USKUP JAYAPURA SERUKAN KEBERANIAN MENJADI SAKSI KRISTUS DI TENGAH KETIDAKADILAN PAPUA
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Jayapura, 16 November 2025 Perayaan Ekaristi Dedikasi Gereja Katedral Keuskupan Jayapura berlangsung dengan penuh harapan dan sekaligus keprihatinan mendalam terhadap situasi Papua. Dalam homilinya, Uskup menyampaikan seruan keras bernuansa pastoral dan sosial-politik mengenai ketidakadilan yang masih membayangi masyarakat di berbagai wilayah Papua.
Uskup menegaskan bahwa banyak orang sudah tidak merasa damai lagi karena ketidakadilan yang berulang dari kekerasan, pelanggaran martabat manusia, hingga ketimpangan sosial yang membuat banyak keluarga hidup dalam kecemasan. Dalam salah satu poin kotbahnya yang paling mengena, ia menyampaikan bahwa tanpa keberanian memperjuangkan kebenaran, Gereja akan kehilangan suaranya dan masyarakat akan kehilangan harapannya. Ketidakadilan, katanya, bukan isu abstrak; itu adalah luka konkret yang dirasakan masyarakat setiap hari.
Di tengah suasana perayaan, Uskup mengingatkan bahwa dedikasi katedral bukan semata-mata peresmian bangunan fisik, tetapi pembaruan hati dan komitmen. Gedung bisa megah, tetapi gereja akan tampak rapuh bila umatnya tidak ikut membangun keadilan bagi sesama. Pembangunan spiritual, katanya, harus berjalan seiring dengan pembangunan martabat manusia, terutama mereka yang hidup dalam kemiskinan struktural, masyarakat adat yang sering terpinggirkan, serta generasi muda yang haus akan masa depan yang lebih manusiawi.
Ia juga menekankan pentingnya rekonsiliasi yang bermutu rekonsiliasi yang jujur, bukan sekadar slogan. Papua, menurutnya, hanya bisa menemukan damai apabila seluruh pihak berani membuka luka, mendengar keluhan mereka yang tersakiti, dan memberi ruang dialog yang menghargai martabat semua kelompok. Rekonsiliasi membutuhkan kerendahan hati, bukan kemenangan sepihak.
Dalam bagian pesan pastoralnya, Uskup mengajak semua umat untuk berani tampil sebagai saksi Kristus di tengah realitas yang sulit. “Kita diutus untuk menghasilkan buah-buah kebaikan, kasih, damai, dan keadilan,” ujarnya. Kesaksian iman, katanya, bukanlah ritual belaka, tetapi tindakan nyata yang menebarkan harapan di lingkungan masing-masing.
Uskup juga menyampaikan harapan kepada pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, dan semua pemegang kewenangan agar mengambil langkah-langkah yang sungguh berpihak pada rakyat, khususnya mereka yang paling rentan. Ia menegaskan bahwa Papua membutuhkan keberanian politik yang tulus demi memulihkan kepercayaan publik dan menghentikan lingkaran ketakutan yang sudah terlalu lama terjadi.
Ia menutup kotbah dengan doa bagi tanah Papua agar keadilan menjadi akar, dan damai menjadi buah yang sungguh dapat dirasakan oleh semua orang, tanpa kecuali. Katedral yang didedikasikan ini, tegasnya, harus menjadi pusat moral, tempat umat diteguhkan untuk terus memperjuangkan kehidupan yang lebih manusiawi bagi seluruh masyarakat Papua. *** ELIAS AWEKIDABI GOBAY





