PAPUA, PARU-PARU TERAKHIR INDONESIA
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Tanah Papua satu-satunya pulau yang masih “hijau” di peta Indonesia. Ia adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia dan rumah bagi ratusan suku bangsa yang hidup selaras dengan alam.
Dalam Lokakarya Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah yang digelar di Timika hari ini, 15/4/2026, di Hotel Swiss Belinn, Dr. Wika Rumbiak dari WWF Indonesia memaparkan urgensi pelestarian ekosistem Papua di tengah ancaman modernisasi dan perubahan iklim.
WWF Indonesia membawa visi yang jelas, yakni memastikan ekosistem dan keanekaragaman hayati Indonesia tetap lestari, berkelanjutan, dan dikelola secara adil. Fokusnya bukan hanya untuk hari ini, tapi demi kesejahteraan generasi mendatang.
“Kami mewujudkan misi ini melalui praktik konservasi berbasis inovasi dan kearifan lokal, membangun koalisi dengan masyarakat sipil, serta mengadvokasi kebijakan yang mendukung tata kelola lingkungan yang baik,” ujar perwakilan WWF tersebut.
Dalam paparannya, Dr. Wika mengungkap fakta-fakta mengenai Tanah Papua, di antaranya:
– Hutan Primer yang Luas
Sekitar 80% wilayah Papua atau 34 juta hektar masih berupa hutan primer.
– Gudang Karbon Dunia
Hutan ini menyimpan hingga 14 miliar ton cadangan karbon, yang berperan vital dalam menekan pemanasan global.
– Kekayaan Flora dan Fauna
Menjadi rumah bagi 20.000+ jenis tanaman, 600 spesies burung, dan 125 mamalia. Dari burung Cendrawasih yang ikonik hingga Kanguru Pohon dan Whale Shark.
– Keberagaman Budaya
Dihuni oleh sekitar 4,3 juta jiwa dengan 276 kelompok etnis (seperti Dani, Asmat, Yali, Amungme, Korowai, dan Biyak) yang memiliki keterikatan batin dengan alam.
Namun, keindahan ini menghadapi tantangan serius. Konversi lahan untuk perkebunan sawit, pembangunan infrastruktur yang tidak terawasi, serta industri ekstraktif telah menyebabkan hilangnya tutupan hutan hingga 300.000 hektar per tahun. Dr. Wika menekankan bahwa tanpa kebijakan yang tepat, kekayaan ini bisa sirna dalam sekejap.
Sebagai penutup yang penting bagi para pendidik di Timika, Dr. Wika memperkenalkan konsep Arah Pengembangan Learning Webs (Jejaring Belajar). Ini adalah peta jalan untuk memastikan masyarakat Papua memiliki kualitas hidup tinggi secara berkelanjutan.
Menurut Dr. Wika, transformasi Papua harus dimulai dari penguatan kapasitas manusianya melalui beberapa langkah strategis. Antara lain:
– Pendidikan Berbasis Keberlanjutan
Masyarakat harus dibekali dengan keterampilan hidup berkelanjutan (sustainable livelihood) dan pemahaman mendalam tentang prinsip kelestarian alam serta kearifan lokal Papua.
– Pemulihan dan Perlindungan
Pendidikan tidak hanya bicara teori, tapi mendorong aksi nyata dalam melindungi alam yang masih baik dan memulihkan lahan yang telah terdegradasi.
– Kolaborasi Multisektor
Membangun kemampuan kerja sama di berbagai tingkatan melalui pengembangan jejaring belajar dan kemitraan yang kuat.
– Penguatan “Champion” Pembelajaran
Rekrutmen dan penguatan sosok-sosok penggerak (champions) di tingkat lokal untuk menjadi mentor bagi komunitasnya.
– Inovasi Metode Belajar
Pengembangan materi, modul, dan metode pembelajaran yang kontekstual dengan kebutuhan dan karakteristik alam Papua.(***)




