BKSN PEKAN III DI PUTAPA: NABI MALEAKHI AJAK KESETIAAN DALAM HIDUP KELUARGA
Tidak terasa peziarahan bersama “Sang Sabda” telah memasuki pekan ketiga. Pekan ini mengangkat tema “Pembaharuan Relasi dalam Keluarga”. Usai membaharui relasi dengan diri sendiri dan sesama pada dua pekan perenungan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) sebelumnya lewat corong mulut Nabi Zakharia, kini Nabi Maleakhi mengajak umat jagat untuk mulai merestorasi relasi dalam keluarga masing-masing dengan jalan tetap setia, tidak kawin campur, dan tidak selingkuh.
Sesuai jadwal pendalaman, kami diutus ke sebuah dusun di sedikit pojok wilayah Kamuu Induk yang kebetulan senama dengan dusun saya, yaitu Putapa. Bersama umat Kombas Sta. Theresia Putapa kami memecahkan roti sabda dan meminum anggur pendalaman firman yang harapannya menyegarkan dan menguatkan daging yang lemah.
Sekitar pukul 13.50 WIT, kami keluar dari Paroki Mauwa menuju Kapela Kombas Sta. Theresia Putapa. Umat sudah berkumpul, tetapi belum begitu banyak. Kami cukup lelah karena habis mengguras sedikit isi kepala bersama anak-anak SMP YPPK St. Fransiskus Asisi Moanemani. Untuk itu, kami memangkas satu jam awal untuk memulihkan saraf-saraf yang sudah babak belur dihajar panduan mengajar perdana.
Usai sejenak istirahat siang di Sekretariat Kombas sambil menunggu umat berdatangan, akhirnya kami memulai pendalaman Pekan III BKSN tepat pukul 15.00 WIT. Ibadah pendalaman berlangsung penuh emosional tanpa meninggalkan bercak spiritual yang dalam. Frater Siorus Degei, pemimpin pendalaman, mengajak umat untuk mengorek luka-luka batin yang menjadi borok pergumulan keluarga-keluarga umat yang hadir.
Bertolak dari Maleakhi 2:10–16 “Tuhan memarahi Israel karena kawin campur dan perceraian”. Ini sabda yang, jika sekilas kita cerap, tentulah terasa kuat teguran kerasnya. Tuhan benar-benar tidak kompromi dengan yang namanya amalgamasi, kawin campur, perselingkuhan, dan perceraian dalam keluarga-keluarga yang sudah Ia meteraikan di mezbah suci-Nya.
Frater membuka sesi pendalaman dengan beberapa gambaran topik. Bahwa ada keterkaitan erat antara kondisi keluarga bangsa Israel dulu dan keluarga bangsa Papua kini.
“Bapa-Mama, Ade-Kaka, Saudari-Saudara yang terkasih dalam Kristus, Tuhan kita. Situasi yang ada di Israel yang barusan kita baca bersama dari Kitab Maleakhi (Mal. 2:10–16) ini juga ada dalam kehidupan kita. Soal kasus kawin lebih, kawin campur, perselingkuhan, perceraian, dan lain-lain selalu mewarnai cerita hari-hari hidup kita. Seperti dulu bangsa Israel yang tidak setia dengan pasangan pertama (Tuhan Allah sendiri) dan melirik pasangan kedua, ketiga, dan kesekian (dewa-dewi palsu, ilah-ilah duniawi). Banyak orang Papua, orang-orang dekat kita, juga turut melakukan hal yang sama, yaitu kawin campur dan selingkuh,” buka Frater Degei.
Ia menambahkan soal kebiasaan buruk para pejabat Papua atau orang-orang tertentu yang baru saja naik jabatan, naik pangkat, naik gaji, langsung naik kelas perkawinan dan naik kelas kedosaannya, dari kelas satu ke kelas dua, tiga, empat, dan seterusnya.
“Kita melihat orang-orang besar kita, para pejabat kita. Ya, sekalipun tidak semua, tapi ada suatu kecenderungan besar: kita orang Papua jika sudah tergila-gila pada harta dan tahta pendatang, kita pun akan gila wanita pendatang, wanita paha putih. Padahal jauh sebelum sukses, ada air mata istri, air mata orang tua kandung—terutama mama—dan air keluarga. Tetapi setelah air mata itu berbuah menjadi samudra kesuksesan, anak ini, suami ini, orang ini lupa akan para pemilik air mata yang mendorong perahu hidupnya ke dermaga keberhasilan,” tambah Frater Degei.
Nabi Maleakhi memanggil keluarga bangsa Israel, dan hari ini ia juga memanggil keluarga bangsa Papua, keluarga umat Kombas Sta. Theresia, untuk memperkokoh pilar-pilar dan layar-layar biduk rumah tangganya dengan rotan cinta dan kesetiaan yang jernih tanpa kabut kemunafikan, kebohongan, dan kenajisan.
