REHAB RUMAH TUHAN SEBAGAI RUANG DIALOG
Suatu Refleksi Pribadi atas dua sosok dari Sang Fajar Timur
Mari kita bicara dulu dalam rumah sambil diterangi Sang Fajar. Sang Fajar yang terus bersinar di bukit Yakonde dari waktu lepas waktu merengut begitu macam tenaga pastoral bagi umat di tanah Papua. Keberadaan Sang Fajar menjadikan pernak-pernik remah-remah yang jatuh dari meja tuan menjadikan kehidupan yang begitu mendarah daging dalam nilai hidup orang Papua.
Saya merefleksikan secara pribadi mengenai dua sosok yang begitu hangat dalam sanubari. Mereka adalah Pastor Neles Tebai dan Pater Niko Syukur Dister. Keduanya telah melalui perjalanan bersama Yesus di Emaus, yang percaya akan kebangkitan Tuhan. Setelah mereka menyaksikan betapa Tuhan yang bercakap-cakap di perjalanan, membawa suasana sukacita yang mendalam. Mereka berdua menjadikan perjalanan itu juga di STFT Fajar Timur. Mereka telah menempuh perjalanan yang panjang itu dengan jutaan pengalaman hidup bersama Sang Fajar.
Bagi Pater Neles dalam sejumlah bekas pengalaman yang pernah diperdengarkan, mengisahkan betapa beratnya menjadi seorang fasilitator antara kedua ideologi (Papua Merdeka dan NKRI harga Mati). Pater Neles menjadikan semangat pena juru tulis sebagai upaya menanamkan solidaritas pembuktian, dan menjadikan suaranya sebagai bagian dari kenabian dalam terang Chiristus Vivit (Kristus Hidup), Kristus yang hidup itu menjadikan semua yang disentuh-Nya menjadi hidup dan berdaya guna bagi keberlangsungan manusia. Dalam cakupan ini, secara pribadi saya belajar dua hal dari Pater Neles bahwa menulis saja tidak cukup, tetapi harus bicara. Bicara bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi bagi keutuhan ciptaan. Kristus yang hidup seperti menulis di tanah (refleksi penulis: tindakan dan tutur kata kita harus membumi) yang selalu tampil di muka umum menyampaikan kebenaran, yang datang dari Tuhan, Apa itu kebenaran? Kristus menjawabnya “Akulah Kebenaran dan Hidup”. Sang Kebadabi yang membuka ruang dialog bagi keberlangsungan hidup ciptaan yang disemangati oleh daya juang Kristus demi kemanusiaan.
Bagi Pater Niko Dister, sang inspirator bagi para tukang rehab rumah Tuhan. Dari Pater Niko, saya belajar bahwa iman tak selamanya berada dalam pikiran buta, tak selamanya berada dalam tatanan kedahsyatan pemikiran. Melainkan iman itu sebenarnya tumbuh dalam semangat kerendahan hati dan belas kasih yang berjuang dalam kemanusiaan kita. Sebagaimana Allah yang dengan kasih-Nya menyatu dalam kelemahan manusia. Dia menjadikan diri manusia sebagai Bait yang kudus, tempat di mana Tuhan Allah bersemayam. Dalam merumuskan rehab rumah Tuhan, Pater Niko Syukur Dister, hendak mengajak semua kita untuk turut masuk dalam Kemaharahiman Allah itu yang mau tinggal bersama mereka yang lemah miskin dan tersingkir.
Kita harus buat apa?
Hemat penulis, ada dua hal yang diangkat oleh kedua sosok ini: yakni Rehab Rumah Tuhan dan Mari duduk bicara. Kita terkadang telah merasa nyaman dengan busana rohani yang melekat begitu lama, dan kita terlalu nyaman di sana. Kita seakan lupa bahwa rumah itu telah kotor dan berdebu, tetapi terkadang kita takut membersihkannya. Kita takut merehab rumah yang atapnya telah bolong itu, kita takut mengganti warna cat di dinding rumah kita. Hal yang mesti disadari terkait rumah yang kotor itu bagaikan ekslusivisme agama, sikap apatis terhadap kekerasan, atau kesombongan intelektual. Demikianlah juga kita bisa saja terlibat dalam kekakuan institusi atau pendekatan lama yang merasa paling pintar dan benar sendiri.
Berkaitan dengan hal di atas, kita terkadang merasa nyaman dengan pendekatan-pendekatan lama yang merasa saya lebih baik dari orang lain, saya lebih bisa dari orang lain, saya lebih pintar dari orang lain, dan saya mampu berdiri sendiri tanpa orang lain. Dalam artian ini, kita telah mengesampingkan masukan, kritik dan saran yang berguna bagi perkembangan hidup kita. Pendekatan yang baik ialah mari berjumpa, duduk sama-sama, dan mari kita bicara. Kita terkadang susah sekali mendengar masukan dari orang lain. Ingat Para murid yang bersama Yesus diajarkan untuk tinggal dan mendengar Yesus. Terkadang kita baru saja mendengar sedikit, kita merasa seolah-olah kita sudah mengetahui segalanya.
Untuk menutup refleksi ini, mari kita kembali merehab rumah kita. Agar Tuhan berkenan tinggal bersama kita, kita berdialog dengan-Nya dan undanglah sesama untuk memberi masukan kepada kita. Sekali lagi, dari Pater Niko dan Pater Neles, mari kita rehab rumah kita dan mari kita bicara. Mari sekali lagi kita kembali ke kedalaman diri kita, merajut kasih persahabatan dalam rumah kita, karena percuma saja memarkan kekayaan intelektual tetapi tidak merawat rumah hati kita. Percuma saja merawat rumah hati kita, kalau kita tidak mendiamkan sesama, dan tidak ingin berdialog, intelektualitas (kekayaan intelektual) harus menjadi pelayan bagi kemanusiaan, bukan tujuan utama. Sebab dialog bukan sekadar cara menyelesaikan konflik, melainkan pengakuan atas martabat manusia yang sering kali terabaikan dalam diskursus NKRI vs Papua Merdeka. Keadilan harus dirasakan oleh mereka yang hidup dari “remah-remah yang jatuh dari meja tuan”. Tuhan memberkati kita, tetap teguh dalam kerendahan hati dan dialog hidup bagi tanah Papua tercinta.
Penulis: Fr. Agus Sarkol




