Majalah Gaiya

IN MEMORIAM MAMA MARGARETHA POKUAI

Kombas St. Yohanes Pemandi Nabire Berduka

Jumat, 09 Oktober 2026, Sekitar Pukul 12.00 WP, Keluarga Besar Kombas Santo Yohanes Pemandi, Paroki Kristus Raja, KPR Siriwini, Nabire kembali kehilangan salah satu tiang penopangnya selama ini, Mama Margareta Pokuai. Sebelumnya, kami juga sempat kehilangan Mama Agustina Ukago (10 September 2025), seorang mama kharismatik, kini kami mesti merelakan kepergiaan Mama Pokuai kembali ke haribaan Sang Khalik, berjumpa dengan Allah Trinitas, Perawan Maria, Santa Margareta, Santo Yohanes Pemandi, pasangannya, keluarganya, dan semua umat Kombas yang mendahului.

Nama lengkapnya Margaretha Pokuai, biasa kami sapa dengan panggilan Mama Pokuai, Mama Pokuaibo, Pokuai Adama atau Amai (sapaan mama dalam bahasa Mee dialek Mapia). Mama Pokuai, adalah perempuan mee sejati asal Sukikai Selatan, sebuah Distrik paling luar dan terisolir dari Kabupaten Dogiyai. Ia hijrah ke Nabire bersama anak-anaknya, dan akhirnya menetap di Kompleks Perumahan Rakyat (KPR), Kelurahan Siriwini, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Ia, adalah seorang janda selepas pasangannya, seorang guru perintis, Paguru Butu yang dipanggil lebih dulu oleh Tuhan sang pemilik kehidupan.

Mama Pokuai dan Compassion-nya

Mama Pokuaibo, seperti halnya dengan mama-mama kami yang lain di Kombas dan Kompleks merupakan sosok yang ugahari, berhasaja, pekerja keras, dan pendoa ulung. Mereka adalah perempuan-perempuan par excellence dalam hemat pribadi saya, mereka tidak membawa gelar sarjana, skill mumpuni, mereka hanya gadis-gadis belia sederhana dari dusun terpencil di sudut belahan pedalaman dan pegunungan negeri Mee yang turun gunung bertarung hidup secara single fighter di pesisir kota metropolit.

Latar belakang mama-mama Kombas Yohanes Pemandi mayoritsanya hampir sama. Mereka bermigran ke Nabire sejak tahun 70-an, 80-an, 90-an hingga 2000-an. Sebagai kelompok awal-awal yang bermigrasi ke Nabire, tepatnya di Karang Barat, KPR Siriwini, dan sekitarnya, Mama Pokuai mendapatkan sebidang tanah/lahan di sekitar gunung Transat dan gunung KPR Siriwini sebagai tempatnya menyambung hidup, memastikan dapurnya mengepulkan asap harapan, dan menjamin masa depan anak-anaknya terang. Ia mencurahkan usia, tenaga, dan waktu hidupnya untuk tampil sebagai “mama” sekaligus “bapa” bagi buah hatinya.

Sekalipun dengan berbekal tangan kosong yang kian keriput termakan usia, kaki kosong tanpa alas, noken, parang, dan alat kerja kebun ala kadanya mama Pokuai berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga mencapai gelar sarjana. Ia pun telah menyaksikan kebahagiaan anak-anak dan cucunya, tentu ini menurut saya merupakan sebuah “hasil panen” dalam arti sesungguhnya dalam diri seorang “petani sejati” dari “kebun kehidupan” yang selam ini ia rawat dengan asah, jaga dengan cinta, bimbing dengan harapan, dan perjuangkan dengan iman.

Mama Pokuai dan Warisan Iman

Selain latar belakang sosial-ekonomi yang sama, mama-mama juga satu dan sama dari aspek spiritualitas (kerohanian). Mama-mama ini umat beragama Katolik yang tulen, taat, dan puritan. Di tengah kerasnya perjuangan mereka bertahan hidup di kota yang acap lupa kata peduli, di tengah derasnya keringat, air mata, dan darah, mereka selalu menomor-satukan Tuhan, Gereja, beserta ruang lingkupnya. Tuhan adalah sumber, pusat, dan inti kehidupan mereka.

Tuhan menjadi sumber, sebab dari-Nya sekalipun “imun daging-tulang” manusiawi mereka lelah, lemah, sakit, dan ringkih menua, selalu semacam ada “roh dari dalam” yang membuat dan menguatkan mereka untuk terus eksis dan survive.

Tuhan menjadi pusat, sebab apa yang mereka hidupkan dan perjuangkan semua hanya demi memuji dan memuliakan nama Tuhan. Terakhir, Tuhan menjadi inti sebab ia adalah sumber dan pusat, bahkan akhir dari ziarah hidup, yang mereka cari bukanlah materi, uang, jabatan duaniawi yang semu, melainkan “ahiitai naha” (jalan keselamatan kekal), baik di dunia maupun di akhirat.

