SIDANG AKADEMIK II KONFRATER KEUSKUPAN TIMIKA TENTANG MAKNA TEOLOGIS “AIR HIDUP” DALAM INJIL YOHANES
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Jayapura, 21 Februari 2026, Sidang Akademik Wisma Tiga Raja kembali digelar di Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru, Sabtu (21/2/2026). Dalam sidang yang dimulai pukul 08.00 WIT tersebut, Fr. Marcelino P. Suni mempresentasikan karya tulis akhirnya yang mengangkat tema makna teologis “Air Hidup” dalam Injil Yohanes 4:1–42 melalui pendekatan naratif dan eksegetis.
Sidang dibuka dengan doa yang dipimpin Fr. Yohanes Petege atas arahan pimpinan sidang, Fr. Yosep Riki Yatipai. Setelah pembacaan notulen sidang sebelumnya oleh Fr. Aldo Mote, agenda utama dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Fr. Marcel yang dimoderatori Pastor Yosep Ikikitaro.
Dalam presentasinya, Fr. Marcel menjelaskan bahwa pemilihan tema “Air Hidup” dilandasi oleh makna simbolis air dalam Kitab Suci. Ia menuturkan bahwa air tidak hanya memiliki makna fisik sebagai sumber kehidupan, tetapi juga makna rohani yang mendalam. Dalam Perjanjian Lama, air menjadi tanda penghukuman sekaligus perjanjian Allah, serta lambang berkat rohani. Sementara dalam Injil Yohanes, air hidup menunjuk pada keselamatan kekal yang dianugerahkan oleh Yesus Kristus.
Berangkat dari perikop Yohanes 4:1–42 tentang percakapan Yesus dengan perempuan Samaria, Fr. Marcel menekankan bahwa perjumpaan tersebut bukan sekadar dialog biasa, melainkan pewartaan keselamatan yang menembus batas etnis dan religius antara Yahudi dan Samaria. Menurutnya, keputusan Yesus melewati Samaria memiliki makna teologis yang kuat, yakni membuka jalan keselamatan bagi semua bangsa.
“Air hidup yang ditawarkan Yesus bukanlah air fisik, melainkan kehidupan rohani yang mengalir menuju kehidupan kekal,” jelas Fr. Marcel. Ia juga mengaitkan simbol air hidup dengan sakramen baptis sebagai tanda kehidupan baru dalam Allah, serta menegaskan bahwa Yesus adalah sumber keselamatan bagi seluruh umat manusia.
Dalam sesi tanggapan, sejumlah frater mengajukan pertanyaan kritis. Fr. Ando menyoroti kaitan teks tersebut dengan sakramen inisiasi dan konsep Yesus sebagai bait suci yang baru. Menanggapi hal itu, Fr. Marcel menjelaskan tiga sakramen inisiasi yaitu, baptis, krisma, dan ekaristi serta menegaskan bahwa dalam dialog dengan perempuan Samaria, Yesus menunjukkan bahwa pusat penyembahan tidak lagi terikat pada tempat, melainkan pada diri-Nya sendiri.
Fr. Frans menekankan pentingnya dialog dalam pembinaan calon imam, khususnya dalam konteks pelayanan di Papua. Fr. Marcel menegaskan bahwa dialog menjadi sarana membangun kepercayaan dan menjembatani perbedaan, sebagaimana dicontohkan Yesus dalam perjumpaan-Nya dengan perempuan Samaria.
Sementara itu, Fr. Juan mempertanyakan apakah Yesus adalah pemberi air hidup atau air hidup itu sendiri. Dijelaskan bahwa Yesus adalah sumber yang memberikan air hidup, yang dalam Injil Yohanes juga dipahami sebagai Roh Kudus yang menghidupkan.
Dari peserta sidang, pertanyaan juga mengemuka terkait relevansi air hidup bagi Gereja di Papua serta isu keselamatan di luar Gereja. Fr. Marcel menegaskan bahwa Gereja memiliki peran penting dalam membagikan air hidup melalui pewartaan dan pelayanan. Ia juga menambahkan bahwa keselamatan tetap terbuka bagi semua orang, namun Gereja menjadi sarana persekutuan yang penuh dalam iman.
Sesi materi dan diskusi berakhir pada pukul 09.35 WIT dan dilanjutkan dengan evaluasi dari moderator. Pastor Yosep menekankan pentingnya manajemen waktu dalam sidang akademik serta keseimbangan antara rumusan masalah dan pembahasan isi. Secara umum, dinamika sidang dinilai berjalan baik dan lancar.
Sebagai penutup, pimpinan sidang Fr. Yosep Riki Yatipai menegaskan kembali makna simbolis air sebagai kebutuhan mendasar manusia yang menggambarkan pentingnya kehidupan rohani. Sidang resmi ditutup pada pukul 09.48 WIT dengan doa dan berkat penutup.
Sidang akademik Wisma Tiga Raja ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi seluruh peserta, sekaligus memperdalam refleksi teologis mengenai Kristus sebagai sumber “Air Hidup” bagi dunia. *** FR. YOSEP RIKI YATIPAI








