MEMBEBASKAN PELAJAR: MENGGUGAT PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF IVAN ILLICH
Oleh: Fr. Aris Yeimo
Ivan Illich merupakan pemikir multidisipliner yang memiliki latar belakang sebagai filsuf, sejarawan, budayawan, dan teolog Katolik. Pemikirannya banyak menyoroti perubahan kehidupan sosial yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi modern. Bagi Illich, kemajuan teknologi tidak selalu menghasilkan kehidupan yang lebih manusiawi, sebab dalam kondisi tertentu justru dapat mengurangi ruang kebebasan, otonomi, serta penghargaan terhadap martabat manusia. Atas dasar pemikiran tersebut, Illich dipandang sebagai salah satu tokoh humanisme kritis yang memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan dalam bidang teknologi dan industri, pendidikan, serta kesehatan. Gagasan-gagasannya kemudian mendapat perhatian luas dari kalangan intelektual kontemporer yang memiliki kepedulian terhadap dampak modernisasi dan perkembangan teknologi terhadap kehidupan manusia.
Mengenal Illich
Ivan Illich lahir pada 4 September 1926 di Wina, Austria. Pendidikan formalnya ditempuh secara berpindah-pindah hingga ia mempelajari histologi dan kristalografi di Universitas Florence. Ia sempat melanjutkan studi doktoral di Universitas Salzburg, tetapi tidak menyelesaikannya.
Selanjutnya, Illich mendalami filsafat dan teologi di Universitas Gregoriana hingga kemudian ditahbiskan sebagai imam Katolik. Pengalaman keagamaannya turut membentuk perjalanan intelektualnya, sekaligus mendorongnya untuk bersikap kritis terhadap otoritas, institusi, dan struktur kekuasaan keagamaan. Selama di Universitas Gregoriana, ia merupakan salah satu dari kelompok mahasiswa yang mengecam intervensi Paus dalam politik praktis di Italia (Cayley, 2021:34)
Dalam perjalanan hidupnya, Illich kemudian berpindah ke Amerika Serikat dan terlibat dalam kehidupan pastoral. Setelah itu, ia banyak menghabiskan waktunya di Puerto Rico dan Meksiko. Pengalamannya di Amerika Latin menjadi sangat penting bagi perkembangan pemikirannya.
Di Amerika Latin, Illich menyaksikan secara langsung persoalan kemiskinan, pendidikan, pembangunan, dan ketimpangan sosial. Pengalaman tersebut mendorongnya meninggalkan imamat, menyuarakan ketidakadilan, serta mengkritik model pembangunan modern yang dianggap identik dengan kemajuan (Ibid., 77).
Pada 1960-an, ia mendirikan Centro Intercultural de Documentación (CIDOC) di Cuernavaca, Meksiko, sebagai ruang diskusi mengenai pendidikan, kebudayaan, pembangunan, dan masyarakat yang turut memperkuat perkembangan pemikiran kritisnya.
Salah satu pemikiran Ivan Illich yang paling dikenal adalah kritiknya terhadap sistem pendidikan formal melalui bukunya Deschooling Society (1971). Ia mempertanyakan anggapan bahwa sekolah merupakan satu-satunya sarana memperoleh pengetahuan. Menurut Illich, proses belajar berlangsung lebih luas melalui keluarga, lingkungan, pengalaman, pekerjaan, komunitas, membaca, dan interaksi sosial.
Kritik tersebut bukanlah penolakan terhadap pendidikan, melainkan penegasan bahwa pembelajaran tidak harus bergantung pada institusi formal. Illich juga mengkritik kecenderungan masyarakat menilai kemampuan seseorang berdasarkan ijazah, bukan pengalaman, keterampilan, kreativitas, dan kemampuan nyata.
Beberapa karya terkenalnya antara lain Deschooling Society (1971), Tools for Conviviality (1973), Energy and Equity (1974), Medical Nemesis: The Expropriation of Health (1975), The Right to Useful Unemployment and Its Professional Enemies (1978), Gender (1982) dan In the Vineyard of the Text: A Commentary to Hugh’s Didascalicon (1993). Berikut beberapa inti pemikiran Illich tentang pendidikan yang penulis sajikan sebagai bahan refleksi bagi kita.
