Majalah GaiyaWarta Paroki

UMAT PAROKI SANTO YOSEP WAGOMANI RAYAKAN 73 TAHUN MISI KATOLIK DI WILAYAH DEBEI

Menjaga Api Iman, Menghidupkan Sejarah, Menyiapkan Masa Depan. “Kasihilah Tuhan dan Sesama: Perbuatlah Demikian”

Sebuah Perjalanan yang Patut Disyukuri.

Umat Paroki Santo Yosep Wagomani, Dekenat Tigi-Keuskupan Timika merayakan Perayaan Syukur 73 tahun Misi Katolik di Debei pada tanggal 5 Oktober 2026.

Perayaan Syukur tahun 2026 ini dirayakan yang keempat, setelah tiga tahun yang lalu  ditetapkan tanggal 5 Oktober sebagai hari hadirnya Misi Katolik di Debei. Dimana saat itu menyepakati bersama untuk merayakan perayaan syukur hadirnya pekabaran Injil di Debei yang dirayakan pada tanggal 5 Oktober setiap tahun.

Mengapa tanggal 5 Oktober ditetapkan Hari Misi Katolik Di Debei?

Pada tanggal 5 Oktober 1937 Pater Herman Tillemans, MSC tiba di Wagomani-Debei. Perjalanan ini dalam rangka survei setelah sebelumnya masuk di Mapia-Modio pada tahun 1935. 16 tahun berlalu, datanglah seorang abdi Allah yakni Hendrikus Okmonggop  di Wagomani Pada bulan Oktober 1953 dan membuka Gereja dan Sekolah. Dengan demikian, umat katolik wilayah Debei menetapkan 5 Oktober sebagai Hari Misi Katolik di Debei, yang dihitung dari tahun 1953 dimana pada tahun ini Hendrikus Okmonggop membuka Gereja dan Sekolah di Wagomani-Debei.\Pada tahun 2026 merayakan HUT yang ke 73 tahun.

Tujuh puluh tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Tujuh puluh tiga tahun adalah perjalanan panjang yang di dalamnya tersimpan kisah tentang iman, perjuangan, pengorbanan, pelayanan, kesetiaan, suka dan duka, serta harapan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Perayaan Syukur 73 Tahun Misi Katolik di Wilayah Debei tidak hanya merupakan sebuah perayaan ulang tahun. Perayaan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, mensyukuri karya Tuhan, mengenang para pendahulu, dan sekaligus bertanya: ke mana Gereja akan melangkah setelah 73 tahun ini?

Perayaan syukur ini dipimpin oleh P. Stefanus Wadoyai Yogi, Pr., Rektor TOR Nabire, didampingi P. Damianus Y. AW. Adii, Pr., Dekan Dekenat Tigi, serta Diakon Damian Nakapa, Pastor Penanggung Jawab Paroki St. Yosep Wagomani. Perayaan juga dihadiri dan didukung oleh para pewarta, yaitu Pwt. Yanto Pigome, Pwt. Willem Pigome, Pwt. Yulius Waine, dan Pwt. Petrus Waine, bersama seluruh umat.

Kehadiran para pelayan Gereja, para pewarta, pemerintah kampung, panitia, dan seluruh umat menunjukkan bahwa perjalanan Gereja tidak hanya merupakan karya satu atau dua orang. Gereja bertumbuh melalui keterlibatan banyak orang yang dengan caranya masing-masing memberikan diri bagi Tuhan dan sesama.

HUT: Hari Untuk Tuhan

Pastor Stepanus Wadoyai Yogi, Pr., Rektor TOR Nabire berkotbah dengan penuh makna dalam perayaan syukur 73 tahun Misi Katolik di tanah Debei. (Dok. Komsos Paroki Wagomani)

Dalam homilinya, P. Stefanus Wadoyai Yogi, Pr. mengajak umat untuk melihat makna HUT secara lebih mendalam.

HUT biasanya dipahami sebagai Hari Ulang Tahun. Namun Pater Stefanus memberikan pemaknaan yang lebih rohani: HUT adalah “Hari Untuk Tuhan.”

