KEBADABI VOICE: PENA CAIR, DUNIA MENGENAL, MENULIS DEMI PERDAMAIAN PAPUA (2025).
Demikian judul besar yang Frater Mote Zebedeus berikan kepada buku perdananya yang tiba di Wisma Konfrater Keuskupan Timika pada Senin, 3 November 2025, pukul 11.00 WIT. Sekilas dari judul buku tersebut sudah memperlihatkan kepada kita visi dan misi emas penulis di balik karyanya.
Sinopsis Buku
Buku berjudul Kebadabi Voice (2025) karya Frater Sebedeus Mote, Pr (mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur dan calon imam Keuskupan Timika), merupakan karya pustaka perdana Frater Sebedeus Mote. Buku ini terdiri atas 156 halaman dan lima bagian besar.
Bahan mentah buku ini adalah kumpulan artikel opini yang Saudara Mote tulis dan muat di JUBI, salah satu portal berita utama di Tanah Papua, semasa dirinya menempuh studi pendidikan strata pertama (S1). Ia baru menerbitkan buku mozaik artikel opini tersebut saat melanjutkan studi pascasarjana di kampus yang sama (STFT Fajar Timur).

Judul: Kebadabi Voice: Pena Cair, Dunia Mengenal, Menulis Demi Perdamaian Papua
Penulis: Fr. Sebedeus Mote, S.S.
Prolog: Octovianus Pekei, S.S., M.Sc.
Epilog: Siorus Degei, S.S.
Endorsement: Timotius Marten (Editor JUBI) dan Pastor Yohanes Aweegada Wiyai Kayame, Pr (Pastor Rekan di Paroki Serui)
Didukung oleh: Yayasan Rumah Edukasi Mandiri; Ko’Sapa (Komunitas Sastra Papua); Gerakan Papua Mengajar; Papua Peace Network; Komunitas Kebadabi Voice, Abepura.
Diterbitkan pertama kali oleh: Ko’Sapa, 2025 (Komunitas Sastra Papua).
Sekretariat: Jl. Biak, Abepura, Jayapura, Papua.
Email: sastrapapua@gmail.com | WA: 0852-4407-5528 | Website: www.sastrapapua.org
Desain sampul: Elias Madai (Karikatur Pater Neles Kebadabi), Belandina Yeimo (Karikatur Dialog Jakarta–Papua), Saut – JUBI.id
Desain isi: Ibiroma Wamla
Pracetak: Aleks Giyai
Dicetak oleh: Edited Press, Yogyakarta
iii + 124 hlm., 14 × 21 cm
ISBN: 983-43008-0-8
Cetakan pertama: Oktober 2025
Catatan: Tidak untuk dijual, stok terbatas. Buku ini akan dijual pada cetakan kedua.
Perihal Kebadabi Voice
Kebadabi Voice (KV) secara harfiah berasal dari dua kata dalam dua bahasa, yakni kata “kebadabi” dari bahasa Suku Mee dan “voice” dari bahasa Inggris. Kebadabi adalah nama inisiasi adat yang diberikan oleh orang Suku Mee di Wakeite (kini Deiyai) dalam perayaan tahbisan Pastor Neles Tebay pada 28 Juli 1992, di usianya yang ke-28 tahun.
Pater Neles Tebay kala itu tidak memiliki ayat Kitab Suci khusus sebagai pegangan imamatnya; nama kebadabi yang diberikan orang tua inilah yang ia jadikan sebagai motto imamatnya.
Kebadabi sendiri berarti “orang yang membuka pintu atau jalan.” Jadi, singkatnya, Kebadabi Voice adalah “suara pembuka jalan” atau “suara perjuangan Pastor Neles Tebay.”
Komunitas Kebadabi Voice (KV) merujuk pada sebuah perhimpunan kecil yang terdiri atas beberapa frater asli Papua dari lima keuskupan di Regio Papua yang menempuh studi filsafat-teologi di Kampus STFT Fajar Timur dan Seminari Tinggi Interdiosesan Yerusalem Baru (STIYB). Mereka dipersatukan oleh kesamaan passion terhadap realitas patologis: penindasan di Bumi Papua.