Filsafat Teknologi
Secara umum, teknologi dipahami sebagai sarana yang digunakan manusia untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien serta mempermudah berbagai aktivitas. Namun, perkembangan teknologi yang pesat menimbulkan pertanyaan kritis mengenai dampaknya terhadap kehidupan manusia, seperti apakah teknologi lebih banyak memberikan manfaat atau justru menimbulkan kerugian serta bagaimana posisi manusia di tengah kemajuan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menjadi perhatian berbagai pemikir dalam mengkaji hubungan antara manusia dan teknologi.
Dari pertanyaan tadi filsafat teknologi mendapat tempatnya. Filsafat teknologi hadir sebagai respons terhadap persoalan etis yang muncul seiring pesatnya perkembangan dan penyalahgunaan teknologi (Dusek, 2006: 2).
Selain membahas aspek etika, filsafat teknologi secara kritis mengkaji hubungan teknologi dengan kehidupan manusia, termasuk pengaruhnya terhadap tindakan, struktur sosial, dan cara manusia memahami dunia (Blok, 2022). Dengan demikian, filsafat teknologi tidak hanya menilai teknologi dari segi baik atau buruk, tetapi juga mengkaji dampaknya terhadap kehidupan manusia dan masyarakat.
Menurut Illich, teknologi tidak terlepas dari sistem sosial dan institusi yang dapat memengaruhi kebebasan manusia. Perkembangan teknologi yang semakin dominan berpotensi mengurangi kemandirian dan mendorong ketergantungan terhadap sistem.
Akibatnya, teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang mendukung kebebasan, tetapi dapat membatasi kreativitas, otonomi, dan partisipasi manusia. Oleh karena itu, pemahaman mengenai filsafat teknologi penting sebagai landasan untuk memahami pemikiran Illich tentang konvivialitas.
Dalam kajian teknologi, terdapat pandangan instrumentalisme yang menganggap teknologi sebagai alat yang bersifat netral, sedangkan dampak positif atau negatifnya bergantung pada cara manusia menggunakannya. Teknologi diposisikan sebagai instrumen pasif yang berada di bawah kendali manusia.
Namun, pandangan ini mulai dipersoalkan karena penggunaan teknologi dapat menimbulkan persoalan etis dan sosial, termasuk ketergantungan sistemik yang berpotensi mengurangi otonomi manusia (Hartanto, 2014). Oleh karena itu, diperlukan batasan agar teknologi tetap berada dalam kendali manusia.
Konvivilitas
Illich memandang teknologi bukan sekadar alat fisik, melainkan bagian dari sistem yang membentuk relasi kehidupan manusia. Pandangan ini melahirkan konsep konvivialitas, yang diperkenalkan dalam Tools for Conviviality sebagai kondisi masyarakat yang menggunakan alat secara bertanggung jawab dan terbatas (Illich, 1973: xxiv). Bagi Illich, konvivialitas menunjuk pada cara hidup bersama yang memungkinkan manusia menggunakan teknologi secara disiplin, mandiri, dan tetap dalam suasana yang menyenangkan.
Secara etimologis, konvivial berasal dari bahasa Latin con dan vivo, yang berarti hidup bersama. Bagi Illich, hidup bersama menuntut pembatasan diri demi membangun persahabatan dan interaksi yang bermakna. Meskipun istilah convivial dalam bahasa Inggris modern cenderung bermakna kesenangan berlebihan, Illich mengembalikannya pada makna tradisional yang dekat dengan konsep Yunani eutrapelia, yaitu keseimbangan dalam menikmati kehidupan tanpa berlebihan (Ameson, 2018). Dengan demikian, konvivialitas menekankan interaksi manusia yang kreatif, seimbang, dan tidak didominasi oleh alat atau sistem.
Dengan mengaitkan konvivialitas dengan eutrapelia, Illich menegaskan perlunya membatasi teknologi dan sistem sosial agar tetap mendukung interaksi manusiawi. Jika eutrapelia merupakan kebajikan individu dalam menjaga keseimbangan kegembiraan, konvivialitas menciptakan kondisi sosial yang memungkinkan kebajikan tersebut berkembang. Karena itu, kemajuan teknologi perlu dibatasi agar tidak mendorong konsumsi berlebihan dan produktivitas yang menghilangkan dimensi manusiawi dalam kehidupan bersama.