Pemaknaan ini menjadi sangat indah dalam konteks perayaan 73 tahun Misi Katolik di Debei. Sebab ketika kita melihat perjalanan 73 tahun, kita menyadari bahwa sesungguhnya yang sedang kita rayakan bukan pertama-tama keberhasilan manusia, melainkan kesetiaan Tuhan.

Manusia datang dan pergi, generasi berganti, para misionaris datang dan melanjutkan perjalanan. Para pewarta melayani.Orang tua mendidik anak-anak, umat menjaga kehidupan Gereja.Tetapi di balik semua itu, Tuhanlah yang terus bekerja. Maka perayaan 73 tahun ini seakan menjadi doa umat:

“Tuhan, inilah perjalanan kami. Kami bersyukur karena selama 73 tahun Engkau tidak pernah meninggalkan kami.”

Pastror Stepanus mengajak, umat tangguh menghadapi tantangan iman dari berbagai penyakit sosial yang sedang dan akan mengguncang iman umat. Ia menambahkan benih Injil yang sudah ditanamkan di daerah Debei harus dijaga dan dirawat hingga menghasilkan buah melalui tindakan nyata.

Dengan demikian, perayaan HUT bukan sekadar mengenang bertambahnya usia. HUT menjadi kesempatan untuk bertanya: Sudahkah hidup kita menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan kita?

73 Tahun: Sejarah Kasih Tuhan

Ketika kita berbicara tentang 73 tahun Misi Katolik di Debei, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah sejarah panjang.

Ada para misionaris yang telah datang dan menanam benih Injil. Ada para imam yang melayani. Ada para pewarta dan katekis yang mengajarkan iman. Ada guru-guru yang mendidik. Ada orang tua yang setia menjaga iman di dalam keluarga. Ada umat yang bekerja dalam kesederhanaan dan kesetiaan. Ada pula mereka yang mungkin tidak pernah dikenal namanya secara luas, tetapi pengorbanannya telah menjadi bagian dari perjalanan Gereja. Mereka semua adalah bagian dari sejarah Gereja.

Benih yang mereka tanam mungkin tidak langsung menghasilkan buah. Tetapi hari ini kita menikmati buah dari apa yang telah mereka kerjakan. Karena itu, perayaan 73 tahun menjadi kesempatan untuk berkata: Terima kasih, Tuhan. Dan sekaligus: Terima kasih kepada mereka yang telah mendahului kami.

Sejarah Harus Dihidupkan

Hal penting mengenai sejarah ini kembali ditegaskan dalam sambutan P. Damianus Y.AW.  Adii, Pr., Dekan Dekenat Tigi.

Sebelum menyampaikan pesannya, Pater Dekan terlebih dahulu memanggil Ibu Zofia Zonggonau, yang dikenal sebagai Cici dari Salekigi Zonggonau, dan memiliki keterkaitan dengan Tim Ekspedisi bersama Pater Tillemans.

Pemanggilan tersebut menjadi sebuah simbol yang kuat.

Sejarah Gereja tidak hanya terdapat dalam buku atau dokumen. Sejarah juga hidup dalam diri orang-orang yang pernah mengalami dan menyaksikan perjalanan tersebut.

Ada saksi-saksi hidup, ada kenangan, ada cerita, ada tempat-tempat yang menyimpan jejak pelayanan para misionaris.

Karena itu, Pater Dekan menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah merancang dan menetapkan Hari Misi Katolik di Debei yang akan dirayakan setiap tahun.

Menurut Pater Dekan, Perayaan semacam ini penting karena sejarah tidak boleh dibiarkan hilang bersama berlalunya waktu. Dan berharap agar peristiwa-peristiwa bersejarah seperti ini dapat dihidupkan di tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah bagi perjalanan Gereja.

Harapan tersebut sangat penting bagi generasi muda sebab, anak-anak dan kaum muda perlu mengetahui dari mana mereka berasal.

Mereka perlu mengetahui bahwa iman yang mereka terima hari ini bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan karena adanya perjuangan dan pengorbanan dari mereka yang datang melayani. Dan ada pula umat setempat yang menerima dan meneruskan iman.