Sekitar tahun 2019, komunitas Kebadabi Voice dibentuk pasca wafatnya Pastor Neles Tebay, bertempat di makam beliau.
Frater Sebedeus Mote, Pr, adalah salah satu anggota Kebadabi Voice yang paling vokal dan konsisten kala itu. Ia menulis banyak artikel opini kritis tentang isu-isu kemanusiaan di Tanah Papua yang tersebar di berbagai kanal media daring dan cetak. Tulisan-tulisan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya buku Kebadabi Voice (2025) di hadapan khalayak.
Komunitas KV berikhtiar untuk terus mewariskan perjuangan almarhum Pater Neles melalui karya tulis. Mereka mendirikan sebuah situs kampus bernama “Suara Fajar Timur: Pena Cair, Dunia Mengenal.” Lewat wadah ini diharapkan semangat menulis demi Papua tanah damai yang telah dimulai oleh Pater Neles dapat terwariskan dengan baik.
Awalnya media ini terawat dan berjalan baik. Namun, seiring waktu, semangat menulis yang mulai mekar ini membuat banyak pihak merasa gelisah. Alhasil, pada medio tahun 2022, media ini mengalami pasang surut hingga vakum pada tahun berikutnya (2023).
Menyambung Lidah Kebadabi

Kendati demikian, upaya memunahkan benih-benih kebadabian tidak pernah berhasil. Misi meneruskan karya keselamatan manusia dan tanah Papua lewat jalan menulis tidak surut. Para mahasiswa yang secara alamiah terpanggil dan terkondisi dalam semangat kebadabian terus konsisten memotret realitas kekerasan dan konflik eksklusi di Papua.
STFT mendapatkan sapaan berkat hangat dari otoritas ilahi, sebab selalu saja muncul bibit-bibit kebadabi baru dalam setiap angkatan. Ada yang pergi, tetapi selalu ada yang datang.
Syukur, beberapa kawan sepanggilan dan seperjuangan masih konsisten mencairkan penanya demi memburu Papua tanah damai yang hilang di belukar kepentingan ekonomi-politik kolonial. Sekalipun wadah Suara Fajar Timur dibungkam, para kawan ini tidak kehabisan ide untuk mengekspresikan suara kenabiannya.
Beberapa mahasiswa bahkan memecahkan rekor dengan menerbitkan buku-buku bertema Papua saat masih berstatus mahasiswa aktif. Ini menjadi habitus yang terus kita saksikan sejak tahun 2022 hingga kini di Kampus STFT Fajar Timur. Buku Frater Sebedeus Mote ini adalah salah satu dari sekian karya mahasiswa STFT yang lahir selama masa studi. Bila seluruh karya tersebut disatukan, akan terbentuk sebuah “laboratorium dekolonisasi epistemik” yang memukau.
Neles Tebay Masih Hidup: Memadamkan Api Konflik dengan Air Tuhan
Melihat produktivitas intelektual para frater di STFT dan STIYB belakangan ini, kami yakin bahwa Pater Neles Tebay benar-benar masih hidup bersama generasi muda, aset manusia, tanah, dan Gereja Papua di Bukit Hening Yakonde. Secara simbolik, makam Pater Neles merepresentasikan spiritualitas kebadabian yang ia tinggalkan.
Banyak frater dan mahasiswa yang mendapatkan kharisma khusus di bidang ilmu saat berdoa di makam tersebut. Setahu saya, beberapa di antara mereka telah menulis lebih dari satu buku tentang Papua dan segala problematikanya.
Semoga buku Frater Sebedeus Mote ini melengkapi karya-karya intelektual yang mengalir dari “pancuran Bukit Yakonde.” Dalam sebuah mimpi, seorang penyair muda yang rutin mengunjungi makam Pater Neles mengisahkan bahwa, dalam perjumpaannya yang terbatas, Pater menyampaikan pesan berikut:
“Air yang turun dari gunung itu rasanya selalu enak dan segar.”
Semoga buku Frater Sebedeus Mote dan para frater lainnya yang lahir dari rahim Mama Fajar Timur menjadi “air segar dan enak yang turun dari gunung Tuhan bagi manusia dan alam Papua yang panas terpanggang api penjajahan.” Amin.