Konvivialitas dipandang sebagai logika yang mencakup berbagai bidang kehidupan, seperti kesehatan, transportasi, pendidikan, politik, dan sosial. Illich menggunakannya sebagai kritik terhadap produktivitas industri yang meningkatkan peran mesin, tetapi berpotensi mengurangi otonomi manusia menjadi sekadar konsumen.
Sebaliknya, konvivialitas menekankan hubungan yang otonom, kreatif, dan saling bergantung antara manusia serta lingkungannya (Illich, 1973: 11). Karena itu, Illich mendorong agar teknologi dan institusi dikendalikan secara demokratis untuk menjamin manfaat dan akses yang lebih adil bagi masyarakat, bukan semata-mata ditentukan oleh para ahli (Ibid., 12).
Illich menempatkan konvivialitas sebagai pedoman bagi masyarakat untuk mempertahankan kebebasan, bukan sebagai seperangkat aturan yang diterapkan secara mekanis. Konvivialitas merujuk pada kondisi ketika teknologi digunakan secara proporsional sehingga tetap melayani manusia, memungkinkan interaksi kreatif, dan mencegah dominasi alat atau sistem.
Dengan demikian, manusia tetap menjadi subjek yang mengendalikan teknologi serta mampu berpartisipasi secara kreatif dalam kehidupan sosial melalui hubungan yang saling bergantung.
Realitas Pendidikan Saat Ini
Pendidikan di era digital memberikan akses pengetahuan yang luas bagi pembelajar. Menurut Illich, teknologi memiliki fungsi ganda: dapat memperkuat kontrol melalui sistem sekolah, tetapi juga mendukung interaksi kreatif dan otonomi individu (Illich, 1971: 2). Karena itu, ia memandang teknologi, termasuk komputer, dapat dimanfaatkan untuk menunjang pembelajaran kolaboratif dan interaksi antarpembelajar.
Teknologi komputer pada masa Illich dipahami sebagai perangkat untuk menyimpan, mengolah, dan mengakses informasi, bukan internet seperti sekarang. Komputer dapat menghubungkan pembelajar berdasarkan kesamaan minat serta memfasilitasi diskusi secara mandiri (Illich, 1971: 19). Selain komputer, Illich juga melihat alat perekam sebagai sarana pembelajaran yang memungkinkan pengetahuan, keterampilan, dan gagasan direkam serta dibagikan secara luas tanpa bergantung pada pengajar atau ahli (Ibid., 92).
Di sisi lain, perkembangan teknologi saat ini tidak terlepas dari logika industrialisasi sehingga memunculkan pertanyaan tentang apakah teknologi membebaskan atau justru mengurangi kemampuan berpikir manusia.
Hayles berpendapat bahwa manusia modern telah menjadi bagian dari material informasional, yakni kondisi ketika kesadaran dan tubuh tidak dapat dipisahkan dari media teknologi. Dengan demikian, batas antara tubuh dan simulasi komputer, organisme biologis dan sistem sibernetik, serta tujuan manusia dan mesin menjadi semakin kabur (Hayles, 1999: 3).
Penggunaan Google dan kecerdasan buatan (AI) menunjukkan bagaimana teknologi membuat manusia semakin bergantung pada perangkat dan memori digital. Informasi yang dahulu dicari melalui buku atau ingatan kini dapat diperoleh dan disimpan secara instan melalui mesin pencari dan AI. Akibatnya, proses mengingat tidak lagi sepenuhnya berlangsung dalam pikiran, tetapi terdistribusi melalui jaringan, algoritma, dan perangkat digital. Dengan demikian, teknologi turut membentuk cara manusia memahami realitas karena pengalaman manusia semakin dimediasi oleh perangkat teknis (Ihde, 1990: 73).
Illich melihat pendidikan modern semakin terindustrialisasi dan berorientasi pada standardisasi. Keberhasilan pendidikan cenderung diukur melalui nilai, akreditasi, sertifikasi, dan ketepatan waktu kelulusan, sehingga pendidikan berisiko diperlakukan sebagai komoditas dan peserta didik sebagai produk yang harus memenuhi standar tertentu.
