GEREJA DIDEDIKASIKAN, UMAT IDAKEBO DIUTUS MEMBANGUN KERAJAAN ALLAH
IDAKEBO, KEUSKUPANTIMIKA.ORG — Gereja Katolik Paroki Santa Maria Ratu Rosario Idakebo tidak hanya berdiri sebagai sebuah bangunan baru. Di balik dinding dan altar yang didedikasikan, ada panggilan agar umat semakin kokoh dalam iman, bersatu sebagai satu keluarga Allah, dan menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi benang merah perayaan Dedikasi Gereja Katolik Paroki Santa Maria Ratu Rosario Idakebo, yang dipimpin oleh Yang Mulia Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Uskup Keuskupan Timika, pada Rabu, (7/10/26). Perayaan dimulai pukul 09.00 WIT dan berlangsung dalam suasana penuh syukur bersama umat, para imam, serta berbagai pihak yang mengambil bagian dalam pembangunan gereja.
Perayaan mengusung tema “Kokoh dalam Iman, Bersatu dalam Rumah Tuhan”, dengan subtema: “Melalui pemberkatan gereja Paroki Idakebo, umat Allah diutus menjadi saksi Kristus yang berakar kuat dalam iman, berbuah dalam kasih, dan membangun persekutuan yang solid.”
Rangkaian perayaan diawali dengan perarakan dari Pastoran menuju gedung gereja. Misdinar berada di bagian depan, disusul para pewarta, para imam, dan Uskup Keuskupan Timika.

Di depan pintu gereja, Mgr. Bernardus memberkati air dan garam. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pengguntingan pita oleh Uskup bersama Bupati Dogiyai.
Panitia Pembangunan selanjutnya menyerahkan gereja kepada Uskup. Mgr. Bernardus kemudian membuka pintu gereja sebagai tanda dibukanya rumah Tuhan bagi umat untuk beribadah, mendengarkan Sabda Allah, merayakan Ekaristi, dan membangun persekutuan.
Uskup memasuki gereja dan memerciki bagian dalam gedung beserta perlengkapannya, termasuk menara lonceng. Sementara itu, para imam memerciki bagian luar gereja dan umat yang hadir.

Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti pada patung pelindung gereja dan prasasti gedung gereja baru oleh Uskup, Pastor Paroki, dan Bupati Dogiyai.
Setelah itu, umat dipersilakan memasuki gereja. Rombongan misdinar, para imam, dan Uskup kemudian memasuki gereja untuk melanjutkan ritus dedikasi.
Perayaan dipimpin Uskup Keuskupan Timika dengan Pastor Richardus Buanglela, Pastor Paroki Idakebo, sebagai Konselebran I, dan Pastor Rufinus Madai, Dekan Dekenat Kamuu Mapia, sebagai Konselebran II.
Ritus dedikasi berlangsung dalam suasana khidmat. Doa pemberkatan salib besar, tabernakel, patung Keluarga Kudus, dan kursi pemimpin mengawali rangkaian berikutnya.

Litani Para Kudus kemudian didaraskan, disusul Doa Dedikasi. Altar dan gereja diurapi, kemudian didupai. Kain altar dipasang dan altar serta seluruh gereja diterangi.
Setiap ritus tersebut mengingatkan umat bahwa gereja yang baru bukan sekadar bangunan fisik. Gereja adalah tempat umat berkumpul sebagai Tubuh Kristus, merayakan iman, menerima rahmat Allah, dan diutus kembali ke tengah dunia.
Dalam homilinya, Mgr. Bernardus mengajak umat melihat tiga tokoh dalam Kitab Suci, yakni Ezra, Paulus, dan Petrus.
Ketiganya hadir dalam konteks dan zaman yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: mereka dipanggil Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya-Nya.
Ezra tampil membangun kembali kehidupan bangsa Israel dan mengingatkan mereka akan identitas sebagai bangsa pilihan Allah. Paulus, meskipun bukan bagian dari dua belas rasul, dipanggil Tuhan secara khusus dan kemudian menjadi pewarta Injil yang membawa kabar Kristus kepada banyak bangsa.
Sementara Petrus sebagai pemimpin para rasul menerima tugas untuk menggembalakan umat dan mewartakan Kristus hingga ke Roma.
Dari ketiga tokoh tersebut, Uskup menegaskan bahwa membangun Kerajaan Allah tidak cukup hanya dengan berbicara tentang kehidupan rohani. Iman harus menjadi nyata dalam kehidupan.