Teladan iman yang mama Pokuai dan mama-mama lainnya  ajarkan  dalam hening lewat kesaksian hidup sehari-hari ini adalah warisan nilai  yang teramat maha bagi kami, anak-anak di Kombas dan Kompleks KPR Siriwini. Setiap kali ada tamu besar dalam otoritas hirarki Gereja yang berkunjung ke Nabire, Paroki Kristus Raja, atau Kombas Yohanes Pemandi, mama Pokuai dan beberapa mama lainnya akan merias diri dengan busana adat perempuan mee proto (moge). Mereka juga akan mementaskan tarian cawat (moge gaida) versi mapia dan tarian susu (amai duwai).

Selain untuk menyambut tamu besar Gereja, tarian cawat dan tarian susu juga selalu mereka sajikan sebagai ungkapan doa dan persembahan kepada Tuhan dengan mengiring para pembawa persembahan dalam perayaan misa suci. Saya biasa terharu, kagum, dan meneteskan air, tatkala melihat mama-mama saya dengan segala macam kesederhanaan yang terbalut luhur dalam budaya tampil menawan memuji dan memuliakan Tuhan dalam perayaan misa suci.

Mama Pokuai dan Ketahanan Kombas St. Yohanes Pemandi

Sekali bahwa, selepas ditinggal pergi oleh pasangannya, Paguru Butu, mama Pokuai harus survive seorang diri menakodahi biduk kecilnya untuk membesarkan 5 orang anak dan cucunya. Ia bukanlah sarjana yang telaten, atau orang dengan latar belakang mentereng yang memungkinkan dirinya mendapatkan pekerjaan di sistem birokrasi. Mama Pokuai hanya seorang gadis desa, perempuan sederhana dan bersahaja dari Selatan Mapia, yang sejak kecil sudah didik oleh kedua orang tua dan alamnya untuk bersahabat dengan alam sebagai pagar hidup.

Dengan hasil keringat, air mata, dan darahnya di kebun, hasil olah tanah, yang ia jual di pasar sore lahirlah kesuksesan dalam jenjang hidup anak-anak dan cucu-cucunya.

Sebagai seorang anak yang sering hadir dalam kegiatan Kombas, saya selalu merasakan suatu kehilangan yang luar biasa setiap kali mendapatkan berita berpulangnya orangtua saya di Kombas, seperti Mama Pokuai ini. Semacam ada satu hal berharga tak kasat mata yang perlahan memudar, pergi, dan menghilang ke keabadian yang akan pernah kembali.

Berita kepergiaan beberapa orangtua saya yang tekun dan kokoh menjaga api kehidupan iman di Kombas dan masyarakat (KPR Siriwini) selalu menjadi goresan batin tersendiri untuk saya. Jauh dahulu, kami sudah kehilangan banyak bapa-bapa hebat  yang dengan kehadirannya memberikan semangat dan jiwa pada pertumbuhan, perkembangan, serta kemajuan Kombas.  Bapa-bapa ini pergi satu per satu, meninggalkan mama-mama dan anak-anaknya.

Kendatipun demikian, Kombas kami tidak mati bersama para perintisnya yang pergi ke negeri seberang, pasang surut selalu ada sebagai warna siklus kehidupan. Kombas kami tetap eksis berkat mama-mama hebat yang selalu menjaga Kombas St. Yohanes Pemandi sebagai “rumah iman”.

Kombas St. Yohanes Pemandi, bukan sekedar nama sebuah komunitas basis pada data administrasi Paroki Kristus Raja Nabire, Dekenat Teluk Cenderawasih, Keuskupan Timika. Nama Kombas St. Yohanes Pemandi bagi kami adalah nama sebuah keluarga besar, nama sebuah rumah besar yang di dalamnya berhimpun banyak keluarga di linkungan Kompleks Perumahan Rakyat (KPR) Siriwini, Nabire.

Akhirul Kata

Kombas St. Yohanes Pemandi bagi anak-anak KPR yang beragama Katolik telah menjadi “biduk ilahi” yang menuntun ziarah hidup iman. Di sana tempat mereka  dididik, dibina, dan dibesarkan. Di sana para orang tua mendekatkan dan memperkenalkan anak-anaknya pada Tuhan dan semua nilai manis-Nya. Ia menjadi jembatan keselamatan yang mengantar anak-anak dari satu titik fase kehidupan ke fase kehidupan yang lebih bermakna. Dan dalam konteks ini, peran dari mama-mama di Kombas sangat urgen, strategis, dan signifikan. Tanpa peran, cinta, dan perhatian kasih mama-mama, seperti Mama Pokuai ini, makna dan spirit Kombas sebagai “rumah”, “sekolah”, dan “gereja” perdana bagi generasi penerus tidaklah mungkin bersemai subur. Akhir kata, terimakasih banyak untuk kesaksian hidupnya amai Pokuaibo,  selamat jalan ke Rumah Allah Trinitas, doakanlah kami umat Kombas St. Yohanes Pemandi  dari sana bersama para kudus. Beristirahatlah dalam damai dan cinta.*****

Penulis :   Fr. Siorus Ewainaibi Degei (Frater TOR Jayanti, Nabire)

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button