Menurut Illich, kondisi tersebut dapat menciptakan monopoli radikal, yaitu ketika institusi mengambil alih fungsi yang sebelumnya dapat dijalankan individu atau komunitas. Akibatnya, kemandirian manusia berkurang dan teknologi serta sistem yang semestinya menjadi alat pembebasan justru berpotensi menjadikan manusia sebagai konsumen pasif.
Illich menulis: “Once a man or women has accepted the need for school, he or she is easy prey for other institutions. Once young people have allowed their imaginations to be formed by curricular instruction, they are conditioned to institusional planning of every sort. “Instruction” smothers the horizon of their imaginations” (Illich, 1971:39).
Sistem pendidikan yang menekankan keseragaman dapat menjadikan digitalisasi sekadar sarana efisiensi administrasi dan pengendalian institusi, bukan ruang eksplorasi pengetahuan yang bebas. Orientasi pada gelar dan sertifikasi juga menjadikan ijazah sebagai modal sosial dalam dunia kerja, sehingga pendidikan lebih berfungsi sebagai mekanisme pemberian kredensial daripada pengembangan kompetensi (Collins, 2019: 3).
Kondisi ini menunjukkan ketegangan antara digitalisasi yang berpotensi mendukung konvivialitas dan sistem pendidikan yang tetap berorientasi pada standardisasi.
Membebaskan Pelajar
Menurut Illich, pendidikan konvivial menempatkan kebebasan peserta didik sebagai prinsip utama. Ia mengkritik sekolah formal karena sistem dan regulasinya cenderung membatasi kebebasan serta menekan peserta didik untuk mengikuti ketentuan institusi. Pendidikan seharusnya menciptakan ruang belajar yang lebih mandiri dan tidak bersifat manipulatif.
Dalam konteks pendidikan saat ini, pemikiran Illich dapat dikaitkan dengan penerapan kurikulum nasional yang mengharuskan sekolah mengikuti standar pembelajaran tertentu. Menurut perspektif Illich, penyeragaman tersebut berpotensi membatasi kreativitas dan kebebasan peserta didik sehingga tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip konvivialitas.
Pendidikan konvivial seharusnya memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan waktu, cara, dan sumber belajar sesuai kebutuhannya (Illich, 1971: 54). Dengan demikian, peserta didik tetap menjadi agen yang aktif dan bebas dalam membangun pengetahuan melalui komunikasi dan kerja sama.
Illich menulis: “…on the left the service is amplified opportunity within formally defined limits, while the client remains a free agent. …. Left-wing institution tend to be networks which facilitate client-initiated communication or cooperation” (Ibid.,55).
Pendidikan konvivial menempatkan pembelajar sebagai pengendali proses belajar dan menjadikan institusi sebagai sarana yang melayani kebutuhan manusia. Kebebasan dalam menentukan proses belajar memungkinkan pembelajar membentuk identitas serta berkontribusi kepada sesamanya. Dengan demikian, belajar merupakan aktivitas personal yang seharusnya tidak dibatasi oleh institusi yang hanya berorientasi pada sertifikasi dan ijazah.*)
Referensi
Illich, Ivan. Deschooling Society. Edited by Ruth Nanda Anshen. New York: Harper & Row, 1971.
Illich, Ivan. Tools for Conviviality. New York: Harper & Row, 1973.
Cayley, David. Ivan Illich: An Intellectual Journey. University Park: The Pennsylvania State University Press, 2021.
Collins, Randall. The Credential Society: An Historical Sociology of Education and Stratification. New York: Columbia University Press, 2019.
Dusek, Val. Philosophy of Technology: An Introduction. Malden: Blackwell Publishing, 2006.
Hartanto, B. (2014). Membaca Materialitas Ilmu Berdasarkan Filsafat Teknologi Don Ihde. DISKURSUS – JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA, 13(2), 193-221. https://doi.org/10.36383/diskursus.v13i2.80
Hayles, N. Katherine. How We Became Posthuman: Virtual Bodies in Cybernetics, Literature, and Informatics. Chicago: University of Chicago Press, 1999.
Ihde, Don. Technology and the Lifeworld: From Garden to Earth. Bloomington: Indiana University Press, 1990.
Ameson, Pat. “Playful Seriousness: The Virtue of Eutrapelia in Dialogue.” Atlantic Journal of Communication 26, no. 1 (2018): 46–58. https://doi.org/10.1080/15456870.2018.1398165.




