Majalah Gaiya

ALLAH YANG TINGGAL DAN MENANGIS DI TANAH PAPUA

Cerita Rakyat

Pagi itu matahari nampak perlahan di balik pegunungan Papua. Cahaya kuningnya menyentuh atap-atap honai dan terlihat daun-daun pisang yang masih basah oleh embun. Di sebuah kampung kecil, orang-orang mulai beraktivitas seperti biasanya. Anak-anak berjalan tanpa alas kaki, mama-mama memikul noken, dan para bapak bersiap pergi ke kebun. Segalanya tampak tenang, tetapi di balik ketenangan itu tersimpan cerita panjang tentang luka dan harapan yang tak pernah terbendung.

Di salah satu honai, tinggal seorang mama bernama Marta. Ia sudah terbiasa bangun lebih pagi Ketika yang lain masih terlelap. Setiap hari, ia menyiapkan ubi dan sayur untuk anak-anaknya. Tangannya kasar oleh kerja keras, tetapi matanya menyimpan kelembutan kasih yang tak pernah habis. Marta adalah gambaran banyak mama Papua, kuat, sabar, dan diam-diam menanggung banyak kesedihan dan kepahitan.

Anak bungsunya, Lukas, sering bertanya tentang hal-hal sederhana. Suatu hari, ketika mereka duduk di depan honai, Lukas bertanya, “Mama, kenapa kita sering sedih?”

Pertanyaan itu membuat Marta terdiam. Ia memandang ke arah pegunungan yang jauh, seolah mencari jawaban di sana. Ia tahu bahwa kesedihan mereka bukan hanya karena kekurangan makanan atau hujan yang terlambat turun. Kesedihan itu lebih dalam, lebih lama, dan sering kali tidak terucapkan.

“Kita sedih karena hidup tidak selalu adil, Nak,” jawabnya. “Tapi Tuhan tahu semua itu”, lanjutnya.

“Tuhan lihat kita?” tanya Lukas lagi.

Marta sembari mengangguk. “Tuhan bukan hanya lihat. Ia juga rasa apa yang kita rasa.”

Di kampung itu, orang-orang sering berdoa. Mereka berdoa di gereja kecil dengan bangku kayu yang sudah tua. Mereka bernyanyi dengan suara sederhana, kadang fals, tetapi penuh penghayatan. Doa-doa mereka bukan doa yang indah atau panjang. Doa mereka adalah jeritan yang jujur, tentang tanah yang hilang, tentang saudara yang tidak kembali, tentang rasa takut yang datang tanpa diundang. Bagi sebagian orang, doa itu mungkin terdengar seperti keluhan. Namun bagi orang Papua, doa adalah satu-satunya cara untuk tetap berdiri ketika dunia terasa terlalu berat.

Di suatu sore, hujan turun deras. Air mengalir di jalan tanah, membawa lumpur dan daun kering. Beberapa anak berlarian mencari tempat berteduh. Di bawah hujan itu, seorang bapak tua duduk sendirian. Namanya Yakobus. Rambutnya memutih, dan tubuhnya sudah tak sekuat dulu. Ia kehilangan dua anaknya dalam peristiwa yang tidak pernah ia ceritakan secara lengkap. Setiap kali ia mencoba bercerita, kata-kata seolah berhenti di tenggorokannya.

Yakobus sering bertanya dalam diam, “Kalau Tuhan ada, mengapa semua ini terjadi?”

Namun anehnya, ia tidak pernah meninggalkan Tuhan. Ia tetap datang ke gereja. Ia tetap membuat tanda salib. Bukan karena ia mengerti segalanya, tetapi karena ia percaya Tuhan mengerti dirinya.

Di malam hari, kampung itu sunyi. Api kecil menyala di depan honai. Orang-orang berkumpul, bercerita, tertawa pelan, dan sesekali terdiam. Dalam kebersamaan itu, ada rasa aman yang sederhana. Tidak ada jawaban besar tentang penderitaan, tetapi ada kehadiran satu sama lain.

Dan di tengah kebersamaan itu, Tuhan hadir. Bukan sebagai suara petir atau cahaya menyilaukan, melainkan sebagai keheningan yang menemani. Tuhan duduk di antara mereka, mendengarkan cerita yang sama berulang-ulang, menangkap setiap air mata yang jatuh ke tanah. Tuhan tidak datang membawa solusi cepat. Ia tidak menghapus luka begitu saja. Ia memilih tinggal. Ia memilih mendengar. Ia memilih menangis bersama.

Di kampung itu, ada seorang guru muda bernama Daniel. Ia datang dari kota dengan banyak idealisme. Awalnya ia ingin mengubah segalanya, pendidikan, cara berpikir, masa depan anak-anak. Namun setelah beberapa bulan, ia menyadari bahwa Papua tidak bisa “diselamatkan” dengan ide besar saja.

Suatu hari, Daniel berkata kepada Marta, “Saya ingin membantu, tapi saya sering merasa tidak berdaya.”

Marta tersenyum tipis, “Kalau kamu mau tinggal, mendengar, dan tidak pergi, itu sudah membantu.”

Kata-kata itu sederhana, tetapi dalam. Daniel mulai mengerti bahwa kehadiran lebih penting dari pada jawaban. Bahwa duduk bersama orang yang menderita adalah tindakan iman yang nyata.

Ia mulai melihat Tuhan di tempat-tempat kecil, di senyum anak-anak, di lagu gereja yang sederhana, di keteguhan mama-mama yang tetap bekerja meski hati mereka lelah. Tuhan tidak absen. Tuhan bekerja perlahan, seperti benih yang tumbuh diam-diam di tanah.

Waktu berlalu. Luka-luka belum sepenuhnya sembuh. Beberapa bahkan semakin dalam menderita. Namun, mereka tetap hidup. Mereka tetap bernyanyi. Mereka tetap berharap, meski harapan itu sering rapuh.

Pada suatu perayaan gereja, pastor berkata dalam khotbahnya, “Tuhan kita bukan Tuhan yang jauh. Ia adalah Tuhan yang menderita bersama kita.”

Kata-kata itu tidak disambut dengan tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Tetapi banyak mata yang berkaca-kaca. Karena bagi mereka, kata-kata itu bukan teori. Itu adalah pengalaman hidup. Mereka tahu Tuhan menderita, karena mereka merasakan kehadiran-Nya di saat-saat paling gelap. Saat tidak ada siapa-siapa, Tuhan tetap ada. Saat suara mereka tidak didengar, Tuhan mendengar.

Papua adalah tanah yang terluka. Tetapi juga tanah yang penuh iman. Iman yang tidak banyak bicara, tidak mencari panggung, dan tidak selalu rapi. Iman yang lahir dari penderitaan dan bertahan karena harapan.

Cerita ini bukan tentang akhir yang bahagia. Luka Papua belum selesai. Tetapi ini adalah cerita tentang Allah yang tidak pergi. Allah yang memilih tinggal di tanah yang sering dilupakan. Allah yang menangis bersama umat-Nya, dan dengan air mata itu, menumbuhkan harapan kecil yang suatu hari bisa menjadi kehidupan baru. Di Papua, Tuhan bukan hanya ada di surga. Ia ada di honai, di kebun, di gereja kecil, dan di hati orang-orang sederhana. Ia adalah Allah yang tinggal. Allah yang menderita. Allah yang setia bersama orang Papua.

 

Penulis:  Fr. Yosep Riki Yatipai

Allo
Author: Allo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button