14 SISWA SD YPPK SANTA MARIA TIMEEPA LULUS: IMAN SEBAGAI OBOR YANG MENERANGI JALAN ILMU DAN HIDUP
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Sebanyak 14 siswa-siswi Kelas VI SD YPPK Santa Maria Timeepa resmi dinyatakan lulus pada Tahun Ajaran 2025/2026. Kelulusan tersebut dirayakan dalam Misa Penamatan yang dipimpin oleh Pastor Paroki Kristus Penebus Timeepa, Pastor Yeskiel T.D. Belau, Pr., pada Senin, 01 Juni 2026.
Perayaan berlangsung dengan khidmat di ruang kelas SD YPPK Santa Maria Timeepa dan bertepatan dengan Peringatan Wajib Santo Yustinus, Martir. Momen ini menjadi ungkapan syukur atas perjalanan pendidikan para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan dasar mereka.
Dalam homili, Pastor Yeskiel menegaskan bahwa iman adalah dasar hidup dan dasar keberhasilan. Secara filosofis, iman berfungsi sebagai kompas moral yang memampukan anak membedakan yang baik dan yang tidak baik. Dengan kemampuan itu, ia bisa menghindari yang merusak dan memilih yang membangun dalam belajar, mendidik, maupun usaha-usaha orang dewasa dalam hidup.
Iman harus tetap menyala seperti obor atau lilin yang menerangi kegelapan kebingungan dan kemalasan. Ini selaras dengan semangat St. Yustinus Martir, yang mempersatukan iman dan akal budi dalam pencarian kebenaran.
Bacaan Injil Markus 12:1-13 mengingatkan bahwa hidup adalah kebun anggur Tuhan yang dipercayakan kepada setiap orang. Para lulusan dipanggil menjadi penggarap yang setia, bukan yang merusak.
St. Petrus dalam 2 Petrus 1:5-7 memberi arah pertumbuhan: “Tambahkanlah pada imanmu kebajikan, pada kebajikan pengetahuan, pada pengetahuan ketekunan, hingga pada akhirnya kasih bagi semua orang”.
Bagi 14 siswa yang lulus, pesan ini menjadi penugasan baru. Kalian adalah penggarap kebun anggur Tuhan. Iman yang telah ditanam harus dijaga agar tidak padam oleh kemalasan, godaan, dan putus asa. Kalau obor itu menyala, kalian akan berani menolak yang buruk dan memilih yang baik, meski tidak ada yang mengawasi.
St. Petrus mengingatkan untuk menumbuhkan iman itu menjadi kebajikan, pengetahuan, dan ketekunan. Jalan menuju emas, ijazah, dan masa depan memang panjang, tetapi dimulai dari kejujuran kecil di kelas, hormat kepada guru dan orang tua, serta tekun dalam belajar hari ini. Kalian adalah harapan tanah ini untuk menjadi terang di masa depan.
Bagi para guru, perayaan ini adalah pengakuan atas pengabdian. Di tengah keterbatasan tenaga pendidik, kesetiaan kalian menjadi bukti bahwa pendidikan di pelosok tetap hidup. Kalian adalah hamba-hamba yang merawat kebun anggur Tuhan.
Setiap pelajaran yang disampaikan, setiap teguran yang penuh kasih, adalah upaya menyalakan obor iman dalam diri anak. SK Kelulusan yang dibacakan hari ini bukan akhir, melainkan tanda bahwa estafet pendidikan telah diserahkan. Tugas ke depan adalah menjaga agar obor itu terus menyala ketika anak-anak melangkah ke jenjang SMP.
Bagi orang tua, dukungan menjadi kunci utama. Sekolah dapat mengajar, tetapi keluarga adalah sekolah pertama dan utama. Anak akan meneladani apa yang dilihat di rumah: doa, kerja keras, dan penghargaan terhadap pendidikan.
Nasihat Pastor Paroki dalam sambutannya menegaskan agar orang tua terus mendukung studi anak, baik secara moral maupun material. Kasih yang diajarkan St. Petrus dimulai dari meja makan dan ruang keluarga. Ketika orang tua mendukung, anak tidak mudah putus sekolah, dan ketika satu anak maju, satu keluarga serta satu kampung ikut terangkat.
Acara ditutup dengan makan bersama masakan bakar batu, simbol kebersamaan dan syukur masyarakat Mee di Timeepa. Momen ini menegaskan bahwa pendidikan bukanlah urusan sekolah saja, tetapi kerja bersama Gereja, keluarga, dan masyarakat.
Ke depan, 14 lulusan ini diharapkan menjadi terang bagi keluarga, Gereja, dan tanah Papua. Selama iman tetap menyala seperti obor, jalan ilmu dan hidup akan tetap terang, dan Timeepa akan terus melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berkarakter. ***P. YESKIEL BELAU, PR