Dengan mengenal sejarah, kita belajar menghargai apa yang telah diwariskan dan terdorong untuk menjaganya.Dan dengan menjaganya, kita mempersiapkan diri untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Kitab Suci: Sumber yang Menjaga Api Iman

Pastor Damianus Y.AW. Adii, Pr., Pastor Dekan Dekenat Tigi menyerahkan Alkitab untuk digunakan pada perayaan-perayaan selanjutnya. (Dok. Komsos Paroki Wagomani)

Dalam sambutannya, Pater Dekan juga menyerahkan sebuah Alkitab/Kitab Suci sebagai sarana doa yang akan digunakan dalam perayaan-perayaan selanjutnya.

Penyerahan Kitab Suci ini memiliki makna yang sangat dalam. Selama 73 tahun, Gereja telah mewartakan Injil di tanah Debei. Hari ini, Sabda Tuhan kembali diteguhkan sebagai sumber kehidupan umat. Kitab Suci harus dibuka, dibaca, didengarkan, direnungkan, didoakan dan terlebih dari itu dihidupi.

Sebab iman tidak akan bertumbuh hanya karena kita mengetahui isi Kitab Suci. Iman bertumbuh ketika Sabda Tuhan menjadi dasar kehidupan.

Kitab Suci yang diserahkan Pater Dekan menjadi simbol bahwa perjalanan Gereja ke depan harus tetap berakar pada Sabda Tuhan. Sejarah memberi kita akar, Sabda Tuhan memberi kita arah. Dan iman memberi kita kekuatan untuk berjalan ke depan.

Menjaga Identitas dan Sejarah Gereja di Debei

Pesan mengenai sejarah juga muncul dalam sambutan Dewan Pengurus Harian (DPH) Paroki.

Dalam pesannya, DPH mengingatkan bahwa kehidupan Gereja di wilayah Debei sejak awal telah diwarnai oleh kehadiran Gereja Katolik dan Gereja Kingmi.

Pesan ini mengajak umat untuk menyadari bahwa perjalanan kehidupan beragama di Debei memiliki sejarah dan identitas yang perlu dihargai.

Kita dipanggil untuk teguh dalam iman, tetapi tidak kehilangan kasih. Kita boleh mencintai Gereja kita. Kita boleh menghargai sejarah kita. Kita boleh menjaga kehidupan umat kita.Tetapi kita juga dipanggil untuk menjadi pembawa damai dan persaudaraan.

Sebaliknya, iman yang kuat seharusnya membuat kita semakin mampu menghargai sesama, inilah tantangan kedewasaan iman:

teguh dalam keyakinan, tetapi tetap hidup dalam kasih. Dan hal itu kembali kepada tema perayaan:

“Kasihilah Tuhan dan Sesama: Perbuatlah Demikian.”

Keluarga: Tungku Api Iman

Dalam sambutannya, Pater Stefanus memberikan perhatian khusus kepada keluarga.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga iman dan mendidik anak-anak dalam keluarga, karena

keluarga adalah tempat pertama di mana iman diperkenalkan dan karakter dibentuk.

Keluarga ibarat tungku api yang menyala dan terus dijaga agar tidak padam.

Demikian pula iman yang diwariskan oleh para pendahulu harus terus dipelihara dalam keluarga dengan memberi teladan yang baik kepada anak-anaknya.

Sebab anak-anak lebih mudah belajar dari apa yang mereka lihat dari pada apa yang hanya mereka dengar. Karena itu, masa depan Gereja sangat bergantung pada keluarga-keluarga yang mampu menjaga tungku api iman tetap menyala.

Menyiapkan Panggilan Pastor dan Suster

Pesan Rektor TOR Nabire mengharapkan agar dalam 2–3 tahun ke depan ada anak-anak dari Paroki St. Yosep Wagomani yang diutus untuk mengikuti pendidikan dan pembinaan menuju panggilan sebagai pastor dan suster. Harapan ini bukan sekadar persoalan jumlah namun, persoalan masa depan Gereja.

