Warta Paroki

PEMBEKALAN BAHAN ADVEN DI PAROKI MAUWA: “KELUARGA BERJALAN MENUJU PINTU KESELAMATAN”

Tim Pastoral Paroki St. Petrus Mauwa bersama Pastor Paroki memberikan membuka masa adven dengan memberikan materi Pembekalan Bahan Pendalaman Iman Masa Adven kepada seluruh pewarta di lingkungan Paroki dan Stase pada Senin, 17 November 2025 bertempat di Pastoran Sta. Agnes, Mauwa. Harapannya melalui kegiatan pembekalan ini para pewarta senior dan pewarta kader di seluruh wilayah Paroki Mauwa semakin siap untuk diutus berdua-dua turun ke wilayah tujuh (07) Kombas di Pusat Paroki dan Stase memimpin jalannya proses pendalaman imam di kalangan umat akar rumput lintas Kombas dan kelompok kategorial dengan baik dan benar. Pembekalan bahan pendalaman ini merupakan sebuah program wajib dari Tim Pastoral Paroki Mauwa yang rutin dilakukan selama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN), Bulan Rosario-Maria, Masa Prapaskah, dan Masa Adven.

Gambaran Umum Bahan Pedalaman Adven

Cover Buku Bahan Pendalaman Iman Masa Adven 2025 Keuskupan Timika.

Pastor Paroki St. Petrus Mauwa-Dogiyai, Pastor Bennyamin Sugiyatanggu Magay Pr membuka kegiatan pembekalan dengan doa dan beberapa pandangan umum tentang tema pendalaman masa adven Keuskupan Timika tahun ini.

“Tema ini disusun saat kemarin kami pertemuan di Timika. Tim penyusun ini berusaha menghubungkan semangat Uskup John dalam mottonya: Siapakan Jalan Tuhan (Parate Viam Domini) dengan motto Uskup yang baru, Akulah Pintu (Ego Sum Ostium). Uskup pertama sudah menyiapkan jalan, hingga sampai di serambi atau teras, sekarang dengan Uskup yang baru kita sudah berada di depan Pintu. Sebenarnya Pintu yang dimaksudkan di sini bukan sosok Uskup, melainlan sosok Tuhan Yesus Kristus sendiri, dan kita semua dipanggil di menuju Pintu itu, sebab Dialah Pintu Suci (Porta Sancta).” Ungkap Pastor Benny dalam sesi pembukaan. Pastor Benny juga menambahkan beberapa gambaran umum seputar empat tema pendalaman selama empat pekan kedepan.

“Di awal ini mungkin saya akan memberikan sedikit gambaran seputar empat tema yang akan kita dalami bersama umat kedepan. Tema pertama: keluarga tempat aman dan nyaman. Menurut saya di sini penting sekali adanya rekonsiliasi dalam keluarga-keluarga agar semua keluarga menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi kelahiran Juruselamat. Tema kedua: doa dalam keluarga menghantar ke pintu keselamatan. Poin ini menegaskan penting ada waktu doa bersama dalam keluarga, misalnya saat sebelum makan malam bersama. Tema ketiga: pertobatan sebagai jalan menuju keselamatan. Bertobat dan berdamai itu perlu jika kita mau sampai pada Tuhan sebagai pintu keselamatan. Bertobat dengan sesama antar anggota keluarga tapi juga penting untuk berdamai dengan alam, leluhur, dan malaikat pelindung. Tema keempat: Yesus lahir menjadi jalan dan pintu keselamatan. Yesus adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan, kelahirannya harus bisa menghantar kepada-Nya sebagai pintu yang memberikan harapan, keselamatan, dan kehidupan” tutupnya.

Usai memberikan sedikit gambaran awal seputar tema pendalaman bahan adven selama empat pekan, Pastor Paroki memberikan kesempatan kepada Frater Siorus Degei, Diakon Markus Auwee, dan Ibuguru Agustina Yobee untuk memberikan sedikit pembacaan dan pendalaman atas Bahan Pendalaman Iman Masa Adven dengan tema “Keluarga Berjalan Menuju Pintu Keselamatan”.

Adven, Momen Persiapan dan Penantian Rohani

Frater Siorus menyampaikan dua hal, pertama terkait makna adven, kedua tentang latar belakang penyusunan bahan.

“Baik terimakasih banyak Pater untuk kesempatannya. Baik para pewarta yang terkasih sekalian, koyaoo…. Selamat berjumpa. Tadi Pater sudah memberikan sedikit gambaran umum kepada kita tentang tema-tema yang akan kita dalami selama empat pekan masa adven kedepan. Di sini saya hendak menyampaikan beberapa hal. Pertama: kita harus terlebih dahulu tahu apa itu adven? Kenapa Gereja menyediakan sebuah masa sebelum hari natal? Kira-kira apa arti dan makna adven dalam keyakinan iman kita?

