Thomas Yawan atau yang akrab kami sapa Pa Thom Yawan atau Pa Thom. Beliau adalah orang besar kami umat Katolik asli Papua di Paroki Kristus Raja (KR) Nabire. Saya mengenal bapa Thomas Yawan dari banyak sisi, baik sebagai pengurus Paroki KR, Dosen USWIM, Wartawan Senior RRI Nabire, Donatur TOR, dan Orangtua Teman. Saya mau membagi sedikit pengalaman saya bersama pa Thom.
Pengurus Dewan Paroki KR
Sejak kecil Gereja menjadi tempat yang memiliki banyak makna untuk saya. Ia tidak saja menjadi tempat ibadah, bagi kami anak-anak sebaya Gereja menjadi adalah wahana belajar dan bermain. Setiap sore halaman Gereja selalu menjadi tempat bermain yang memanjakan.
Pastor Kepala Paroki kami yang pertama kala itu, Pastor Nato Gobay Pr tidak melarang kami. Salah satu nama besar dalam deretan pengurus Dewan Paroki kami waktu itu adalah Bapak Thomas Yawan. Ini adalah sebuah nama yang sangat ikonik dan melegenda untuk Gereja KR.
Sejak muda sebagai anak guru perintis asal Wembi-Keerom, Thom muda sudah menghabiskan waktunya di Gereja. Saya beberapa kali mengunjuginya di rumah kala liburan dari Seminari Jayapura. Di rumah beliau selalu membagi kisah-kisahnya kala bertumbuh di lingkungan Gereja, pengalaman masa kecilnya di Komopa-Paniai sebagai anak guru perintis, di Gereja KSK sebagai anggota mudika (kini OMK), dan di Asrama Tunas Harapan Jayapura.
Beliau adalah pribadi yang supel, enerjik, dan humoris. Sebagai sekretaris dewan Paroki KR yang lama beliau selalu menyelipkan humor-humor khasnya saat membacakan pengumuman dewan pastoral Paroki KR usai misa.
Saya selalu menikmati semua guyonan-lawakan yang ia berikan. Karena saya berasal dari sebuah Kombas yang homogen, Kombas St. Yohanes Pamandi, selepas perginya banyak orangtua kami yang hebat mulai dari Bapa Yan Tebai, Bapa Jack Takimai, Bapak Barto Wakei, Kaka Ibu Magda Pigome, Pastor Nato Gobai dan lainnya, Pa Thom Yawan sudah kami anggap sebagai “bapak bagi umat Katolik asli Papua di Paroki KR”.
Beliau adalah petinggi paroki yang sangat dekat dengan kami. Selalu menyapa kami dengan bahasa Mee berdialek Paniai, kebetulan karena beliau adalah anak seorang guru perintis yang bertugas lama di daerah Paniai yang dulunya dikenal dengan nama Wissel Meren. Ayahnya bernama Vitalis Yawan yang bersal dari Suku Manem, tepatnya di Wembi-Keerom.
Saya sempat mendapatkan kesempatan dari Kampus STFT Fajar Timur untuk menjalani masa Praktek Kegerejaan selama sebulan lebih di Kampung Wembi, sehingga ada banyak informasi yang saya dapatkan tentang tete Vitalis Yawan. Ia adalah generasi pertama anak-anak asli Manem yang dikirim ke Biak untuk melanjutkan pendidikan guru di sana, usai menamatkan pendidikan gurunya ia langsung ditugaskan di wilayah Paniai.
Ia sempat kembali ke kampung halamannya (Wembi Kampung Lama) mengambil seorang gadis dari marga Bogor, sebuah marga asli Wembi yang mirip juga dengan sebuah nama bukit di sana. Sejak penugasan pertama hingga masa pesiun tete Vitalis Yawan tidak pernah pulang kampung, ia menghabiskan masa hidup bersama keluargnya di tempat tugas. Anak-anaknya lahir, tumbuh, dan menjadi besar di wilayah Meeuwdide. Dengan latar belakang seperti ini membuat Pa Thom Yawan memiliki perangai hidup yang mirip sekali orang Mee pada umumnya.
Ia selalu menyapa kami umat Kombas Yohanes Pemandi d Paroki KR dengan bahasa Mee dan ada satu hal yang selalu ia sampaikan bahwa “Saya juga Yawan dari Paniai”. Beliau adalah tiang kami umat asli Papua di Paroki KR, saya bisa turut merasakan rasa kehilangan yang besar dari dalam hati umat Kombas saya atas berita berpulangnya Pa Thom ini.
Dosen USWIM
Saya belum pernah mengalami langsung pengalaman didik oleh Pa Thom sebagai dosen. Namun saya bisa merasakan bagaimana sosoknya hadir di dalam ruang-ruang kuliah. Saya tidak tahu sudah berapa banyak anak-anak tidak mampu dari daerah Meeuwodide yang ia bantu.