Uskup kemudian menyampaikan empat hal penting yang perlu menjadi perhatian umat dalam membangun kehidupan bersama.
Pertama, ekonomi keluarga dan kemandirian pangan. Uskup mengingatkan bahwa Kerajaan Allah harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, umat tidak hanya diajak berdoa, tetapi juga bekerja dan membangun kehidupan ekonomi keluarga.
Umat didorong untuk membuat kebun, menanam tanaman pangan, serta memelihara ternak seperti ayam dan babi.
Langkah sederhana tersebut, menurut Uskup, menjadi bagian dari upaya mempersiapkan keluarga menghadapi berbagai kemungkinan krisis sekaligus membangun kemandirian pangan.
Kedua, kesehatan dan pola hidup. Uskup mengajak umat untuk membangun cara hidup yang sehat, mulai dari makanan, istirahat, pekerjaan hingga relasi dengan sesama.
Ia memberikan perhatian khusus terhadap ancaman HIV/AIDS dan penyalahgunaan alkohol yang telah berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat Papua.
Uskup mengingatkan bahwa generasi muda harus dijaga. Alkohol, katanya, tidak boleh dibiarkan menghancurkan masa depan generasi Papua.
“Alkohol membunuh generasi,” tegasnya.
Karena itu, umat diajak meninggalkan kebiasaan yang merusak dan membangun budaya hidup yang sehat.

Ketiga, pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu perhatian utama Uskup untuk lima tahun ke depan. Ia mengajak orang tua untuk sungguh-sungguh memperhatikan pendidikan anak-anak.
Pembenahan YPPK, menurut Uskup, perlu mendapatkan perhatian serius dan diberikan roh baru, mulai dari pendidikan paling dasar, PAUD dan TK, hingga perguruan tinggi.
Uskup juga menyampaikan rencana pembukaan seminari di Nabire sebagai bagian dari perhatian terhadap pendidikan dan pembinaan panggilan.
Orang tua diminta tidak hanya menyekolahkan anak, tetapi juga mendampingi dan mengontrol proses belajar mereka.
“Orang tua harus kontrol anak untuk belajar,” pesannya.
Pendidikan, lanjut Uskup, tidak boleh berhenti pada ijazah dan gelar. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu menciptakan peluang dan membawa manfaat bagi orang lain.
Keempat, pertobatan dan Sakramen Pengakuan Dosa. Kepada para imam, Uskup kembali mengingatkan tugas mereka sebagai penerus karya para rasul. Para imam diminta menyediakan jadwal khusus untuk pelayanan Sakramen Pengakuan Dosa dan mengumumkannya kepada umat.
Dengan demikian, umat mempunyai kesempatan untuk datang secara pribadi, mengakui dosa, mengalami kerahiman Allah, dan memperbarui hidup.
Bagi Uskup, pembangunan gereja secara fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan manusia dan pembaruan rohani umat.
Pesan Uskup tersebut memberikan makna yang lebih dalam bagi perayaan dedikasi Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosario Idakebo.

Gereja yang baru didedikasikan menjadi rumah Tuhan, tetapi umat yang keluar dari rumah Tuhan dipanggil untuk membawa iman itu ke dalam kehidupan nyata: ke kebun dan tempat kerja, ke keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, serta dalam relasi dengan sesama.
Karena itu, dedikasi gereja bukanlah titik akhir dari sebuah pembangunan. Sebaliknya, ia menjadi awal dari perutusan baru.
Umat Idakebo dipanggil untuk menjadi komunitas yang kokoh dalam iman, mandiri dalam kehidupan, peduli terhadap kesehatan, serius dalam pendidikan, dan senantiasa membuka diri terhadap pertobatan.
Perayaan kemudian dilanjutkan dengan Liturgi Sabda dan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh Uskup bersama para imam konselebran.

Di hadapan altar yang baru didedikasikan, umat kembali diteguhkan dalam satu panggilan: berakar dalam Kristus, bertumbuh dalam persaudaraan, berbuah dalam kasih, dan pergi menjadi saksi Injil di tengah dunia.
Gereja telah didedikasikan. Kini umatlah yang diutus untuk menjadikannya hidup melalui kesaksian.***(Penulis: JIMMY/Editor:Alo)