Adven berasal dari bahasa Latin “adventus” yang artinya adalah “persiapan” atau “penantian”. Masa adven biasa disebut juga sebagai masa perisapan atau masa penantian. Persiapan untuk apa? Dan penantian untuk siapa? Selama masa adven ada dua jenis atau bentuk persiapan, pertama persiapan jasmani; misalnya busana natal, aksesoris natal, kandang natal, pohon natal, lampu natal, makanan-minuman,  dan lain-lain. Saking sibuknya mempersiapkan aspek jasmani ini kita kerapkali abai dengan persiapan rohani, padahal Yesus tidak mungkin lahir di tempat-tempat serba mewah dan megah, Ia lahir di pinggiran Kota Bethlehem di palungan kandang Domba yang hina. Percuma jika kita mengutamakan persiapan jasmani-material seraya mengesampingkan persiapan rohani-iman (spiritual), sebab Tuhan kita akan benar-benar kita alami, damai dan sukacita natal akan pergi meninggalkan kita.

Kedua; tema adven ini lahir di tahun yubileum, tahun pengharapan, dan tahun kerahiman Allah. Setiap 25-50 tahun sekali Pintu Utama Basilika Roma akan dibuka. Gereja-Gereja yang memiliki porta sancta pun akan membuka pintunya sebagai simbol pengharapan yang pasti. Uskup Timika memilih motto “Akulah Pintu” juga dalam kerangka semangat Gereja umiversal. Uskup Bernardus Bofitwos OSA terpilih dalam momentum Tahun Yubelium, tentu ia akan membawa Gereja Keuskupan Timika pada sebuah harapan kehidupan dan keselamatan yang terletak di dalam puntu suci Tuhan bernama Yesus Kristus.”

Manejemen Ekonomi Keluarga: “Satu Keluarga, Satu Dompet Bersama”

Suasana Pembekalan Bahan Pendalaman Adven di Pastoran Paroki Mauwa.

Sesudah Frater Siorus Degei, giliran berikutnya adalah Diakon Markus Auwee. Diakon Auwee menegaskan beberapa hal, pertama penegasan tentang tema, kedua kontrol orangtua atas anak, ketiga soal ekonomi keluarga, dan ketiga pentingnya pendidikan bagi anak.

Tema adven tahun ini menarik, sebab berbicara tentang bagaimana keluarga bersekutu dalam iman, harapan, dan kasih menuju Pintu Keselamatan Yesus Kristus. Kedua, keluarga mesti bersatu. Anak-anak harus sejak dini kita ajarkan untuk tidak keluar-masuk rumah orang lain, sayangilah rumahmu dan orangtuamu. Ketika kedua membiarkan anak keluyuran malam, atau memberinya ijin ke sanak keluarga yang lain itu pertanda kita sedang merenggangkan hubungan. Ketiga Diakon Markus menegaskan ihwal pentingnya manajemen keuangan keluarga. Jika ekonomi stabil, maka pembangunan kehidupan keluarga berjalan baik, sebaliknya jika ekonomi lemah maka akan berdampak pada ketidaknyaman dan ketidakamanan dalam keluarga. Keempat; Diakon Auwee menegaskan tentang pentingnya pendidikan bagi anak usia sekolah, anak-anak kita harus sekolah, cukup kita yang putus sekolah di tengah jalan, jangan lagi mereka bernasib sama dengan kita.” Ujap Diakon Markus mengakhiri paparannya.

Belajar dari Keluarga Kudus Nazareth

Ibuguru Agustina Yobee menjadi pemateri terakhir yang menyampaikan pandangannya tentang bahan pendalaman masa adven kali ini. Ia mengetengahkan beberapa hal. Pertama tentang komunikasi antara suami-istri, kedua kepedulian dan perhatian pada keluarga.

“Dalam keluarga komunikasi yang terbuka dan jujur antara suami-istri, misalnya ijin. Istri mesti meminta ijin kepada suami bila hendak berpergian dalam waktu yang lama, demikian pula dengan suami, mesti meminta kepada istri demi menghindari prasangka-prasangka yang tidak perlu. Kemudian anak-anak menjadi tanggung-jawab kedua orangtua, semakin mereka dibiarkan maka mereka akan semakin sulit kita bina. Untuk melakukan ini kita bisa belajar dari cara hidup keluarga kudus Nazareth, Maria, Yosep, dan Yesus.” Ungkapnya.

Kegiatan diakhiri dengan doa penutup dari Diakon Markus Auwee, dan kudapan bersama.

Penulis: Fr. Siorus Ewainaibi Degei

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button