Ia punya kharisma tersendiri yang tidak bisa ditemukan dalam diri banyak dosen. Ia selalu mengajar mahasiswanya bukan sebagai dosen atau pengajar yang kakuh dan monoton, ruang-ruang kelasnya selalu cair, penuh dengan canda-tawa, mop-mop, dan wejangan-wejangan penghulu.
Ia tahu menempatkan diri sebagai dosen, bapa, kakak, dan sabahat. Ia mampu membaca konteks mahasiswanya entah itu konteks ekonominya, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya sehingga kehadirannya selalu membawa berkat perubahan tersendiri yang signifikan positif terhadap anak-anak didiknya.
Tidak jarang rumahnya selalu dipadati oleh mahasiswa-mahasiswinya yang memerlukan bantuan. Mereka datang untuk belajar dan ketika mengalami kesulitan. Pa Thom memainkan banyak peran ganda dalam sebuah proses pendidikan yang ia emban.
Ia punya trik-trik yang mujarab untuk mendidik mahasiswanya. Saya sempat duduk lama dengan beliau ketika masih menjalani masa tahun orientasi rohani (TOR) di Jayanti Nabire. Kala itu Pa Thom banyak bicara tentang pemikirannya yang berpusat pada pilar adat, agama, dan negara. Ia selalu memadukan tiga matra ini dalam semua dinamika perkulihannya.
Baginya konteks adat atau budaya dari seseorang itu menjadi unsur pengerak utama seseorang berinteraksi dengan dunia, apalagi konteks masyarakat kita yang masih punya ikatan intim dengan kebudayaan. Berikutnya ialah agama. Agama menjadi unsur yang juga punya peran penting dalam diri manusia Papua. Sehingga unsur-unsur ini tidak boleh kita lewatkan.
Terakhir negara, ini artinya prinsip-prinsip modren yang datang dari luar berkat usaha belajar dan mencari pengetahuan. Ketika mau membentuk seseorang guru atau dosen sekurang-kurangnya dituntut untuk memahami tiga hal ini dalam kepribadian siswa atau mahasiswa. Dan apa yang Pa Thom kaatakan ini sudah ia hidupkan selama mengabdi sebagai dosen di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire.
Ia kadang menyelipkan nasehat-nasehat lokal dalam bahasa daerah untuk mendidik para mahasiswa yang berasal dari Suku Mee. Ia membantu mahasiswa yang mengalami kendala ekomoni dalam pembayaran SPP, KKN, dan lainnya. Banyak amal baik yang ia berikan kepada mahasiswanya yang membutuhkan. Saya bisa merasakan betapa besar gejolak rasa kehilangan dari anak-anak kurang mampu yang pernah ia bantu dan kini mampu meraih sukses di mana-mana. Ia adalah guru terbaik dalam definisi yang sesungguhnya.
Wartawan Senior RRI Nabire (Pro 3)
Pa Thom juga adalah seorang wartawan senior di stasiun RRI Nabire. Ia biasa mengisi siaran Pro-3 Nabire. Ini saluran berita khusus wilayah pendalaman suku Mee. Ia menyampaikan berita dengam bahasa masyarakat setempat sehingga informasi yang ia sampaikan benar-benar dipahami oleh orang-orang lokal yang tinggal di daerah terpencil dan yang notabene mengalami kesulitan dalam mengakses bahasa Indonesia.
Saluran Pro-3 ini sangat membantu masyarakat kecil untuk mengikuti informasi yang berkembang baik secara nasional maupun lokal. Tata bahasa Pa Thom berisi kalimat efektif. Ini typikal bahasa kaum jurnalis atau wartawan. Beliau selalu menjaga setiap tutur katanya secada cermat dan hati-hati ketika membahas topik dan isu apa saja, ia tidak serta-merta mengeluarkan kata-kata kemudian secara tergesa-gesa meralatnya.
Saya bisa merasakan bagaimana ketika banyak kali berkomunikasi secara empat mata Pa Thom adalah sosok komunikator yang handal. Kalimatnya tidak muluk-muluk dan bertele-tele selalu objektif, efektif, trenginas, dan to the point.
Wawasannya tentang sejarah, politik, dan budaya begitu luas dan inilai credit point seorang wartawan, mereka memang dituntut untuk memiliki daya horison yang luas guna menampung segala macam bentuk informasi. Suaranya pelan sekalipun badannya tinggi kekar mirip para purnawirawan di tambah cukuran rambutnya yang sangat khas ABRI.
Konon ceritanya Pa Thom memiliki dua cita-cita, yaitu ABRI atau Pastor/imam Katolik. Namun sayang kedua cita-citanya ini ditolak mentah-mentah oleh bapa asramanya saat itu, Bruder Lukas Karl Degei OFM. Menurut Bruder Lukas yang kemudian akan hijrah ke dunia perpolitikan nasional itu Pa Thom tidak cocok menjadi tentara/polisi atau pastor/imam cukup jadi guru atau wartawan, dan akhirnya memang benar bahwa Pa Thom akan mengabdi sebagai dosen USWIM dan wartawan RRI Nabire.
