusia, sekaligus bagian dari tanggung jawab bersama untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Katekese dan Kaum Muda Perlu Diperkuat
Dalam bidang pembinaan iman, Uskup Bernardus mengajak para pelayan pastoral untuk memperkuat katekese agar umat semakin memahami dan menghayati ajaran iman Katolik secara benar.
Ia menilai perkembangan dunia digital menghadirkan tantangan tersendiri karena umat, termasuk anak-anak dan kaum muda, berhadapan dengan berbagai informasi dan ajaran yang belum tentu sesuai dengan iman Katolik.
Karena itu, metode katekese perlu terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan umat dan perkembangan zaman. Pendampingan iman tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu umat membangun kehidupan yang berakar pada ajaran Kristus.
Perhatian khusus juga diberikan kepada kaum muda melalui momentum Indonesian Youth Day (IYD) dan World Youth Day (WYD). Uskup mengajak Gereja untuk merangkul, mendampingi, dan memberikan ruang kepada orang muda agar dapat berkembang dalam iman serta mengambil bagian aktif dalam kehidupan menggereja.
Ia mengingatkan pentingnya pendampingan kaum muda dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk bahaya penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan perilaku yang dapat merusak masa depan mereka.
Orang muda, menurut dia, bukan hanya masa depan Gereja, melainkan juga bagian penting dari kehidupan Gereja saat ini.

Pembaruan Janji Imamat sebagai Komitmen Pelayanan
Perayaan Ekaristi Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Krisma menjadi momentum bagi para imam dan seluruh pelayan pastoral untuk kembali meneguhkan komitmen dalam menjalankan tugas perutusan.
Dalam refleksinya, Uskup Bernardus mengingatkan bahwa panggilan menjadi imam dan pelayan Gereja merupakan bagian dari rencana Allah. Karena itu, setiap tugas hendaknya dijalankan bukan demi kepentingan pribadi, melainkan untuk menghadirkan kasih Allah dan memperjuangkan keselamatan sesama.
Ia mengajak seluruh pelayan pastoral Keuskupan Timika untuk tetap setia sekalipun menghadapi keterbatasan, kesulitan, dan situasi yang tidak selalu aman.
Tuhan, katanya, adalah Gembala Agung yang senantiasa menyertai umat-Nya. Keyakinan tersebut hendaknya menjadi sumber kekuatan bagi para imam dan pelayan pastoral untuk terus bekerja dengan hati yang tulus, memperjuangkan perdamaian, memperhatikan pendidikan dan kesehatan, memperkuat iman umat, serta mendampingi kaum muda.
Melalui pembaruan komitmen tersebut, Gereja Keuskupan Timika diharapkan semakin hadir di tengah masyarakat Papua bukan hanya melalui pewartaan iman, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membela martabat manusia, merawat persaudaraan, dan membangun perdamaian.***(Penulis/Editor: Jimmy Rahadat-KOMSOS TIMIKA)