Gereja membutuhkan imam, biarawan dan biarawati, pewarta dan kaum awam  yang bersedia menyerahkan hidupnya untuk Tuhan dan sesama. Karena itu, keluarga-keluarga Katolik dipanggil untuk membuka ruang bagi Tuhan. Jangan sampai cita-cita anak hanya diarahkan kepada pekerjaan dan keberhasilan duniawi.

Sambutan Panitia: Pelayanan dalam Kebersamaan

Sebelum pesan-pesan pastoral tersebut, Panitia Pelaksana telah menyampaikan laporan mengenai kegiatan perayaan.

Laporan panitia memperlihatkan bahwa perayaan ini lahir dari kerja bersama. Ada orang yang merancang, ada yang mempersiapkan, ada yang bekerja, ada yang menyumbang tenaga dan waktu. Ada yang membantu dalam berbagai bentuk.

Semua itu memperlihatkan bahwa Gereja dibangun melalui keterlibatan bersama. Pelayanan panitia menjadi contoh sederhana bahwa kasih bukan hanya kata-kata. Namun diwujudkan melalui kesediaan untuk bekerja dan melayani.

Pemerintah Kampung: Doa dan Pembangunan

Sambutan berikutnya datang dari Pemerintah Kampung Wagomani, yang disampaikan oleh Pj. Kepala Kampung Wagomani, Beatrikx Waine, S.Keb.

Dalam pesannya, beliau mengajak umat agar selalu berdoa dan mendoakan program-program Pemerintah Kampung, sehingga rencana-rencana yang telah dibuat dapat terlaksana dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan ini menunjukkan bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya membutuhkan program dan kerja keras, tetapi juga membutuhkan doa dan dukungan seluruh masyarakat.

Salah satu program yang disampaikan adalah rencana penyediaan fasilitas tempat doa di lokasi ziarah, berupa sebuah rumah doa.

Rencana ini mempunyai nilai rohani yang penting. Rumah doa di tempat ziarah dapat menjadi ruang bagi umat untuk datang membawa syukur, pergumulan, harapan, dan doa.

Di tempat itu umat dapat berhenti dari kesibukan, merenung, dan kembali mengarahkan hati kepada Tuhan. Di sini terlihat bahwa pembangunan fisik dan kehidupan rohani tidak harus dipisahkan. Sebuah fasilitas dapat menjadi sarana untuk mendukung kehidupan iman.Karena itu, ajakan Pj. Kepala Kampung untuk mendoakan program pemerintah merupakan ajakan untuk berjalan bersama.

Pemerintah merencanakan dan bekerja, Gereja mendampingi, umat mendoakan dan mengambil bagian. Kita berdoa sambil bekerja, dan bekerja sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Dari Sejarah Menuju Masa Depan

Jika seluruh pesan dalam perayaan ini kita renungkan, semuanya mengarah kepada satu hal: masa depan.

Panitia mengajak kita melihat nilai kebersamaan. Pater Stefanus mengajak keluarga menjaga iman dan mempersiapkan panggilan.

DPH mengingatkan pentingnya menjaga sejarah dan identitas Gereja.

Pemerintah kampung mengajak umat mendoakan pembangunan dan menghadirkan tempat doa.

Pater Dekan mengajak umat menghidupkan kembali tempat-tempat bersejarah serta menyerahkan Kitab Suci sebagai sarana doa.

Semua pesan itu saling berhubungan.

Kita tidak mungkin membangun masa depan tanpa menghargai masa lalu. Kita tidak mungkin menjaga masa lalu tanpa menanamkan iman kepada generasi berikutnya.

Kita tidak mungkin menyiapkan generasi tanpa keluarga yang kuat. Dan kita tidak mungkin memiliki keluarga yang kuat tanpa kehidupan iman yang hidup.

Karena itu, 73 tahun bukan titik akhir.

73 tahun adalah sebuah jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Akhir dari perayaan ini dilanjutkan dengan jamuan bersama. Panitia dan umat menyembeli 10 ekor babi dan satu ekor sapi untuk menjamu 1.830 orang yang ikut hadir dalam perayaan tersebut.

Penulis: Damian Nakapa

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button