Rupanya, perselingkuhan dan perceraian adalah isu klasik. Pada zaman Nabi Maleakhi, ia menjumpai fakta perselingkuhan dan perceraian yang marak di kalangan bangsa Israel. Banyak suami menceraikan istrinya. Mereka tidak komit pada janji suci di hadapan imam Tuhan. Rayuan-rayuan wanita yang lebih muda dan bersinar raganya membutakan mata hati mereka. Banyak keluarga Israel rusak karena persoalan ini.
Beberapa mama meneteskan air mata tatkala mengisahkan bagaimana mereka diduakan oleh suaminya, bagaimana mereka harus bertarung merawat buah hati yang Tuhan titipkan dalam rahim.
“Mama takut untuk mencari laki-laki lain, sebab perkawinan mama terjadi di Gereja Immakulata Moanemani, di hadapan imam yang kudus. Jadi tidak mungkin mama mengkhianati janji yang sudah mama ikrarkan di depan altar dan Allah Tritunggal,” ungkap seorang mama.
Ia menikah puluhan tahun lalu. Suaminya berjanji tidak akan berpoligami di hadapan pastor sebelum mengucapkan sumpah setia. Namun sumpah ini tidak kuasa ia tahan ketika dunia dan kenikmatan semu menyajikan banyak wanita cantik di hadapan kedua kelopak matanya yang rapuh.
Ada juga seorang mama yang mengisahkan kisah hidup keluarganya yang penuh lika-liku:
“Dari pengalaman hidup saya sejauh ini, saya memahami bahwa kehidupan berumah tangga itu tidak pernah berjalan mulus. Masalah persis selalu membayangi kehidupan keluarga saya. Saya mengalami itu. Saya mungkin aktif dalam kehidupan menggereja, tetapi saya tidak tahu dengan suami saya. Di keluarga lain, barangkali terbalik: ada suami yang aktif, tapi istrinya pasif. Tapi ada juga yang suami-istri serta anak-anak aktif. Anak-anak saya di rumah ada yang mengikuti kebiasaan mama, ada juga yang ikut teladan bapanya. Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mengubah dan membaharui suami dan anak-anak saya.”
Seorang bapa membagikan pengalamannya bahwa persatuan orang tua (bapa-mama) adalah kekuatan dan kunci sukses bagi anak-anak:
“Saya menyadari bahwa saya dan istri saya itu ibarat kaki kiri dan kaki kanan anak-anak kami. Jika saya meninggalkan istri saya, maka anak-anak saya akan pincang. Mereka akan sulit berjalan, apalagi berlari menuju masa depan yang baik, pasti mereka cepat tersungkur di tanah sebelum mencapai cita-cita. Jika istri saya yang pergi entah ke mana karena satu hal dalam keluarga kami, tentu anak-anak kami akan pincang, bahkan ibarat burung tanpa sayap. Jadi selama ini, hanya demi masa depan anak-anak, saya rela membunuh ego saya sebagai laki-laki. Saya harus lebih banyak mengalah dan rendah hati untuk lebih dulu minta maaf kepada ibu dan anak-anak.”
Kesimpulan akhir yang bisa ditarik ialah bahwa setia itu mahal. Allah, alam, dan leluhur sangat mengutuk orang asli Papua yang kawin campur, selingkuh, dan cerai. Allah sudah memberkati sebuah perkawinan Katolik (Kristiani) secara kudus di depan altar suci. Jika salah satu pasangan berkhianat atas janji sakramen perkawinan, maka itu menyimpang dari maksud Allah, dan Allah sudah barang pasti mengutuk tindakan ini. Alam dan leluhur juga menjadi saksi, baik dalam ritus perkawinan adat, sipil, maupun agama. Jika salah satu pasangan berkhianat pada janji suci yang sudah diikrarkan, lalu binasa dan kutukan jatuh padanya, hanya ada satu hal yang bisa dibuat, yaitu pulang kembali ke pangkuan Mama Gereja, pulang kembali ke pangkuan pasangan dan keluarganya yang sah.
Hal lainnya ialah bahwa Allah itu kekasih jiwa hati kita yang pertama, istri sekaligus suami sah kita, umat manusia. Layaknya kekasih, istri, dan suami, Ia pun akan sangat cemburu jika kita mengkhianati cinta-Nya, janji-Nya yang begitu tulus kepada kita. Ia rela mengutus Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus, supaya tersalib hina demi menebus kita. Jadi, baiklah kita tidak kawin campur (menyembah berhala: setan, kuasa, dan uang), tidak selingkuh (menduai dan melukai hati Allah), dan tidak cerai (menyangkal serta meninggalkan Allah), dengan pasangan abadi kita yang agung, Tuhan Allah.
Inilah daging makna teologis di balik seruan profetis kritis Nabi Maleakhi.
Penulis: Fr. Siorus Ewainaibi Degei (Frater TOPER St. Petrus Mauwa)