Donatur Seminari TOR yang Gigih
Pastor Yan Douw Pr (mantan rektor TOR) menggelari Pa Thom dengan gelar “Bapa TOR”, sementara “Mama TOR” disandang oleh Mama Sisilia Gobai-Zonggenau (mereka yang pernah hidup di Seminari Interdiosesan TOR Jayanti pasti tidak asing dengan dua nama ini). Bukan tanpa alasan gelar “Bapa TOR” ini Pastor Yan Douw berikan. Pa Thom adalah salah satu tokoh awam Katolik Keuskupan Timika di Nabire yang selalu punya perhatian besar untuk TOR.
Ia punya pengalaman hidup berasrama, ia juga adalah tokoh umat awam yang paham bahwa TOR adalah dapur imam untuk lima Keuskupan di Tanah Papua. Sebagai tokoh umat Katolik di Nabire Pa Thom selalu menempatkan diri sebagai “Bapa bagi para frater lima Keuskipan”. Ia selalu hadir sebagai bapa untuk selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga TOR yang bisa ia berikan.
Ia selalu mengundang para penghuni seminari TOR untuk berkunjung ke kediamannya, menjamu mereka dengan berkat yang ada padanya. Ketika ada frater atau formator yang sakit atau mengalami kesusahan administra juga problem-problem hidup lainnya Pa Thom beserta istrinya yang sama baik hatinya itu selalu hadir sebagai Mama-Bapa bagi semua penghuni TOR. Sehingga para frater dan formator di TOR selalu mengalami dan merasakam kasih sayang dan cinta dari orangtua yang berusaha Pa Thom hadirkan.
Orangtua Teman
Pa Thom dikaruniai tiga orang anak laki-laki: Jovi (alm), Fr Papua, dan Pascal. Putranya yang kedua adalah seorang frater calon imam Keuskupan Timika, Fr Papua Yawan, kini sedang menjalani masa tahun orientasi pastoral (TOP) di Paroki Salib Suci Madi, Paniai.
Bagi saya dan teman-teman frater lainnya atau dulu waktu di seminari menengah Waena juga seminari TOR, sosok Pa Thom adalah bapa kami semua. Sebab ia memperlakukan kami sama dan adil sebagai anak-anaknya, ia selalu bilang “bukan Pua saja Bapa pu anak, kami semua kan bapa pu anak-anak juga to”. Saya sendiri mengalaminya langsung, tidak ada gab atau jarak, ada cemestry yang terjalin dan terbangun kokoh antara Pa Thom dan lingkaran para frater tapi juga para imam Keuskupan Timika yang pernah mengenalnya dari dekat. Ia adalah bapa kami semua yang terbaik. Ia lebih dari bapa seorang teman, ia adalah juga bapa saya, dan bapa dari semua frater yang pernah lahir dari rahim seminari TOR Jayanti.
Hari ini, 01 Januari 2026, ketika umat Katolik sejagat merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah dan mengawali hari pertamu tahun 2026 bapa segala orang baik ini telah mendahului kami semua pergi menghadap Allah. Ia pergi begitu cepat, pergi sebelum wajahnya memancarkan sinar kebahagiaan atas semua upaya yang ia taburkan di TOR dan kepada kami.
Ia pergi sebelum menyaksikan anak-anak yang ia besarkan di TOR ditahbis sebagai imam Katolik, ia pergi sebelum menghadiri perayaan tahbisan anak-anaknya. Sungguh sangat mengejutkan peristiwa ini. Namun sebagai orang-orang yang mengimani Yesus Kristus tersalib yang bangkit. Bapa Thom bersama para kudus pastilah berbahagia. Tempat terbaik para orang baik seperti Pa Thom ini adalah firdaus suci. Dari surga ia pasti akan lebih rajin sebagai “bapa yang baik” bagi keluarga, anak-anak, dan cucu-cucu yang ia tinggalkan.
Ia juga suatu saat bersama para kudus pasti akan hadir memeriahkan acara tahbisan dari anak-anak frater yang ia tinggalkan. Dan satu lagi, ia pasti sudah bertemu Kaka Jovi Yawan di alam ilahi sana. Selamat beristirahat dalam Damai bapaku, kita pasti tidak akan duduk cerita-cerita bersama lagi di ruang tamu rumah Jalan Pemuda. Berjumpa dan mengenalmu dari dekat sebagai bapa yang penuh cinta adalah sebuah anugerah Tuhan. Koyaooo Aitaoo…..
Penulis : Fr. Siorus Ewainaibi Degei (Frater TOPER di Paroki St. Petrus Mauwa)




